Senin, 16 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Jelajahi Bumi dengan Trinidad dan Tenggelam di Perairan Tidore

Jelajahi Bumi dengan Trinidad dan Tenggelam di Perairan Tidore

Diposting pada 31/07/2019, 15:22 WIT
DISKUSI: Tim Loka Riset menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait Riset Arkeologi Maritim Situs Kapal Tenggelam di Jalur Rempah-Rempah Ternate-Tidore kemarin (30/7). Foto lain, replika kapal Trinidad MAHFUD HUSEN
DISKUSI: Tim Loka Riset menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait Riset Arkeologi Maritim Situs Kapal Tenggelam di Jalur Rempah-Rempah Ternate-Tidore kemarin (30/7). Foto lain, replika kapal Trinidad MAHFUD HUSEN

Dari FGD Riset Arkeolog Maritim Situs Kapal Tenggelam Bukti Tidore Jadi Persinggahan Penjelajah Dunia

Maluku Utara memang dikenal sebagai tempatnya komoditas rempah-rempah. Jangan heran, daerah ini menjadi incaran berbagai bangsa dunia sejak puluhan abad yang lalu. Bahkan, kapal Trinidad yang disebut tenggelam di perairan Tidore pada abad ke 18 juga tengah mengangkut rempah-rempah untuk dibawa ke Spanyol.

Mahfud Husen, Tidore

PADA abad 16, atau tepat pada tanggal 8 November tahun 1521, Juan Sebastian Elcano beserta awak kapal Trinidad dan Victoria mendarat pertama kali di Pulau Tidore. Sebelum masuk ke Maluku, Ferdinand Magellan bersama dengan kapal Trinidad dan Victoria beserta tiga kapal lainnya mendarat di Philipina. Magellan kemudian terbunuh dan ketiga kapal lainnya tak berhasil lolos.
Juan Sebastian Elcano kemudian melanjutkan misi Ferdinand Magellan untuk menjelajahi bumi. Bersama dengan kapal Trinidad dan Victoria, Elcano kemudian bisa sampai ke tanah Tidore. Berdasarkan keterangan sejarah, para penjelajah bumi ini pertama kali mendaratkan kapal di tanjung Kelurahan Rum. Tempat inilah yang saat ini didirikan sebuah tugu monumen pendaratan Juan Sebastian Elcano. Menurut sumber lain, kala itu tepat pada 8 November 1521, Juan Sebastian Elcano sempat dijamu makan malam di kedaton Mareku oleh sultan yang memerintah pada waktu itu.
Setelah beberapa lama kemudian, kapal Trinidad dan Victoria hendak berlayar kembali menuju ke Spanyol. Namun saat kapal Trinidad yang mengalami kebocoran terpaksa meminta bantuan kepada Portugis yang saat itu berada di Benteng Kastela (Kelurahan Kastela, Ternate, saat ini). Namun berdasarkan informasinya, bukannya memberikan bantuan, orang-orang portugis malah mengambil alih kapal yang memuat 50 ton cengkeh itu. Sebagian kayunya diambil untuk dipergunakan di benteng, sementara sebagiannya tenggelam bersama badan kapal.
Bangkai kapal Trinidad inilah yang saat ini sedang diteliti Tim Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir, Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Riset ini dilakukan untuk menunjang peringatan 500 tahun Magellan dan Elcano mengelilingi bumi dan Sail Tidore 2021.
Selasa (30/7) kemarin, Tim Loka Riset bekerjasama dengan Pemerintah Kota Tikep membuat Focus Group Discussion (FGD) tentang "Riset Arkeologi Maritim Situs Kapal Tenggelam di Jalur Rempah-Rempah  Ternate-Tidore, yang bertempat di Aula Nuku Kantor Walikota Tikep. Dalam sambutan tertulis Walikota yang dibacakan Sekretaris Kota (Sekkot) Asrul Sani Soleman mengatakan, rempah-rempah merupakan komoditas khas nusantara yang membuat wilayah ini tidak hanya dicari-cari, tetapi juga diincar oleh berbagai bangsa dunia sejak puluhan abad yang lalu. Pala, lada, cengkeh, kayu cendana, merupakan komoditas yang berpengaruh besar terhadap sejarah dunia dari beberapa jalur perdagangan kuno di dunia. Jalur rempah merupakan jalur perdagangan penting, namun sejarahnya seperti terselubung dari pengetahuan.
Oleh karena itu, FGD diharapkan memberikan gambaran tentang tata niaga rempah-rempah di Maluku-Maluku Utara khususnya Ternate-Tidore. Sehingga dapat dijadikan masukan untuk melengkapi pembahasan tentang tata niaga rempah-rempah dalam sejarah maritim Ternate dan Tidore di jalur rempah.
"Semoga upaya ini mampu melestarikan memori dunia tentang peran Tidore dan Ternate sebagai pusat produksi rempah-rempah, yang sangat mempengaruhi peradaban manusia dan wajah dunia di masa lalu sampai sekarang," ujarnya.
Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Riyanto Basuki mengatakan, FGD ini merupakan bagian dari kegiatan riset yang dimaksudkan untuk menginformasikan kepada seluruh instansi terkait, baik di pusat maupun daerah, untuk membantu meningkatkan pengetahuan dan sekaligus juga upaya heritage raising awareness tentang pentingnya pengetahuan sejarah budaya maritim, dan pentingnya upaya untuk melakukan pelestarian perlindungan dan pengelolaan warisan budaya maritim dan bawah air yang dimiliki.
Sementara Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir, Nia Naelul Hasanah Ridwan mengatakan, riset ini dilakukan atas permintaan dari Wali Kota Capt. Ali Ibrahim untuk mengungkap sejarah maritim dan mencari bukti arkeologi fisik tentang pelayaran Ferdinand Magellan dan Sebastian Elcano untuk mendukung Sail Tidore 2021, serta memperingati 500 tahun perjalanan Magellan dan Elcano mengelilingi bumi. Tentu hal ini sangat penting, mengingat di Negara Spanyol dan Portugal sangat meriah dalam menyambut peringatan.
Indonesia, kata dia, tak mau kalah menunjukkan kemeriahan itu dengan cara mempopulerkan kembali jalur rempah. "Nah, posisi rempah di mana. Orang kalau cari rempah pasti ke Maluku, ya di Ternate dan Tidore ini salah satunya. Bahkan bangkai kapal Trinidad itu tenggelamnya di perairan Ternate dan Tidore," katanya.
Menurutnya, kapal Viktoria dan trinidad pernah berlabuh di Tidore, tepat di depan tugu pendaratan Juan Sebastian Elcano, Kelurahan Rum, pada tahun 1521. Kapal Viktoria berhasil melanjutkan perjalanan kembali ke Spanyol, namun Trinidad berdasarkan data arsip, tenggelam tepat di depan Benteng Kastela, Ternate. Hal ini karena pada saat itu, kapal Trinidad berlayar dari Tidore menuju Ternate dengan mengangkut 50 ton cengkeh. Saat itu kapal trinidad meminta bantu kepada Portugis yang berada di Benteng Kastela untuk diselamatkan, namun Portugis kemudian mengambil alih dan merampas semua cengkeh itu. Kayu kapal sebagian diambil untuk membuat bangunan di benteng Kastela, sementara bangkainya tenggelam karena dihantam badai dan terhempas karang. "Kami sudah menyelam sekali di kawasan depan benteng ini, namun belum menemukan sisa bangkai kapal trinidad. Rencananya tahun depan kami akan kembali untuk menyelam dengan menggunakan alat side scan sonar yang bisa menebus sedimen," terangnya.
Dalam FGD itu juga, Nia mengungkapkan pihaknya telah menyisir beberapa titik di Tidore untuk diselami. Salah satunya di tanjung Tongowai. Pihaknya menemukan sejumlah guci dan meriam yang ada di bawah dasar laut itu. Bahkan puluhan guci dan satu meriam sudah diangkat lalu ditempatkan di guest house Kabupaten Halmahera Tengah yang berada di Kelurahan Gamtufkange. Pengangkatan guci maupun meriam disebutnya sebagai penjarahan, karena mengangkat barang-barang secara ilegal. Pihaknya telah menggunakan alat side scan sonar dan menemukan ada dua bangkai kapal di Tongowai itu. Namun kedalamannya mencapai 100 meter, sehingga harus menggunakan alat yang lebih canggih untuk menyelam ke dasar lautnya. "Namun bangkai kapal bisa dipastikan kapal Trinidad. Karena sumber yang masih kuat itu di pantai Kastela itu," tuturnya.(cr-03/pn/yun)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan