Sabtu, 14 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / / Gadis Hilang Ditemukan Tewas Mengenaskan

Gadis Hilang Ditemukan Tewas Mengenaskan

Diposting pada 24/07/2019, 14:22 WIT
SADIS: Jenazah Gamaria W. Kumala alias Kiki (18) yang dibuang di semak belukar saat dievakuasi petugas forensik, Kamis (18/7). Foto lain, pelaku pembunuhan Kiki, Ronal Musa alias Onal (37) saat diamankan di penjara POLRES HALTENG
SADIS: Jenazah Gamaria W. Kumala alias Kiki (18) yang dibuang di semak belukar saat dievakuasi petugas forensik, Kamis (18/7). Foto lain, pelaku pembunuhan Kiki, Ronal Musa alias Onal (37) saat diamankan di penjara POLRES HALTENG

WEDA – Gamaria Wahab Kumala alias Kiki (18), gadis asal Desa Tahane, Kecamatan Malifut, Halmahera Utara yang sempat menghilang ditemukan tak lagi bernyawa. Kondisi tubuhnya mengenaskan dan nyaris tanpa busana. Ia diduga diperkosa sebelum akhirnya dibunuh dan mayatnya dibuang di semak belukar.
Tubuh Kiki ditemukan di semak belukar dekat Dusun Lokulamo, Desa Waibulen, Kecamatan Weda Tengah, Halmahera Tengah, Kamis (18/7) sekira pukul 8 pagi. Ia pertama kali ditemukan Yosina Takuling (37), warga Desa Waikob yang pergi ke kebun.
Saat hendak mengambil tanaman sirih yang ada di kebun orangtuanya di dekat Dusun Lokulamo, Yosina melihat gulungan terpal cokelat. Penasaran, ia pun mengorek terpal tersebut dengan kakinya. Begitu gulungan terbuka, muncul kaki manusia dari dalamnya. Yosina yang kaget bukan kepalang pun berlari ke kampung dan melaporkan temuan mayat itu pada warga kampung.
Ketika ditemukan, kondisi mayat nyaris tanpa busana. Celana //jeans// yang dikenakan terlepas, menyisakan blus bermotif garis-garis. Bagian wajah membengkak dan menghitam, serta terdapat bekas lilitan di leher yang hampir membuat kepala dengan tubuh korban terpisah.
Peristiwa itu sampai ke telinga pihak kepolisian. Personel Polres Halteng pun turun untuk mengevakuasi mayat dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Mayat lalu dibawa ke RSUD Weda untuk diidentifikasi dan visum.
Temuan mayat tersebut lantas dikaitkan dengan hilangnya gadis asal Tahane, Malifut, Gamaria W. Kumala alias Kiki (18). Dara yang baru saja lulus SMK Negeri 2 Halut ini dilaporkan hilang sejak Selasa (16/7).
Ihwal hilangnya Kiki dimulai ketika pada Selasa pagi ia dilepas ibunya, Acam, dan salah satu kakaknya menuju Sofifi. Anggota Paskibra itu hendak menyeberang ke Ternate untuk melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Saat tengah menunggu mobil angkutan yang akan mengantarnya ke Sofifi, sebuah Xenia berhenti di hadapan mereka.
Sang sopir yang diduga Ronal Musa alias Muhammad Irwan alias Onal (37) lantas menawarkan mengangkut Kiki ke Sofifi. Mobil bernomor polisi DG 1754 KF itu masih kosong, belum ada satu pun penumpang didalamnya. Si sopir beralasan akan mencari penumpang tambahan dalam perjalanan ke Sofifi. Tanpa curiga, Acam melepas putri bungsunya itu mengejar cita-citanya.
Tak ada yang tahu persis apa yang terjadi selanjutnya. Yang diketahui keluarga, selang beberapa jam kemudian nomor ponsel Kiki tak bisa lagi dihubungi. Tak aktif. Keluarga di Ternate dihubungi, hasilnya sama; Kiki tak pernah tiba.
Keluarga lantas melaporkan hilangnya Kiki ke polisi. Keluarga besar bungsu dari 8 bersaudara itu juga aktif melakukan pencarian. Termasuk menelusuri identitas sopir yang mengantarkan Kiki ke Sofifi.
Esoknya, Rabu (17/7) sore, identitas sopir dikantongi keluarga. Onal alias Irwan, warga Desa Lelilef, Weda Tengah, yang diketahui telah menikahi seorang perempuan asal Desa Makaeling, Kecamatan Kao Teluk, Halut. Onal bekerja sebagai sopir pengantar karyawan PT Nusa Halmahera Minerals, namun di waktu lowong menjadi sopir lintas Tobelo-Sofifi.
Kepala Desa Tahane, Rafid U. Basarun yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Kiki bersama keluarga lainnya mendatangi kediaman istri Onal. Sang istri yang tengah hamil mengaku tak tahu keberadaan suaminya. Tapi ia mengaku pada Rabu pagi suaminya masih memperbaiki sepeda motor di bengkel samping Pos Kostrad Dum Dum. Setelah itu Onal kembali mengambil baju-bajunya dan mengaku pada sang istri harus melarikan diri lantaran telah menabrak mati seseorang. “Jadi Onal ini baru menikah dengan istrinya sekitar 4 bulan,” ungkap Camat Malifut, Abd Muis Andi kepada Malut Post.
Foto Onal lantas disebarluaskan keluarga lewat media sosial. Kaburnya ia menguatkan dugaan keterlibatannya dengan hilangnya Kiki. Polisi juga bergerak cepat.
Kamis pagi begitu mayat yang ditemukan di semak belukar tiba di RSUD Weda, kerabat Kiki yang bermukim di Weda langsung melakukan identifikasi. Ketakutan keluarga akhirnya jadi kenyataan. Mayat itu dipastikan adalah Kiki. Baju dan kalung milik korban menguatkan hal tersebut. “Melihat ciri-cirinya ternyata benar dia adalah kiki,” ungkap Rafid kemarin.
Pada saat yang hampir bersamaan, kepolisian Tidore Kepulauan menangkap Onal. Ia diamankan di Kelurahan Dokiri, Kecamatan Tidore Selatan. Onal lalu digelandang ke TKP penemuan mayat di Halteng.
Kapolres Tikep AKBP Doly Heriyadi saat dikonfirmasi membenarkan penangkapan tersebut. Menurutnya, setelah mendapat informasi dari masyarakat, pihaknya kemudian mengamankan pelaku di salah satu tempat di Dokiri. Penyidik Reskrim yang dipimpin Kasat Reskrim langsung melakukan proses penyelidikan lebih mendalam. "Ini kita masih dalami, masih kita kejar informasi perkembangannya, karena penangkapan juga baru tadi pagi (kemarin, red). Dengan harapan ini bisa menjadi terang," katanya.
Doly mengaku masih berkoordinasi dengan Polres Halteng terkait penanganan kasus tersebut ke depan. Pasalnya, lokasi temuan mayat ada di Halteng, namu pembunuhan diduga terjadi di Sofifi, Tikep. Doly juga meminta masyarakat maupun keluarga korban untuk menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus tersebut kepada kepolisian. Ia berjanji polisi tetap bekerja dengan profesional guna mengungkap kasus tersebut secara terang-benderang. "Hukum tetap kita tegakkan dengan seadil-adilnya apabila pelaku terbukti melakukan perbuatannya. Percayakan sepenuhnya kepada kami untuk mengungkapnya," ujarnya.
Belakangan, kepada polisi Onal mengaku telah membunuh Kiki. Gadis yang berulangtahun tiap 12 Desember itu dihabisi di mobil saat berada di Sofifi. Onal menghabisi Kiki dengan cara melilit lehernya dengan karet peredam yang ada di pintu mobil. “Selanjutnya mayat korban dibawa ke Dusun Lukolamo dan dibuang,” ungkap Kasat Reskrim Polres Halteng Iptu A. Effan Sulaiman.
Kondisi Kiki yang setengah telanjang saat ditemukan membuat publik berspekulasi ia diperkosa sebelum jasadnya dibuang. Namun pihak berwajib belum bisa memberikan konfirmasi atas dugaan tersebut. Begitu juga motif pelaku menghabisi nyawa korban dengan sadis. “Untuk indikasi selain pembunuhan belum bisa diketahui karena masih menunggu hasil autopsi yang keluar besok (hari ini, red),” tambah Effan.

Blokade Jalan// sub
Jenazah Kiki sendiri langsung dipulangkan ke Malifut usai autopsi malam tadi. Ratusan kerabat dan warga setempat menyambutnya dengan tangisan. Di lingkungannya, putri bungsu Acam dan Wahab Kumala ini dikenal sebagai gadis penurut dan santun. Ia juga aktif sebagai anggota Paskibra.
Tahun ini, Kiki seharusnya melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Ia sudah berancang-ancang kuliah di Universitas Khairun. Sang ibu bahkan telah menelepon salah satu sepupunya yang merupakan dosen di Unkhair untuk membantunya mendaftarkan diri.
Kematian Kiki yang tragis membuat publik terhenyak. Dinding akun Facebook-nya, Kiky Kumala, dipenuhi ucapan dukacita dan kehilangan, sebagian dari orang yang mungkin tak pernah dikenalnya seumur hidup. “Walau tidak kenal, hati kami ikut pedih mendengar tragedi ini,” tulis banyak akun di linimasa FB.
Pihak keluarga dan kerabat bereaksi serupa dengan kematian Kiki. Warga Desa Payahe, Kecamatan Oba, Tikep yang didiami komunitas Tahane memblokade jalan utama di desa mereka yang menghubungkan Halteng dan Sofifi. Warga yang murka bermaksud mencari pelaku pembunuhan dan melampiaskan kemarahan mereka. Tiap mobil yang lewat di jalan tersebut diberhentikan dan diperiksa isinya. “Kami rencana blokade jalan sampai besok (hari ini, red), sampai dapat dia (pelaku, red),” ungkap Rafit Kader, salah satu warga.
Aksi blokade jalan juga terjadi di Desa Tahane yang menghubungkan Tobelo-Sofifi. Warga menuntut agar pelaku diproses di Halut alih-alih diserahkan ke Polda Maluku Utara atau Polres Tikep maupun Polres Halteng.
Plt Kapolsek Malifut Ipda Kolombus Guduru pun berupaya menenangkan massa. Dia mengatakan penanganan kasus tersebut diserahkan sepenuhnya ke penyidik Polri. "///Basudara/// semua tahu bahwa saat ini pelaku sudah diamankan artinya pelaku sudah ditangkap. Makanya, terkait penanganannya (dipusatkan) di Polri," katanya. "Tolong dipahami bahwa Polres Halut menangani kasus membawa lari anak gadis orang, sedangkan kasus pembunuhannya ditangani oleh Polres Halteng," jelasnya.
Menurut Kolombus, temuan mayat terjadi di wilayah Halteng. Namun tak menutup kemungkinan Polda mengambilalih kasus tersebut. "Saya bermohon serahkan penuh kasus ini kepada Polri dan tidak usah lagi blokir jalan seperti ini," pintanya.
Aksi blokir jalan baru dihentikan setelah polisi bernegosiasi dengan tokoh masyarakat Tahane.
Kekhawatiran akan potensi adanya tindak main hakim sendiri tampaknya membuat polisi begitu berhati-hati mengamankan keberadaan pelaku. Usai olah TKP kemarin, keberadaan pelaku tak tercium awak media. Pihak Polres Halteng, Tikep maupun Polda Malut saling tolak terkait posisi pelaku diamankan. Pengawalan terhadap pelaku juga dilakukan tim gabungan Polda dan Polres. Informasi yang diperoleh Malut Post, pagi ini Polres Tikep bakal menggelar konferensi pers terkait pengembangan kasus tersebut.
Sementara itu, komunitas warga Tahane, Kapita Tahane, mendesak kepolisian memberikan hukuman seberat-berat dan seadil-adilnya terhadap terduga pelaku pembunuh Kiki. Dewan Pengurus Kapita Tahane menyatakan, ancaman hukuman maksimal berupa hukuman mati layak diberikan pada pelaku. “Kami juga memohon semua Keluarga Besar Kapita Tahane agar sabar mengawal proses hukum yang saat ini berlangsung di kepolisian, Kejaksaan maupun nanti di Pengadilan seraya terus mendoakan almarhumah, serta mengimbau seluruh masyarakat agar menjadikan kasus ini sebagai pelajaran berharga agar lebih berhati-hati menjaga dan mengawasi putra-putrinya agar tindak kriminal seperti ini dapat dihindari di masa mendatang,” tandas Ketua Harian Dewan Pengurus Kapita Tahane, Ikhi Sukardi Husen.(mpf/cr-03/cr-04/kai)

Share
Berita Terkait

Panwascam Temukan Pemilih Ganda

05/04/2018, 12:34 WIT

18 Perusahaan Beroperasi di Halteng

28/03/2019, 12:18 WIT

WBN Siap Serap 15 Ribu Tenaga Lokal

31/08/2018, 12:40 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan