Sabtu, 14 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Mantan Atlet Tenis yang Nggak Bossy

Mantan Atlet Tenis yang Nggak Bossy

Diposting pada 26/07/2019, 13:49 WIT
Destri Damayanti ditemui di Kantornya LPS, Jakarta, Selasa (16/7) FEDRIK TARIGAN
Destri Damayanti ditemui di Kantornya LPS, Jakarta, Selasa (16/7) FEDRIK TARIGAN

Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI

Destry Damayanti terpilih secara aklamasi oleh DPR sebagai deputi gubernur senior Bank Indonesia (DGS BI). Dia merupakan calon tunggal yang diajukan Presiden Jokowi. Riwayat karir mengesankan, disertai rekam jejak bersih, membuat langkahnya menuju kursi orang nomor dua di BI itu begitu mulus.

SEKARING RATRI A., Jakarta, Jawa Pos

DESTRY adalah sosok ramah. Dia bisa dengan mudah membuat obrolan menjadi hangat. Di balik itu, tidak ada yang meragukan kapasitasnya dalam industri keuangan. Presiden memercayai dia menjadi pejabat BI-2, menggantikan Mirza Adityaswara yang memasuki masa pensiun per 25 Juli hari ini. “Sebagai calon tunggal, ya gampang-gampang susah. Karena artinya saya memikul beban bahwa presiden memberikan kepercayaan kepada saya,” ujarnya di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Selasa (16/7) lalu.
Perempuan 55 tahun tersebut mengaku sama sekali tidak menyangka bakal menduduki posisi prestisius di lembaga otoritas moneter itu. Ibu tiga anak tersebut menceritakan, sejak dulu pembawaannya cenderung //easy going//. Di masa muda Destry adalah pemain tenis profesional. Rangkaian kompetisi, baik di dalam maupun luar negeri, pernah dia jajal.
Selulus SMA, Destry mendaftar ke Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia (UI). Sayang gagal. Dia kembali bermain tenis. Setahun berikutnya, Destry kepikiran untuk daftar kuliah lagi. “Karena jadi atlet saya juga nggak hebat-hebat amat,” ujarnya.
Meski hanya mempersiapkan diri tiga bulan sebelum ujian, Destry lolos diterima di Ilmu Ekonomi UI. Perempuan kelahiran 16 Desember 1963 itu tergolong mahasiswa populer. Otaknya encer, juga supel dan aktif di bidang olahraga. Dia bisa melakukan semua olahraga, kecuali dua. “Senam dan gerak jalan,” ungkapnya.
Masih menjadi mahasiswi, Destry sudah mengajar sebagai asisten dosen plus asisten peneliti di Harvard Institute for International Development (HIID). Pada Januari 1989 Destry lulus. Di tahun yang sama, dia melepas masa lajang.
Tidak lama kemudian, Destry mengikuti suami yang tengah menempuh pendidikan di Cornell University New York. Destry juga mencari beasiswa agar bisa melanjutkan studi di kampus yang sama. “Alhamdulillah dapat. Jurusannya regional science. Tentang bagaimana terbentuknya suatu daerah,” urainya.
Lulus 1992, Destry kembali ke tanah air dan bekerja di Kementerian Keuangan. Lima tahun kemudian, dia melepaskan karier dan bergabung dengan bank swasta asing Citibank. Kariernya sebagai ekonom dimulai dari sana. “Saya masuk Citibank saat Indonesia krisis moneter. Bisa dibayangkan lah gimana situasinya saat itu,” kenangnya.
Pada 1999 Destry melahirkan anak ketiga. Jam kerja yang panjang membuat dirinya berpikir ulang untuk meneruskan karier. Pada 2000 dia keluar dari Citibank dan menjadi senior economic adviser untuk duta besar Inggris di Indonesia. Tujuannya, waktu untuk keluarga menjadi lebih banyak.
Namun, lagi-lagi Destry galau. Putri pertamanya yang juga atlet tenis tengah rajin mengikuti turnamen. Destry tak tega putrinya bepergian sendiri. Dia pun resign. “Bagaimanapun, family is number one. Saya jadi ibu, manajer, sekaligus partner latih tanding putri saya,” katanya.
Satu setengah tahun berikutnya, Destry mendapat cobaan berat. Karena sejumlah alasan, dia berpisah dengan suami. Ketiga anak berada dalam pengasuhannya. Mau tak mau Destry kembali bekerja. Padahal, usianya sudah kepala empat. Tapi, dari situ justru titik balik karirnya dimulai.
Destry bekerja sebagai peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI. Berjalan setahun, dia mendapat informasi bahwa Mandiri Sekuritas (Mansek) tengah mencari ekonom. Usia yang tidak lagi muda membuat Destry sempat tidak percaya diri untuk mendaftar. “Karena Mansek itu fokusnya capital market dan itu dunia anak muda, sedangkan waktu itu saya sudah 42 tahun. Tapi, ya sudahlah, saya beranikan mencoba.”
Pada 2014, setelah Jokowi terpilih sebagai presiden, Destry mendapat tugas sebagai ketua Satuan Tugas (Satgas) Ekonomi Kementerian BUMN. Kariernya terus melesat. Setahun berikutnya, dia ditunjuk sebagai ketua Pansel Capim KPK. Sebagai ekonom yang tidak pernah bersentuhan langsung dengan dunia hukum, penunjukan tersebut sempat membuatnya kaget. Apalagi, ketika itu Destry sedang diopname karena demam berdarah. “Kondisi lagi jelek-jeleknya karena trombosit terus turun. HP bunyi-bunyi terus. Akhirnya adikku yang jaga bilang, ‘Mbak kayaknya penting ini.’ Aku angkat, ternyata dari Pak Teten. Dia bilang, ‘Mbak Destry diminta Bapak (Presiden) jadi Pansel KPK,'” kenangnya.
Destry meminta waktu berpikir. Dia sempat menghubungi bosnya, Dirut Bank Mandiri (saat itu) Budi Gunadi Sadikin (BGS), untuk meminta bantuan agar tidak ditunjuk sebagai pansel.
Destry akhirnya menerima penugasan tersebut. Saat pengumuman resmi Pansel KPK di istana, Destry dipapah adiknya karena belum pulih. “Jadi, saya berangkat ke istana dari rumah sakit lho. Karena masih kliyengan, saya naik golf cart dari Setneg ke Istana Merdeka. Yang lainnya jalan kaki. Hahaha,” katanya.
Mampu merampungkan tugas dengan baik, Destry diminta mengisi jabatan anggota Dewan Komisioner LPS. Meski kaget, dia menerima karena penunjukan, yang sekali lagi, datang langsung dari presiden. Hampir empat tahun mengabdi di LPS, Destry diajukan sebagai calon DGS BI periode 2019-2024. “April lalu saya dipanggil Pak Darmin (Nasution, menteri koordinator bidang perekonomian),” ucap Destry.
Diceritakan, Darmin mengajukan empat nama untuk posisi itu. Destry juga dimintai sejumlah pendapat tentang BI, regional economy, dan beberapa masalah ekonomi lainnya.
Kini Destry tinggal menunggu masa pelantikan. Di mata rekan, Destry dikenal sebagai pribadi yang cair, tapi dengan integritas tinggi. “Dia sangat mumpuni di bidangnya. Saya turut senang Destry terpilih sebagai DGS BI. Orangnya nggak bossy. Malah saya yang lebih bossy. Hahaha.. Dan saya bangga, apalagi sebagai sesama perempuan ya,” ujar Ketua Pansel Capim KPK Yenti Garnasih.
Mantan anak buah Destry, Andry Asmoro, yang kini menduduki posisi kepala ekonom Bank Mandiri, menyebutnya sebagai sosok pemimpin yang mampu memotivasi bawahan untuk maju. “Untuk kapabilitas dan kredibilitas tidak perlu diragukan lagi. Beliau memang pantas menjabat DGS BI,” tegas Andry.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, Destry bukan orang baru baginya. “Kami ini sudah lama komunikasi dan itu kan kawan lama di KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), dan LPS. Jadi, selamat datang sebagai deputi gubernur senior.”(jpc/kai)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan