Jumat, 19 Juli 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / “ Trichoderma” sebagai Biopestisida

“ Trichoderma” sebagai Biopestisida

Diposting pada 18/04/2019, 11:53 WIT


Betty Lahati.SP.MSI

Dosen Agroteknologi  Pertanian Unkhair

 

Trichoderma sp adalah Jamur antagonis yang termasuk dalam kelompok jamur yang dapat menekan/menghambat pertumbuhan dan perkembangan penyakit pada tanaman pertanian. Kemampuan dari Trichoderma sp yaitu memarasit jamur penyebab penyakit yang antagonis juga sebagai agen hayati,  karena punya kemampuan menekan atau mengendalikan atau membasmi penyebab penyakit tanaman pertanian, termasuk penyebab penyakit layu pada tanaman tomat fusarium  oxysforum.

Gejala serangan mulai terlihat saat umur 7 sampai 14 hari setelah tanam dan lebih dari 30 hari, jika terinfeksi penyakit melalui tanah. Penyakit ternyata dapat bertahan dalam tanah kemudian menyebar dan memperbanyak diri hingga akhirnya menyebabkan tanaman menjadi layu. Gejala awal penyakit layu pada tanaman tomat adalah daun menjadi pucat dan tulang daun serta tangkai  yang lebih tua merunduk. Kadang-kadang ini didahului dengan menguningnya daun. Pada tahap selajutnya tanaman menjadi kerdil dan mati. Pada  tanaman yang sakit tersebut  apabila dipotong dekat pangkal batang dan dikupas dengan pisau akan terlihat cincin berwarna coklat dari berkas pembuluh, Pada serangan berat yang terlihat adalah pembusukan jaringan pembuluh angkut, sehingga tampak kecoklatan, daun menguning dan akhirnya tanaman mati.

Tanaman yang masih muda akan mati mendadak jika  diserang penyakit ini karena, terjadi kerusakan pada pangkal dan kanker yang menggelang. Sedangkan tanaman dewasa, sering bisa bertahan hingga menghasilkan buah tetapi hasilnya sangat sedikit dan buahnya pun kecil-kecil.

Perkembangan infeksi dan penyakit layu fusarium didukung oleh suhu tanah yang hangat dan kelembaban tanah yang rendah.  Kebiasaan petani menggunakan pestisida akan mengakibatkan perkembangan penyakit pada tanaman tomat akan semakin meningkat. Sebab, efektivitas mikroba tanah untuk membunuh musuh alami/agen hayati yang bermanfaat membasmi penyakit tanaman akan berkurang. Penggunaan pestisida kimia tidak haram, jika masih dalam batas yang dianjurkan, yaitu tidak bisa berulang-ulang dalam dosis tinggi.

Dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT), tindakan pengendalian menggunakan pestisida kimia merupakan alternatif terakhir jika pengendalian hama yang lain gagal. Namun hal ini tidak di perhatikan oleh petani, karena ketidaktahuanya. Pestisida kimia yang disemprot ke tanaman meninggalkan residu (Racun) yang dapat mencemari lingkungan dan mematikan musuh alami serta mahluk hidup lainnya (hewan ternak).

Penggunaan Trichoderma sp sebagai agen hayati atau biopestisida merupakan salah satu alternatif yang dianggap aman dan dapat memberikan hasil yang cukup memuaskan dalam penanganan terpadu. Pengendalian hayati terhadap patogen dengan menggunakan mikroorganisme antagonis dalam tanah baik dikembangkan karena tidak ada  pengaruh negatif terhadap lingkungan.
Sebagaimana Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan di tingkat nasional dalam perlindungan tanaman dengan menggalakkan program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 1995 menyatakan bahwa pemanfaatan agens pengendali hayati atau biopestisida. 

Biopestisida adalah bahan yang berasal dari alam, seperti mikroba di tanah-tanah pertanian. Ini juga solusi ramah lingkungan dalam rangka menekan dampak negatif akibat penggunaan pestisida kimia berlebihan.

Trichoderma sp  adalah agen hayati/biopestisida yang banyak terdapat pada lahan pertanian. Namun belum banyak yang mengetahui cara mendapatkan, membuat dan mengaplikasikannya pada tanaman pertanian. Berdasarkan penelitian Betty Lahati (2016) yang telah diuji di laboratorium, terkait dengan penyakit layu fusarium di tanaman tomat. ada beberapa tahapan dalam membuat Trichoderma sebagai agen hayati yang ramah lingkungan. Diawali dengan pengambilan sampel tanah yang berada di lahan Tomat. Tanah diayak, timbang menggunakan timbangan analitik sebanyak 10g, selanjutnya dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 10ml air steril. Tabung reaksi yang berisi tanah dihomogenkan pada vorteks selama 10 menit, ambil 1 ml larutan pada tabung reaksi yang sudah dihomogenkan (vorteks) lalu masukkan ke dalam air steril 9 ml. Proses yang sama dilakukan hingga tabung reaksi ke 9. Selanjutnya ambil 1 ml pada tabung reaksi ke 9 teteskan pada media PDA kemudian diinkubasi. Selanjutnya identifikasi secara makroskopis untuk mengamati jamur yang terbentuk pada media.  Setelah itu, diperbanyak pada media beras dan siap diaplikasikan di lahan tomat.

Berdasarkan pengamatan penggunaan agen hayati Trichoderma dalam mengendalikan penyakit layu Fo, Trichoderma dapat menekan laju infeksi Fo apalagi digunakan dalam dosis tinggi dan jika  diaplikasikan berulang- ulang maka penyebaran infeksi Fo bisa ditekan.

Trichoderma Merupakan biopestisida dalam mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman. Penggunaan biopestisida ini sudah dikenal dan diterapkan oleh nenek moyang sebagai salah satu kearifan lokal namun, sangat disayangkan kearifan lokal ini banyak  dilupakan. Olehnya itu, perlu ada pengendalian yang ramah lingkungan seperti penggunaan agen hayati atau biopestisida Trichoderma sp dalam mengendalikan penyakit khususnya layu Fusarium Oxysporum dan jenis penyakit tanaman pertanian lainnya.

Demikian ulasan singkat terkait topik pada edisi kali ini. Semoga bermanfaat dan menjadi pembelajaran bersama.  (tr-04/nty)
     

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan