Sabtu, 14 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Gus Mus Hadir demi Utang Kata Mata Keranjang

Gus Mus Hadir demi Utang Kata Mata Keranjang

Diposting pada 25/07/2019, 14:17 WIT
MAESTRO SENI: Remy Sylado merayakan usia 74 tahun dengan pameran di Balai Budaya, Menteng, Jakarta Imam Husein
MAESTRO SENI: Remy Sylado merayakan usia 74 tahun dengan pameran di Balai Budaya, Menteng, Jakarta Imam Husein

Remy Sylado, Peringati Ultah dengan Pameran

Remy Sylado dilahirkan dengan banyak sekali kemampuan. Melukis jago, menulis bisa, menyanyi pun mahir. Dia juga merupakan ahli bahasa. Mengutip Gus Mus, Remy adalah makhluk langka yang mungkin stoknya di dunia ini sudah habis.

AGAS PUTRA HARTANTO, Jakarta, Jawa Pos

PULUHAN karya seni Remy Sylado terpajang di Balai Budaya, Menteng, Jakarta. Mulai lukisan, buku, hingga diskografi. Lokasi pameran untuk memperingati hari jadi Remy yang ke-74 itu tak pernah sepi. Meski juga tak ramai sekali. Hanya saat malam pembukaan pada 11 Juli lalu sepanjang Jalan Gereja Theresia itu penuh sesak. Mobil, motor parkir berjejer di tepi jalan. Tamu meluber. Para tokoh beragam latar hadir.
Dalam dinding auditorium tersebut terpampang 32 lukisan Remy. Paling lawas garapannya pada 1982. Remy lalu menunjuk tiga lukisan terbaru yang tuntas dikerjakannya akhir Juni lalu. Seluruhnya bergambar geisha. “Ini adalah sindiran saya untuk orang Indonesia,” kata pria kelahiran Makassar, 12 Juli 1945, itu.
Menurut dia, orang Indonesia adalah tawanan kebudayaan Jepang. Terangsang oleh kemajuan teknologinya. Gambar geisha dengan dada sedikit terbuka menggambarkan keseksian teknologi Jepang. “Lihat saja, banyak kendaraan bermotor buatan Jepang yang wara-wiri di jalanan,” ujarnya.
Di sisi lain, intelektual Indonesia sering sok berkiblat ke Prancis. Mulai trias politika, pergerakan revolusi, hingga rasa seni. “Makanya, saya torehkan gambar tiga pita bunga dengan warna biru, putih, merah. Warna bendera bangsa Prancis,” terang pria dengan nama lahir Yapi Panda Abdiel Tambayong tersebut.
Lukisan itu mulai dibuat Maret. Namun, di tengah pengerjaan, Remy masuk rumah sakit. Terkena gejala stroke. Dia rawat inap lima hari dari 17 April. Pulang, Remy harus istirahat total. Baru setelah benar-benar dinyatakan pulih, Remy melanjutkan lukisan itu.
Selain lukisan, ada 31 buku novel dan roman populer karyanya. Di antaranya, Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, Pangeran Diponegoro: Menuju Sosok Khalifah, dan Sam Po Kong. Remy juga menunjukkan tujuh kaset album dan dua poster band masa mudanya, Remy Sylado Company.
KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus hadir dalam acara tersebut. “Beliau ini (Remy) makhluk langka yang mungkin stoknya sudah habis,” kata Gus Mus yang membuat hadirin terkekeh.
Malam itu Gus Mus hadir memenuhi rayuan Remy karena merasa berutang banyak rasa. Salah satunya tentang makna kata “mata keranjang”.
Tidak terbayang di benak Gus Mus makna kata itu sebelumnya. Mata kok keranjang. Apa matanya bolong-bolong? “Nah, kemudian beliau menjelaskan yang benar itu ‘mata ke ranjang’. Nggak kepikiran sebelumnya,” jelas pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, itu.
Menurut Gus Mus, Remy adalah manusia serbabisa. Memiliki banyak talenta. Mantan wartawan, sastrawan, penulis, pelukis, musisi, hingga lihai dalam bermain drama. Selain itu, Remy merupakan munsyi alias ahli bahasa. Sudah setingkat dewa kalau meminjam istilah anak zaman sekarang. Mampu menguasai banyak bahasa. Indonesia, Arab, Urdu, Yahudi, Inggris, hingga bahasa Prancis. Belum ditambah bahasa daerah. “Saya kira nggak ada di Indonesia seperti beliau,” puji tokoh yang gemar menulis syair tersebut.
Gus Mus tidak lupa menyampaikan selamat ulang tahun kepada Remy. “Semoga panjang umur dan awet muda,” ucapnya. Tak berselang lama, Remy membalas ucapan sahabatnya itu. Dia mengaku tidak suka dibilang awet muda. Menurut dia, awet muda itu menyamakan dirinya dengan anjing. “Kalau kata orang Semarang, dari lahir sampai mati tetep asu (anjing),” ujar dia sehingga hadirin tertawa. “Kalau orang lain didoakan muda terus senang. Saya tidak. Saya lebih suka menua sewajarnya. Sudahlah tetap tua, rambutnya putih tidak dicat,” tambahnya.
Gus Mus mengenal sosok Remy sekitar 1970-an. Ketika penulis Boulevard de Clichy itu bekerja di majalah Aktuil dan mengasuh puisi mbeling. Gus Mus saat itu rajin mengirim puisi mbeling karyanya. Dan terus dimuat. “Ternyata mbelingnya cukup lumayan,” ujar Gus Mus.
Remy saat itu tidak tahu siapa penulisnya. Sebab, Gus Mus memakai nama samaran. Gus Mus membuka kedoknya saat mereka bertemu di acara puisi mbeling di Semarang, Juni 2016. “Beliau kaget, bilang ke saya kok mbeling ya, Gus,” ujarnya.
Sementara itu, musisi dan dramawan Albert Lefran Worang menilai Remy adalah sosok kontroversial. Menolak segala aturan yang membelenggu kebebasan seni. Dalam pementasan teater, Remy tidak mengenal istilah blocking. Aturan tidak boleh membelakangi audiens, pandangan wajah harus 45 derajat, hingga menunjuk harus menggunakan tangan kanan, tak berlaku untuk Remy. “Itu semua yang justru membuat pertunjukan terkesan kaku,” ucap pria yang akrab disapa Boy Worang itu.
Boy adalah mahasiswa Remy di Jurusan Teater Akademi Sinematografi Bandung. Dia juga pernah menjadi asisten Remy semasa memimpin teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Pensiunan pegawai bank BUMN itu mengakui bahwa Remy sangat galak, tetapi disiplin. Mulutnya tajam ketika mengkritik. Kalau tak kuat, ya sakit hati. Termasuk dia yang juga tidak luput dari amukan Remy. Meski begitu, Boy tidak lantas ciut. Justru dia belajar banyak dari Remy. Menjadi orang yang punya sikap, disiplin, dan tidak sembrono.
Remy menyebut pameran tersebut inisiasi dari Ketua Balai Budaya Jakarta Syahnagra Ismail. Syahnagra berujar bahwa pameran tersebut adalah wujud penghargaan atas karya Remy yang dinilai mendobrak sekat. Seni itu bebas, tidak perlu diatur pakem. Syair-syair puisi mbeling adalah contohnya. “Itulah yang mendasari kami menganggap Remy sebagai maestro seni di Indonesia,” jelas Syahnagra.
Dalam persiapan menjelang pameran, Remy sempat diganggu masalah kesehatan. Remy tidak memungkiri tubuhnya semakin renta. Langkahnya mulai lamban. Keseimbangannya kadang goyah. Eleonora Agatha, sang istri, tak kenal lelah mendampingi.
Meski begitu, semangatnya tidak lantas surut. Ide-ide di kepala selalu menggugahnya untuk terus berkarya. Bersama sutradara Jose Rizal, Remy akan membuat drama teater modern berjudul Sangkuriang. Dia sebagai penulis cerita. “Ceritanya akan dikemas kekinian. Tidak jadul. Supaya lebih diterima masyarakat,” katanya.(jpc/kai)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan