Selasa, 10 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Tolak Beasiswa ITB Hanya untuk Kuliah di Luar Negeri

Tolak Beasiswa ITB Hanya untuk Kuliah di Luar Negeri

Diposting pada 24/07/2019, 14:03 WIT
Winda Angela bersama Menteri Kominfo Rudiantara
Winda Angela bersama Menteri Kominfo Rudiantara

Cerita Winda Angela, Putri Obi yang Kuliah di IIIT Bangalore, India

Keinginan untuk belajar di luar negeri pasti ada jalannya. Ini yang dilakoni Winda Angela Hamka, lajang asal Madopolo, Obi Utara, Halmahera Selatan yang sukses kuliah di luar negeri setelah beberapa kali proposal beasiswanya ditolak.

Bukhari Kamaruddin, Ternate

WINDA Angela saat ini sudah berada di Bangalore, India. Dia sementara melakukan pengurusan untuk kuliah di International Institute of Information Technology (IIIT) Bangalore. Putri petani cengkeh Hamka Murdjan, berhasil mendapat beasiswa dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk belajar di Universitas yang sudah menghasilkan CEO Google, Sundar Pichai.
Kepada Malut Post, Winda mengaku keinginannya untuk belajar di luar negeri sudah lama diimpikan saat masih semester III Politeknik Wiratama Ternate. Saat itu, Winda sudah mandiri, karena dia membiayai kuliahnya sendiri dengan bekerja sebagai layouter Harian Malut Post. Winda kemudian melanjutkan S1 di ITB Bandung. Setelah lulus, dia sempat dua kali mendapat beasiswa magister untuk kuliah di Indonesia termasuk di ITB, namun ditolaknya. “Sebab saya ingin melanjutkan studi keluar negeri,” katanya.
Meskipun lima kali usulan beasiswa kuliah di luar negeri yang diajukannya ditolak, namun dia pantang mundur. "Pastinya tidak mudah menolak beasiswa magister di ITB, bahkan ayah saya cukup kecewa dengan keputusan saya saat itu," ujar Winda saat diwawancarai via Skype.
Dia menuturkan, butuh kerja keras agar bisa mendapatkan beasiswa keluar negeri. Akses terhadap informasi dan tempat kursus beserta tes bahasa Inggris di Maluku Utara yang tidak banyak, menjadi kendala tersendiri terutama pemahaman akan jurusan dan karier yang ingin dicapai. Karena itulah ia memutuskan bekerja di Jakarta sembari mencari beasiswa. "Tahun 2016 belum banyak akses informasi mengenai beasiswa luar negeri di Ternate, kalaupun ada informasi tersebut hanya berputar pada institusi negeri,” tuturnya.
Namun semenjak tahun 2017, informasi beasiswa sudah mulai tersebar karena adanya sosialisasi baik dari LPDP, Australia Award ataupun New Zealand Scholarship di Ternate. Apalagi akan ada Festival Beasiswa pada tanggal 8 Agustus ini di Unkhair yang didukung oleh Mata Garuda (organisasi alumni LPDP). "Saya harap kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh scholarship hunter di Maluku Utara untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin dan fokus terhadap pencapaian setelah selesai belajar agar tidak kembali dengan sia-sia," harapnya.
Info beasiswa kuliah di India Winda dapatkan melalui akun-akun Instagram yang selalu diikuti setiap hari, hingga akhirnya mendapatkan info beasiswa Kemenkominfo. Negara yang dibuka untuk beasiswa Kemenkominfo yaitu Cina dan India. Di Cina terdapat dua konsentrasi jurusan, yaitu Public Administration dan Data Science di Tsinghua University. Sedangkan di India hanya membuka jurusan Digital Society di IIIT Bangalore. Banyak keraguan yang dia dapatkan saat akan melamar beasiswa ini, baik dari waktu yang sangat sedikit untuk persiapan berkas dan negara yang dituju. “Namun setelah saya melakukan riset, India dan Cina merupakan tempat terbaik untuk belajar ekonomi digital yang menjadi landasan dari tujuan beasiswa ini, apalagi Bangalore terkenal sebagai Silicon Valley-nya India, dan GDP India banyak disumbang oleh IT Industri. Belum lagi kualitas pendidikan India yang sekelas Eropa serta biaya hidupnya yang relatif murah," papar perempuan berpenampilan energik ini.
Diakuinya, sekalipun berkas yang diminta tidak terlalu rumit, tahapan untuk mendapatkan beasiswa ini tidak mudah. Terdapat empat kali tahapan seleksi yang harus dilalui baik itu dari Kemenkominfo ataupun dari kampus penerima mahasiswa. Tiga tahapan terakhir merupakan tes terberat, karena terdapat tes Bahasa Inggris yang dibuat dengan aksen India, kemudian tes wawasan IT dan interview dari dosen-dosen di kampus tersebut. "Penguji ingin memastikan bahwa saya tahu jurusan yang dilamar, dan goals saya mendatang, saya rasa ini tahap penting bagi mereka dalam mengenal saya," tuturnya.
Winda menerangkan, selain awalnya ia ragu dengan negara yang ia pilih untuk melamar beasiswa, ia juga ragu untuk dengan jurusan yang dipilih. Dia bahkan hanya fokus mencari beasiswa di Selandia Baru karena ingin belajar dan menikmati suasana alam di sana. Namun hal ini tercerahkan saat mendapatkan beasiswa mengenai pembangunan digital ecosystem di Binar Academy Yogyakarta yang didirikan oleh former Vice CEO Gojek, Alamanda Shantika. "Dari pengalaman saya saat bercerita dengan beberapa scholarship hunter lain, banyak penerima beasiswa hanya fokus pada jalan-jalan dan tidak memikirkan goals-nya, sehingga pulang ke Indonesia tanpa tujuan dan menganggur karena terbeban oleh degree-nya,” jelas  Winda. Hal itulah yang harus dihindari, agar waktu tidak terbuang dan pastinya dia tidak ingin menyia-nyiakan uang negara yang dititipkan kepadanya.
Sebagai seseorang juga pernah mengajar pada bidang IT di Ternate, Winda juga menyadari pentingnya pengelolaan SDM IT yang melimpah ruah namun belum banyak diberdayakan. Padahal banyak sekali permasalahan yang bisa dijadikan potensi bisnis di bidang IT. “Karena itu tujuan saya selanjutnya ialah membangun tech-startup untuk daerah timur. Saya yakin Bangalore akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya butuhkan," katanya.
Winda sudah sepekan berada di Bangalore. Budaya dan makanan menjadi kendala pertama saat mencoba beradaptasi. Namun karena kampusnya merupakan kampus international, ia tidak perlu repot dengan makanan, tempat tinggal dan keamanan. "Mengenai makanan cukup enak, menu kantin saya hanya melayani vegetarian sehingga aman bagi saya yang muslim, semua makanan berasa kare tapi bukan kare seperti di Indonesia. Di sini juga sudah menerapkan //go green// karena itu sulit menemukan kantong plastik,” jelasnya. Supermarket hanya menyediakan tas kain, itupun harus bayar.
Kemudian Distrik kampusnya sangat aman karena berada di tengah perusahaan-perusahaan internasional yang memiliki pengawasan ketat. Tentara selalu berpatroli. Di sebelah kampus terdapat kantor Siemens dan di depan kampus terdapat kantor Infosys. Kebersihan jalan dan lalu lintas sangat terjaga, sehingga Winda seperti merasa tidak berada di India yang terkenal dengan kekacauan lalu lintasnya.
Dia menambahkan sebelum ke India, mereka dilepas Menkominfo Menteri Rudiantara. Beliau berpesan agar penerima beasiswa tidak hanya berfokus dengan nilai kuliah, namun juga menjaga relasi selama di kampus, karena institusi tersebut merupakan tempat bergengsi di India dan menghasilkan banyak pekerja di perusahaan besar. “Saya sendiri melihat kompetisi yang nyata antarmahasiswa lokal, agar mulai dilirik oleh perusahaan sekelas Microsoft yang biasa berkunjung untuk pencarian talenta di kampus ini. Harapannya saya bisa bersosialisasi dengan mahasiswa jurusan lain sebanyak-banyaknya selama berada di sini,” pungkasnya.(onk)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan