Senin, 09 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / / Lahir di Tengah Gempa

Lahir di Tengah Gempa

Diposting pada 24/07/2019, 14:21 WIT
BAYI TANGGUH: Elvira Iskar menggendong bayinya yang lahir di tengah guncangan gempa susulan.
BAYI TANGGUH: Elvira Iskar menggendong bayinya yang lahir di tengah guncangan gempa susulan.

ELVIRA Iskar (19), warga Desa Saketa, Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan, terpaksa melarikan bayinya ke lokasi pengungsian di hutan sesaat setelah melahirkan, Rabu (17/7). Saat terjadi gempa bermagnitudo 7,2 Skala Richter, Minggu (14/7) sore, Elvira menyelamatkan diri dalam kondisi hamil besar. Ia harus pula menyelamatkan putri sulungnya lantaran sang suami tengah bekerja di luar Maluku Utara.
Bersama empat kepala keluarga (KK) lainnya, Elvira mengungsi ke Gunung Mangga yang letaknya 6 kilometer dari kampung. Pada Selasa (16/7) malam, ia mengalami kontraksi dan harus dipapah turun ke kampung. Elvira lalu dirujuk ke Puskesmas Saketa untuk melahirkan. Bayi laki-lakinya lahir dengan selamat Rabu pukul 5 pagi. “Pertama saya dibawa ke Posko Kesehatan, tapi lalu dievakuasi ke Puskesmas,” tuturnya saat ditemui Malut Post di pengungsian, Kamis (18/7).
Hanya dalam hitungan jam pasca melahirkan, Elvira menggendong bayinya yang masih merah dan berjalan kembali ke pengungsian. Gempa susulan yang terus terjadi membuat ia trauma berada di dalam ruangan.
Malangnya, hingga kini Elvira dan pengungsi lainnya di lokasi tersebut belum tersentuh bantuan. Lima KK yang ada di Gunung Mangga harus membeli beras sendiri dari kampung. Sedangkan untuk air minum mereka mengonsumsi air kali di hutan. “Kami mengungsi sejak gempa besar hingga sekarang berarti sudah lima hari di hutan. Sampai saat ini belum ada bantuan yang datang,” ungkapnya.
Elvira menuturkan, ia sangat membutuhkan keperluan bayi, terutama pakaian. Kebutuhan bayi yang sudah disiapkan sebelumnya ikut hancur bersama rumah mereka. “Untuk pakaian anak kami yang baru lahir ini kami harus ke kampung untuk membeli meski masih ada rasa khawatir dengan gempa,” katanya.
Nihilnya bantuan yang datang membuat Elvira dan pengungsi lain juga mengharapkan datangnya makanan, air bersih, pakaian serta selimut. Apalagi saat ini kerap turun hujan. “Karena malam itu sangat dingin ditambah musim hujan. Saya pe bayi dingin,” ucapnya sembari memandangi bayi yang belum diberi nama itu.
Bayi lain yang harus berjibaku dengan situasi gempa adalah putra Risna Muksin dan Ramli Larabe, warga Desa Balitata, Gane Barat. Risna melahirkan 2 jam sebelum gempa hebat mengguncang Halsel. Uniknya, bayi laki-laki itu diberi nama Bahrain yang mengacu dari nama Bupati Halsel Bahrain Kasuba.
Risna menuturkan, anak kelimanya itu dinamakan usai Bahrain Kasuba dan istrinya Nurlaila Muhammad mengunjungi lokasi pengungsian mereka. Rumah yang rusak membuat mereka masih bertahan di lokasi pengungsian hingga kini. “Pas Pak Bupati datang ke lokasi pengungsian, dan anak kami langsung diberi nama Bahrain Ramli," ucapnya.(sam/kai)

Share
Berita Terkait

Lahir di Tengah Gempa

24/07/2019, 14:21 WIT

Video Mesum Siswi SMP Tersebar

12/01/2019, 11:46 WIT

Mahasiswi Tewas Saat Memotret

06/03/2018, 12:01 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan