Senin, 16 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Sakit pun Masih Ditanya: Kok Bisa Kamu Ketipu

Sakit pun Masih Ditanya: Kok Bisa Kamu Ketipu

Diposting pada 16/07/2019, 13:16 WIT
TERPINGKAL-PINGKAL: Para penonton Jambore Stand Up 2019 tertawa menikmati sajian salah satu komika di Coban Rondo, Kabupaten Malang, kemarin (13/7) Rubianto/Jawa Pos Radar Malang
TERPINGKAL-PINGKAL: Para penonton Jambore Stand Up 2019 tertawa menikmati sajian salah satu komika di Coban Rondo, Kabupaten Malang, kemarin (13/7) Rubianto/Jawa Pos Radar Malang

Mengikuti Jambore Stand Up 2019, Mendekat kepada Alam dan Kelucuan

Di tengah bumi perkemahan, antara komika dan penonton terasa dekat dan akrab. Gelak tawa jadi cara terbaik untuk mengusir dingin Coban Rondo yang sampai bikin yang nonton rela irit minum agar tak bolak-balik ke toilet.

SHABRINA PARAMACITRA, Malang

“AKHIRNYA…saya bisa merasakan apa yang dirasakan Jenderal Sudirman,” kata Dani Aditya tak lama setelah sampai di panggung. “Beliau kan dulu ke mana-mana ditandu, sekarang saya juga, ha ha ha.”
Ratusan penonton yang santai duduk lesehan pun langsung terpingkal. Bumi perkemahan Coban Rondo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang mulai disergap udara dingin Jumat sore lalu (12/7) itu pun jadi sedikit terasa hangat.
Dani, komika asal Malang yang sehari-hari menggunakan kursi roda itu, memang harus ditandu ke panggung. Sebab, kontur menuju perkemahan dipenuhi tanjakan.
Karena itulah, lanjut Dani di atas panggung, zaman sekolah dulu dirinya juga selalu absen dalam acara perkemahan. “Ini gara-gara Stand Up Indo, baru saya bisa ke sini,” ujarnya, disambut tepuk tangan 500-an penonton dan para komika lain.
Jumat sampai hari ini (14/7), dalam rangka merayakan ulang tahun ke-8, Stand Up Indo, komunitas Stand Up Comedy Indonesia, menghelat Jambore Stand Up 2019. Bekerja sama dengan Stand Up Indo Malang, acara dihelat di Coban Rondo, destinasi wisata air terjun yang juga memiliki bumi perkemahan.
Tiap kali merayakan ultah, Stand Up Indo memang selalu menggelar pentas. Konsep jambore di alam terbuka seperti yang diselenggarakan di Coban Rondo itu yang pertama mereka adakan, meski Stand Up Indo Jogjakarta pernah melakukannya.
Ada 70 komika yang tampil dari berbagai kota di Indonesia. “Ini untuk mendekatkan penonton dengan comic idolanya,” ucap Nur Kholiq, ketua panitia Jambore Stand Up 2019.
Hasilnya? Jawa Pos yang menonton pada Jumat dan Sabtu merasakan keakraban itu. Serasa camping dengan para karib yang masing-masing punya cerita pengocok perut. Saling menertawakan. Termasuk kesialan-kesialan yang dialami.
Misalnya ketika kami “menertawakan” Dewangga yang sempat kena tipu kuliah di Taiwan. Dia bercerita bagaimana para tetangga suka rasan-rasan (bergunjing) tentang kegagalannya. “Bahkan, saya sakit tifus pun, mereka yang menjenguk bukannya nanya, ‘Gimana, sudah baikan?’ Malah yang ditanya, ‘Gimana, kok bisa kamu kena tipu?'” tutur Dewangga.
Turun dari panggung, komika bisa langsung berbaur dengan penonton. Berfoto-foto atau ngobrol. Kadang cerita mereka saat lesehan malah lebih lucu ketimbang yang ditampilkan di atas panggung, he he he.
Benar-benar akrab dan dekat. Tapi, bukannya tanpa kendala. Bahkan, menurut Nur Kholiq, sebenarnya cukup sulit menggelar acara stand-up comedy di luar ruangan. Ada banyak noise yang bisa mengganggu konsentrasi penampil.
Tak sama dengan penyanyi, seorang komika butuh perhatian 100 persen dari penonton agar suasana bisa hidup. Kalau penyanyi, meski tak begitu diperhatikan oleh penonton, suasana acara bisa tetap hidup. Sebab, masih ada musik yang menemani. “Makanya, kami konsep acara ini murni stand-up comedy. Ada waktu break, ada waktu band tampil, tapi tetap komika yang tampil itu diperhatikan dengan fokus oleh penonton,” papar Kholiq.
Kendala lain acara yang berlangsung mulai siang sampai malam itu sudah pasti dinginnya Coban Rondo. Yang pernah camping di kawasan yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kota Batu tersebut pasti tahu. Apalagi di musim bediding (kemarau dingin) seperti sekarang, suhu bisa mencapai 19 derajat Celsius, bahkan lebih rendah lagi mendekati subuh.
Padahal, semua komika, kecuali Dani, dan mayoritas penonton tidur di tenda. Panitia memang menyediakan pilihan: di tenda atau resor yang masih satu kompleks. Tapi, pilih di mana pun sama: Udaranya brrr… “Dingin banget parah. Ini tempat perform aku yang terdingin sih sejauh ini,” kata Indra Jegel, komika asal Medan, Sumatera Utara.
Astrid Diniari, penonton, sampai menyiasatinya dengan menahan haus. Sesedikitnya minum. “Biar malamnya tak bolak-balik ke toilet,” kata Astrid yang datang bersama tiga kawan sesama pencinta alam dari Universitas Brawijaya, Malang.
Bayangkan, Astrid yang namanya ada “diniari (yang biasanya dingin, he he he)” saja dan seorang pencinta alam kedinginan. Apalagi yang lain. Jadi, tak heran, kebanyakan yang berada di tenda sulit tidur meski sudah memakai jaket dan sleeping bag.
Jadilah banyak yang memilih ngobrol. Sesekali sambil memegang tangan teman. Supaya merasa lebih hangat saja, bukan karena alasan lain. “Ini kalau pakai parameter AC, udah 15 derajat kayaknya,” ucap Indra Jegel.
Tapi, toh Astrid dkk serta para penonton lain merasa seru-seru saja. Kegembiraan Astrid bertambah karena sempat bertemu komika idolanya, Uus. Sudah pasti berfoto-foto juga. “Seneng banget. Udah gitu, bisa camping sama temen-temen lagi,” katanya.
Dengan kata lain, tercapai sudah keinginannya. Dari sekian banyak orang di Coban Rondo itu, mungkin hanya Dani yang cita-citanya belum kesampaian.
Apa? “Saya ingin ke Coban Rondo,” katanya kepada Jawa Pos, menyebut air terjun yang letaknya agak jauh dari lokasi perkemahan itu. “Naik trail,” lanjut komika yang tak bisa naik motor tersebut.
Sepanjang gelaran Jambore Stand Up 2019, banyak sekali materi candaan yang “nyerempet-nyerempet” yang dibawakan komika. Tapi, bagi sebagian penonton, justru dark jokes itulah yang mereka cari.
Kania Dila, contohnya. Mahasiswi salah satu universitas di Surabaya itu datang ke Jambore Stand Up 2019 untuk menikmati yang nyerempet-nyerempet tadi.
Kania yang datang bersama sejumlah kawan bisa terbahak-bahak menikmati materi tentang, misalnya, menopause. Padahal, dia perempuan. Dia juga mempunyai ibu yang sudah menopause. “Memang beginilah penonton stand-up comedy yang sesungguhnya. Menertawakan hal-hal yang mungkin cuma komunitas stand-up dan penonton stand-up saja yang paham,” kata dia.
Kalau ada penonton yang tersinggung atau tidak bisa menerima jokes dari komika yang tampil off air alias bukan di televisi yang banyak sensor, berarti itu adalah penonton baru. Cupu, begitu sebut Kania.
Kania dulu memang rajin menemani kekasihnya open mic di Surabaya. Kebetulan, mantan kekasih Kania bergabung dengan komunitas stand-up di ibu kota Jawa Timur tersebut.
Meski sudah putus dari pacarnya itu, Kania tetap senang menyimak stand-up comedy secara off air. Dia bisa bebas menikmati dark jokes, entah itu soal seks, ras, dan lain-lain.
Jokes soal seks pun bisa dinikmatinya dengan santai. Hal-hal yang lebih “ringan” seperti kemiskinan, kesialan seseorang, kebodohan politikus, dan lain-lain juga menjadi materi yang disukai gadis 21 tahun itu.
Untung, semua penonton yang hadir dalam Jambore Stand Up memahami aturan dari panitia: dilarang upload video penampilan komika ke media sosial. Hal itu dilakukan untuk menjaga agar tidak ada netizen yang tersinggung. “Maklumlah, hal-hal sensitif kan kita harus kompak, sama-sama saling menghindari masalah. Zaman gini ya, mahabenar netizen dengan segala komentarnya. Hahaha,” sambung Kania.
Indra Jegel mengamini itu. Komika jebolan salah satu ajang pencarian bakat di salah satu televisi swasta itu mengaku lebih bebas tampil di acara off air. Contohnya, ya di Jambore Stand Up 2019 ini. “Kita memang harus bisa membedakan mana materi yang bisa dibawakan di TV, mana yang bisa dibawakan di depan penonton yang benar-benar penikmat stand-up comedy. Mana materi yang bisa dibawakan di acara nasional, mana materi yang bisa dibawakan di depan penonton di daerah,” urainya.
Sepanjang acara berlangsung pada Jumat (12/7) dan Sabtu (13/7), Jawa Pos mencatat banyak konten sensitif yang disampaikan, mulai soal seks, agama, suku, hingga warna kulit. Tapi, rata-rata penonton yang hadir merespons dengan tawa materi candaan tersebut.
Memang demikianlah stand-up comedy. Berangkat dari keresahan sosial, lalu dikemas menjadi sebuah guyonan yang menghibur tetapi tetap kritis. Seperti kata penulis Prancis Andre Breton, dark comedy bisa menawarkan rasa lega meski hadir dari keresahan dan ketidaknyamanan.
Nur Kholiq, ketua panitia acara, mengatakan penonton yang datang ke acara-acara stand-up comedy off air biasanya bisa menikmati jokes yang disampaikan komika, termasuk ketika jokes itu cenderung dark atau blue comedy. Sebab, para penonton itu juga merasakan keresahan sosial yang sama dengan komika, dan ingin menertawakan keresahan-keresahan sosial itu bersama-sama. Mereka hanya ingin tertawa, tanpa ada tendensi ofensif kepada pihak mana pun.(jpc/kai)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan