Senin, 16 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / POLITIK / Wagub Terpilih Sekeluarga Mengamuk di TPS

Wagub Terpilih Sekeluarga Mengamuk di TPS

Diposting pada 18/04/2019, 14:33 WIT
M. Al Yasin
M. Al Yasin

TERNATE – Di tengah proses penghitungan suara hasil pemilihan umum 2019, insiden tak mengenakkan terjadi di Weda, Halmahera Tengah. Insiden ini melibatkan Wakil Gubernur terpilih Maluku Utara yang juga Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, M. Al Yasin Ali dan anak istrinya. Video Al Yasin sekeluarga memarahi seorang pengawas tempat pemungutan suara (TPS) itu pun sempat viral di media sosial.

Dalam video tersebut, Yasin, istrinya Muttiara T. Yasin dan putri mereka Astrid Tiara Yasin tampak meneriaki Koordinator Divisi Hukum Panwascam Weda, Ahmad Marasabessy. Kejadian tersebut terjadi di TPS 04 Desa Fidijaya Kecamatan Weda. Tampak Yasin memaki petugas tersebut dengan bahasa yang kurang pantas. “Ngana talama kita pukul pa ngana. Cukimai. Bodoh! Goblok!” semburnya.

Muttiara yang juga politikus PDI Perjuangan bahkan menuding Marasabessy sebagai penyelenggara titipan. Ia menuduh Marasabessy berusaha menggagalkan pemilu. “Ngana mengganggu jalannya pemilu. Ngana mencoba menggagalkan pemilu. Ngana ini Panwas titipan ngana!” ujarnya sambil menunjuk-nunjuk si petugas dengan telunjuknya.

Sementara Astrid yang merupakan calon anggota legislatif DPRD Malut berstatus petahana juga ikut menumpahkan kemarahannya. Ia berkata memprotes langkah Marasabessy yang melarang saksi PDIP masuk ke TPS lantaran mengenakan baju berwarna merah.

Al Yasin bahkan berusaha memukul petugas tersebut sebanyak dua kali. Namun cepat dihalangi putrinya. Sekali waktu tangannya hanya mengenai topi Marasabessy.

Yasin yang belakangan diwawancarai awak media mengaku merasa tersinggung lantaran saksi PDIP yang berbaju putih-merah diharuskan mengganti bajunya. Padahal pada baju tersebut njuga tidak memuat logo partai. "Mereka hanya gunakan baju warna merah dan putih, kok disuruh ganti? Jelas saya tersinggung," ujarnya. “Saya selaku Ketua TKD sangat kesal karena menyiapkan baju (untuk saksi) tetapi disuruh buka oleh Panwascam untuk memakai pakaian biasa. Padahal kaos yang dipakai saksi kami bukan atribut partai.”

Mantan Bupati Halteng ini menilai Badan Pengawas Pemilu tidak netral dalam menjalankan tugas pengawasan. "Karena ada kendaraan roda empat yang masih dengan stiker partai dan calon yang beroperasi di tengah-tengah Kota Weda, yaitu mobil Aswar Salim dari Partai Golkar, tapi tidak ditindak. Bawaslu juga tidak netral," tudingnya.

Al Yasin juga mempertanyakan profesionalisme Bawaslu Halteng. Sebab, kata dia, ada kendaraan berlabel caleg tertentu masuk keluar TPS mengantar makanan tetapi tidak ditegur Bawaslu. “Ini tidak dilarang, tetapi kenapa kami mendapat larangan?” katanya mempertanyakan.

Pria yang akrab disapa Abah Acim ini juga menjelaskan tidak melakukan pemukulan terhadap Marasabessy. “Saya hanya pukul topinya saja,” jelasnya.

Terpisah, Ahmad Marasabessy mengaku kejadian tersebut bermula ketika ia melihat saksi PDIP menggunakan kaus mirip warna partai tersebut. “Ketika melihat itu saya langsung panggil Panwas TPS untuk menyuruh saksi parpol tersebut mengganti pakaian. Setelah itu saya langsung pergi memantau pencoblosan di TPS lain,” ujarnya.       

Tak berapa lama, ia dihubungi Panwas TPS 04 menyampaikan bahwa Ketua TKD Al Yasin Ali dan Ketua DPC PDIP Halteng Muttiara Yasin serta Astrid T. Yasin mendatangi TPS 04 dan mengintimidasi Pengawas TPS. Mendapat informasi itu, ia langsung bergegas menuju TPS 04. “Sampai di sana, saya diancam, dimaki bahkan dipukuli oleh Bapak Yasin Ali. Beruntung saya tangkis,” ungkapnya.

Marasabessy menegaskan, dalam Peraturan KPU sudah ditegaskan bahwa saksi parpol tidak bisa menggunakan baju yang mirip dengan warna partai. “Saya hanya menjalankan tugas dan menegakkan aturan,” terangnya.

Dia mengakui sejauh ini belum berpikir hendak membuat laporan polisi atau tidak atas tindakan Yasin sekeluarga itu. “Terkait pribadi saya dengan mereka saya masih menunggu pimpinan, apakah akan dilaporkan atau diselesaikan secara kekeluargaan,” tandasnya.

Lapor Polisi
Ketua Bawaslu Malut Muksin Amrin yang dikonfirmasi Malut Post menyayangkan tindakan Al Yasin tersebut. Sebagai pejabat negara, kata dia, Yasin harusnya bisa menunjukan sikap yang elegan. "Kami sangat sesalkan. Karena A. Marasabessy walau bagaimana pun dia adalah penyelenggara yang sementara jalankan tugasnya," sesalnya.

Muksin lantas membenarkan sikap tegas yang diambil Marasabessy. Menurutnya, upaya pencegahan yang dilakukan sesuai dengan PKPU nomor 9 tahun 2017, tentang pemungutan. "Dimana dalam PKPU secara tegas menyebutkan, tidak diperbolehkan saksi menggunakan atribut partai politik atau warna yang identik dengan peserta Pemilu," paparnya.

Atas tindakan Al Yasin tersebut, Bawaslu berencana melaporkan ke polisi. "Teman-teman Bawaslu di Halteng mau laporkan ke polisi. Karena Menurut mereka pukulan Al Yasin sempat kena ke Ahmad Marasabessy. Dan kami siap dampingi," tukasnya.

Senada, Ketua Bawaslu Halteng Sitti Hasma Bt menyatakan, dalam PKPU 9/2017 pasal (31) poin 4 menegaskan, saksi yang hadir dilarang menggunakan atau membawa atribut yang memuat nomor, nama, foto calon/pasangan calon, simbol gambar, partai politik atau mengenakan pakaian seragam dan/atau atribut lain yang memberikan kesan mendukung atau menolak peserta pemilu tertentu. “Pasal (31) ini, saksi dilarang memberikan kesan dukungan kepada peserta pemilu tertentu berupa atribut, simbol dan seragam. Karenanya, bagi Panwascam Weda warna kaus saksi partai ini memberikan kesan,” katanya.

Menurutnya, ini pelanggaran administrasi pemilu. Sebab, warna itu memberikan persepsi tertentu. “Kami hanya bekerja sesuai aturan. Jadi silakan dinilai sendiri,” ucapnya.  

Sementara Gubernur Abdul Gani Kasuba (AGK) yang diwawancarai di Ternate mengaku prihatin atas kejadian tersebut. AGK mengaku dirinya telah mendapat laporan dan melihat langsung video insiden tersebut. "Saya sudah tahu. Karena ini momen sehingga bisa saja kita dipancing," katanya.

Dia menyatakan, kejadian seperti itu tak perlu terjadi andai Al Yasin selaku public figure bisa menahan emosi. "Intinya kita harus mampu mengendalikan emosi. Itu harapan saya," tukasnya.(cr-01/mpf/udy/kai)

 

Share
Berita Terkait

Jokowi-Ma’ruf di Atas Angin

18/04/2019, 14:36 WIT

SS DPR RI Diduga Disembunyikan

18/04/2019, 14:25 WIT

Pemprov Dapat 378 Formasi

10/09/2018, 12:49 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan