Senin, 09 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / / Pengungsi Dapat Bantuan Kedaluwarsa

Pengungsi Dapat Bantuan Kedaluwarsa

Diposting pada 31/07/2019, 14:34 WIT
CEK: Tim posko darurat kesehatan dari Puskesmas Gane Dalam melakukan pengecekan masa berlaku bahan makanan di pusat gudang bantuan pangan bencana, Senin (29/7) FATIR NATSIR
CEK: Tim posko darurat kesehatan dari Puskesmas Gane Dalam melakukan pengecekan masa berlaku bahan makanan di pusat gudang bantuan pangan bencana, Senin (29/7) FATIR NATSIR

LABUHA – Jumlah pengungsi yang terserang diare di lokasi bencana Desa Gane Dalam, Kecamatan Gane Barat Selatan, Halmahera Selatan kian meningkat. Sejak Senin (29/7) kemarin, tercatat kenaikan 20 penderita diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang naik menjadi 18 pasien dari sebaran kamp pengungsian yang ada. Petugas pun memeriksa kualitas bantuan makanan yang masuk ke pengungsian.
Koordinator Posko Kesehatan Darurat Desa Gane Dalam dr. Fatir M. Natsir membenarkan hal itu. “Kemarin angka kesakitan berhasil kami tekan, diantaranya kasus diare dan muntah akibat dishiginitas lingkungan di musim hujan. Namun kini naik lagi 18 hingga 20 pasien sejak 3 hari terakhir,” ungkapnya kepada Malut Post kemarin (30/7).
Fatir mencurigai faktor kualitas makanan yang dikonsumsi warga terdampak menjadi salah satu penyebab. Namun hal itu masih butuh kajian lebih dalam. “Karena sampai saat ini bahan pangan bantuan masih terlalu bebas masuk langsung ke masyarakat pengungsi. Karena itu saya mencoba membentuk tim kecil untuk bertugas melakukan operasi pengecekan masa berlaku bahan makanan,” ujarnya.
Tim posko kesehatan darurat yang ditenagai beberapa pegawai Puskesmas Gane Dalam lantas menggelar survei dan pengawasan bahan makanan dan minuman yang dicurigai expired dan tercemar bakteri. Anggota tim terdiri atas PNS dan anggota medis dari Nusantara Sehat (NS). “Tim ini dibentuk untuk melakukan survei pemeriksaan kualitas makanan dan minuman di penampungan bantuan makanan di posko darurat di Desa Gane dalam,” cetus Fatir.
Survei dilakukan pada Senin kemarin pukul 4 sore yang dimulai dari pusat gudang penampungan bantuan hingga ke tenda-tenda pengungsi. Tim ini dipimpin oleh Yoseph Ola S.Farm, Apt selaku Apoteker Puskesmas Gane Dalam. dr. Fatir menambahkan, selain bahan cemaran dan kualitas makanan, metode pengolahan makanan juga bisa berdampak pada dishiginitas makanan dan pola pencernaan itu sendiri. “Dari hasil survei ditemukan fakta bahwa 75 persen warga pengungsian tak memahami cara konsumsi bantuan makanan cepat saji milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Makanan cepat saji tersebut dibagikan pihak BNPB kepada warga pengungsi di desa Gane Dalam. Memang masyarakat terlihat memiliki bantuan makanan cepat saji dari pihak BNPB. Kemasan itu berwarna oranye, sayang di kulit kemasan tak menunjukkan penjelasan cara pengolahan makanan, hal itu membuat masyarakat bingung dan jarang mengonsumsinya. Terlihat mereka hanya menyimpannya di tenda pengungsian,” paparnya.
Selain ditemui fakta tersebut, beberapa fakta bantuan makanan yang dekat dengan masa berlaku pun ikut terdatai. Dimana yang paling dekat jatuh tempo bulan September 2019. “Tercatat 520 buah mi instan merek Supermie dengan masa berlaku September 2019, juga tercatat 500 buah mi instan bermerek Mie Sedap dengan masa berlaku hingga September 2019, dan tercatat juga ikan kaleng kemasan dengan masa berlaku September 2019,” jelas dr. Fatir. “Sedang makanan dan minuman expired atau telah lewat masa berlaku kami dapatkan tiga teh kemasan bermerek Teh Kotak expired bulan Mei 2019, empat susu kaleng dengan merek Nestle Cap Nona expired Juni 2019, tiga buah mentega dengan merek Blue Band expired pada bulan Mei 2019.”

Sekolah Darurat
Sementara itu, Kementerian PUPR di bawah Tim Tanggap Darurat BPTW Malut akhirnya merampungkan pembangunan sekolah darurat di desa Gane Dalam. Sekolah telah berhasil didirikan kemarin. Alat dan bahan yang dibawa oleh BPTW tiba di Desa Gane Dalam sejak Senin kemarin dengan menggunakan transportasi laut dengan membawa bahan peralatan untuk pembangunan sekolah darurat.
Adapun peralatan yang dibawa yakni rangka dan terpal tenda serta bak air untuk dibangun di Desa Gane Dalam. Dengan sebuah Truk, peralatan dibawa di pusat desa untuk dipersiapkan pemasangannya di pusat pemukiman desa. “Kami tiba kemarin sore (Senin, red) dan hari ini (kemarin, red) telah membangun sembilan unit sekolah darurat menggantikan sementara bangunan sekolah yang rusak. Tiga unit sekolah darurat dibangun di tiga titik yakni di halaman SDN 7 Halmahera Selatan, halaman SMPN 11 Halmahera Selatan, SMA Negeri 27 Halmahera Selatan. Selain sekolah darurat, kami juga membangun wadah air darurat masyarakat. Beberapa tangki darurat khusus dibawa ke Desa Gane Dalam,” ujar Suhdi Nasir, Koordinator Tim Tanggap Darurat BPTW Malut.
Anak-anak usia sekolah sendiri sudah memulai bersekolah pasca dicabutnya status darurat bencana oleh Pemerintah Daerah. Hingga hari ke-16 pasca Gempa, pihak Pemda Kabupaten Halmahera Selatan tercatat baru membangun beberapa WC darurat dan Sekolah darurat di Desa Gane Dalam.(kai)

 

Share
Berita Terkait

Lahir di Tengah Gempa

24/07/2019, 14:21 WIT

Video Mesum Siswi SMP Tersebar

12/01/2019, 11:46 WIT

Mahasiswi Tewas Saat Memotret

06/03/2018, 12:01 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan