Senin, 19 Agustus 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Patungan Beli Lahan untuk Relokasi Makam

Patungan Beli Lahan untuk Relokasi Makam

Diposting pada 01/08/2019, 14:10 WIT
TEPI PANTAI: Masjid Nurul Jannah di Desa Cemarajaya, Karawang. Bagian depan dipasangi tumpukan karung pasir untuk menjaga agar air laut tak masuk masjid Imam Husein
TEPI PANTAI: Masjid Nurul Jannah di Desa Cemarajaya, Karawang. Bagian depan dipasangi tumpukan karung pasir untuk menjaga agar air laut tak masuk masjid Imam Husein

Merawat Keberagaman di Desa yang Dimakan Abrasi

Seperti sebagian besar desa di pantai utara Jawa, Desa Cemarajaya setiap hari juga dikunyah-kunyah ombak. Dalam kehidupan dengan latar agama yang berbeda-beda, warga bergerak bersama mempertahankan bangunan dari serangan abrasi.

TAUFIQURRAHMAN, Karawang

JALAN pantai sepanjang batas utara Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Karawang, Jawa Barat, sudah sangat dekat dengan laut. Di beberapa titik, sebagian jalan terkikis dimakan ombak. Sebagian lainnya benar-benar putus. Warga membuat alternatif memutar ke sebelah dalam.
Di antara jalan-jalan itu terdapat gundukan tanah berbentuk persegi panjang. Tingginya antara pinggang sampai dada orang dewasa. Beberapa dibentengi tembok, sejumlah bambu; lainnya dibiarkan tanah menumpuk. Begitu saja. Itulah kuburan-kuburan Tionghoa. Tersebar di antara permukiman.
Di ujung Dusun Pisangan yang ada di Cemarajaya, tampak sebuah bangunan mencolok bercat merah. Berdiri sendiri diapit hamparan tambak dan tamparan ombak tiada henti. Begitu mendekat akan ketahuan, bangunan itu adalah sebuah kelenteng.
Sehari-hari terkunci rapat. Untuk bisa masuk harus lebih dulu menemui Carmat. Dia adalah penjaga dan perawat kelenteng. Seorang muslim berusia 74 tahun. Tinggal 500 meter di barat tempat ibadat tersebut. Beberapa kali sehari Carmat mengecek. Mengangkut air dari desa untuk mengepel dan membasuh altar.
Hari-hari ini terasa sulit menjaga kelenteng tetap bersih. Empasan ombak kian dekat ke bangunan. Cipratan air asin meninggalkan bekas garam saat mengering. Carmat tak mungkin membersihkannya dengan air laut juga. Dia harus lebih sering membawa air tawar dari desa. “Pemilik dan pembangunnya namanya Pak Apui. Sudah almarhum,” ujar Carmat saat membuka terali besi penutup altar. Tercium harum dupa dan terdengar lantunan doa yang diputar terus-menerus dari sebuah music player.
Kelenteng itu jarang dikunjungi. Seingat Carmat, hanya satu warga Cemarajaya yang sesekali beribadat di tempat tersebut. Keluarga Apui di Jakarta. Satu dua kali setahun saja mereka berkunjung untuk sembahyang. Namun, ada beberapa penganut Khonghucu dari Karawang dan Bekasi yang sesekali mampir.
Jika mereka datang, tugas Carmat membukakan pintu dan mempersiapkan tempat ibadat. Setiap bulan Carmat menerima gaji Rp 300 ribu. Pas-pasan. “Karena kan saya juga harus beli pertalite, ngisi sepeda motor buat ambil air di permukiman seberang tambak,” ungkapnya.
Satu kilometer di tenggara kelenteng, Masjid Nurul Jannah juga berjuang menghadapi gempuran ombak. Kurang dari 1 meter di depan pintu masjid, batu disusun untuk menangkis serangan ombak. Cipratan air melompat dan menghantam jendela kaca rumah ibadah itu. Sementara pintu depan selalu ditutup untuk mencegah angin masuk. Lalai sebentar saja, pintu lain di dalam akan terbanting ditiup angin.
Masjid tersebut cukup besar. Berlantai dua yang bisa dipastikan tidak murah biaya pembangunannya. Karena itu, warga melindunginya dari ombak. Meskipun di kanan dan kiri air sudah jauh menusuk ke daratan. “Dulunya pantai masih 100 meter ke utara situ,” kata salah seorang warga yang lewat di dekat masjid tersebut.
Masjid dan kelenteng masih tetap berdiri meski terancam abrasi. Sedangkan Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Cemarajaya -yang terletak beberapa meter di seberang balai desa- sudah rusak dan tinggal puing-puing. “Jemaat sudah pindah ke gereja baru,” ucap Kepala Desa Yonglim Supardi.
Di desa berpenduduk 5 ribu jiwa itu, mayoritas penduduk adalah muslim. Tapi, jumlah penganut agama lain juga cukup banyak. Terutama keturunan Tionghoa. Yonglim sendiri adalah keturunan Tionghoa.
Abrasi yang terjadi sejak 1990-an memang memakan cukup banyak korban. Sekitar 300 kepala keluarga kini terancam kehilangan tempat tinggal. Rata-rata mereka yang tinggal di sebelah utara jalur pantai. “Sudah disiapkan lahan pengganti sekitar 3 hektare. Dibayarkan oleh pemda,” jelas Yonglim.
Sementara itu, Vihara Manggala milik umat Buddha lebih beruntung karena posisinya yang masih sekitar 100 meter dari bibir pantai. Juga berdekatan dengan beberapa masjid dan gereja. Bangunannya masih baru. Sekitar 200 umat rutin beribadat di tempat itu.
Meski berbeda agama, warga senantiasa kompak bahu-membahu mengatasi abrasi. Salah satu kekhawatiran yang dirasakan warga adalah makam-makam, baik untuk umat Islam, Kristen, maupun Buddha, yang mulai atau bahkan sudah habis ditelan abrasi.
Canlok, tokoh agama Buddha di desa tersebut, membawa kami ke sebuah tanah lapang luas di Dusun Sekong, sekitar 1 kilometer di selatan. Jauh dari garis pantai. Di sana tersebar beberapa makam Islam, Kristen, dan Buddha.
Pada 2014, melalui Yayasan Mawar Sentosa, warga menggalang iuran bersama untuk membeli lahan baru seluas 2,7 hektare di Dusun Sekong. Nanti lahan tersebut digunakan untuk relokasi pekuburan yang terancam abrasi. Sebuah cermin bahwa warga tetap menghormati yang sudah mati. Padahal, yang masih hidup saja masih menunggu kepastian soal lahan relokasi. “Kalau tanah ini sudah lunas,” ucap Canlok.
Dari 2,7 hektare, tiap-tiap agama mendapat jatah sekitar 700 meter persegi. Dipisahkan jalan makam. Jadi, total 2,1 hektare area pekuburan. “Sisanya, sekitar 600 meter persegi, akan dimanfaatkan untuk lahan parkir, pendapa, dan tempat istirahat bagi para peziarah,” jelas Canlok.(jpc/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan