Senin, 09 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / / Pemilik Rumah Makan Edarkan Sabu

Pemilik Rumah Makan Edarkan Sabu

Diposting pada 05/08/2019, 13:51 WIT
 TANGKAPAN BESAR: Kapolres Halbar (berpeci) menunjukkan barang bukti yang berhasil diamankan dari tangan dua pengedar narkoba jaringan Surabaya-Malut, Sabtu (3/8) SAMSUDIN CHALIL
TANGKAPAN BESAR: Kapolres Halbar (berpeci) menunjukkan barang bukti yang berhasil diamankan dari tangan dua pengedar narkoba jaringan Surabaya-Malut, Sabtu (3/8) SAMSUDIN CHALIL

Sindikat Narkoba Surabaya-Malut Dibekuk

Napi Lapas Kendalikan Peredaran

JAILOLO – Makin menjadi-jadi saja sepak terjang para penjahat narkoba di Maluku Utara. Kali ini, polisi berhasil membekuk sindikat narkotika jaringan Surabaya-Malut di Halmahera Barat. Di saat bersamaan, polisi menemukan keberadaan narapidana Lapas Ternate yang diduga mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji besi.
Penangkapan para pengedar di Jailolo berawal dari tertangkapnya Riswan Salehu (26), warga Desa Guaemaadu, Kecamatan Jailolo, Jumat (2/8). Menurut polisi, Riswan sudah diintai sejak dua bulan lalu. Pada Jumat malam sekira pukul 23.00 WIT, ia diciduk di rumahnya tanpa perlawanan.
Dari tangan Riswan, polisi mengamankan barang bukti (BB) berupa buku rekening salah satu bank, uang tunai Rp 6.150.000, alat isap sabu dan satu ponsel merek Samsung.
Setelah menginterogasi Riswan, polisi hanya butuh 1 jam untuk membekuk Iswahyudi (36). Kebetulan, Iswahyudi sendiri sudah menjadi target operasi (TO) sejak 2015. Saat ditangkap di rumahnya di Guaemaadu, pemilik Rumah Makan Ampera itu sedang teler akibat pengaruh sabu.
Iswahyudi sendiri merupakan tangkapan besar. Ia pernah ditangkap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku Utara. Namun Iswahyudi hanya dikenakan rehabilitasi lantaran tak ditemukan BB. Ia juga diketahui beberapa kali keluar masuk fasilitas rehabilitasi.
Dari tangannya Sabtu dini hari kemarin, kepolisian Halbar mengamankan 52 sachet paket sabu dengan berat masing-masing 1 gram, 2 sachet paket sedang sabu dengan berat 4 gram, empat sachet pil ekstasi jenis Inex sebanyak 40 butir, dan pipet. Satu paket kecil sabu harganya sekitar Rp 2,5 juta. Itu berarti, total narkotika yang disita dari tangan Iswahyudi mencapai ratusan juta rupiah.
Kapolres Halbar AKBP Denny Heriyanto, SIK dalam konferensi pers mengatakan, ini pertama kalinya ditemukan peredaran Inex di Halbar. "BB yang telah disita ini akan diuji lagi di Laboratorium Forensik Makassar," katanya, Sabtu (3/8).
Sesuai keterangan tersangka, narkoba tersebut dikirim dari Surabaya menggunakan jasa pengiriman JNE. Tujuan pengirimannya langsung ke Jailolo. “Kami akan melakukan pengembangan hingga ke Surabay, karena barang didapat dari Surabaya. Dari HP tersangka ditemukan komunikasi pengiriman barang dari Surabaya dua minggu sekali," jelas Denny.
Hukuman berat menanti kedua tersangka, yakni hingga kurungan badan seumur hidup. "Kedua tersangka dikenakan Pasal 112 ayat (2) junto Pasal 114 dengan ancaman hukuman seumur hidup atau paling singkat 20 tahun," ujar Denny.
Kanit Resmob Polres Halbar Bripka Muhammad Guntur Abdullah yang memimpin langsung proses penangkapan kemarin menambahkan, saat ini pihak masih memburu satu lagi terduga pelaku. "Dari pengakuan Iswahyudi, selain Riswan ada juga inisial F yang saat ini masih buron. Iswahyudi sudah berulangkali lakukan rehabilitasi dan sudah empat kali menerima paket sabu dan yang terbanyak paket yang disita pada penangkapan Jumat lalu," pungkasnya.

Lapas
Sementara itu, peredaran narkoba juga marak di Ternate. Bahkan seorang narapidana binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ternate diduga terlibat peredaran sabu. Ini terungkap setelah polisi menangkap dua orang pemakai.
Penangkapan pertama dilakukan 15 Juli lalu oleh personel Polsek Ternate Utara. Tersangka AH dibekuk di rumahnya di Kelurahan Jati Perumnas, Kota Ternate Selatan. Hasil pemeriksaan urine menunjukkan ia positif menggunakan zat terlarang itu. “Informasi yang kami terima, rencana awal bahwa tersangka ini akan pakai sabu di Kelurahan Stadion. Setelah dibuntuti, tersangka kembali ke rumahnya. Saat hendak memakai sabu, kami langsung geledah,” kata Kapolsek Ternate Utara Iptu Ambo Wellang saat menggelar konferensi pers, Sabtu (3/8).
Dari tangan AH diamankan sabu seberat 0,52 gram. Hasil pemeriksaan menyebutkan, tersangka AH telah mengkonsumsi narkoba sebanyak dua kali. Tak hanya itu, kata Kapolsek, tersangka juga mengakui bahwa sabu itu dibelinya dari salah satu narapidana. Napi berinisial IS itu tengah menjalani masa tahanan di Lapas Ternate.
Menurut Kapolsek, IS sudah diperiksa dan statusnya saat ini sebagai saksi. “Sabu itu dibuang dari dalam ke luar Lapas. Tapi barang bukti itu kini sudah dikirim ke Labfor Makassar untuk diperiksa,” tutur Kapolsek.
Atas perbuatannya, tersangka AH dikenakan Pasal 127 ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Selain AH, Polsek Ternate Utara juga menangkap satu tersangka berinisial EE (27). Ia ditangkap karena diduga menguasai narkotika jenis ganja. Tersangka diamankan di Kelurahan Jati pada 23 Juli lalu. EE diciduk saat hendak melakukan transaksi. “Barang bukti yang ditemukan sebanyak 10 sachet ukuran sedang ganja,” ungkap Kapolsek.
Tersangka EE dikenakan Pasal 111 ayat (1) dan Pasal 127 ayat (1) huruf a UU Narkotika.
Anehnya, Kepala Lapas Ternate, Muji Widodo mengaku belum mengetahui informasi keterlibatan seorang narapidana dalam peredaran narkotika. Ia bahkan tak tahu terkait pemeriksaan napi berinisial IS oleh Polsek Ternate Utara. “Sejak kapan napi dengan inisial IS sudah diperiksa pihak Polsek?” katanya mempertanyakan saat dikonfirmasi kemarin (4/8).
Muji menambahkan, saat ini pihaknya juga belum menerima nama lengkap IS yang dimaksud oleh pihak kepolisian Polsek Ternate Utara. “Karena inisial IS di dalam lapas ada beberapa nama yang cocok dengan inisial tersebut,” sambungnya.
Ia menegaskan, bila memang benar ada pelemparan narkoba dari dalam ke luar maupun dari luar ke dalam Lapas, menandakan sudah tidak adanya petugas yang bersedia membantu secara langsung beredarnya narkoba di dalam Lapas. “Atas nama pimpinan Lapas sangat berterima kasih atas perhatian pihak kepolisian terhadap Lapas dalam pemutusan jaringan narkoba,” tegasnya.
Dia mengatakan, bila ada napi atau petugas Lapas Ternate yang terlibat maka dirinya mendukung dan mempersilahkan pihak kepolisian untuk melakukan pemeriksaan. “Kalau mereka terlibat, silahkan diperiksa. Kami mendukung,” tuturnya.
Fenomena pengendalian narkoba yang dilakukan dari dalam Lapas itu turut memantik perhatian publik. Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Maluku Utara, Muhammad Konoras mengatakan, peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam Lapas maupun Rutan merupakan peristiwa pidana yang luar biasa yang penanganannya juga harus luar biasa. Sebab tidak hanya melibatkan para napi atau tahanan semata, melainkan sudah terkait dengan lembaga pemasyarakatan sebagai institusi pengawasan dan pembinaan para napi.
Menurut Konoras, fenomena pengendalian narkoba dari dalam Rutan dan Lapas itu bukan cuman sekali ini, melainkan sudah berulang kali. Termasuk yang diberitakan oleh media yang semestinya menjadi perhatian khusus bagi pimpinan Lapas maupun Rutan untuk lebih ketat melakukan pengawasan. “Tetapi herannya, justru kasus sabu atau narkoba yang sumbernya dari dalam Lapas malah tidak bisa dihentikan,” katanya.
Baginya, fenomena seperti itu jika dibiarkan terjadi terus menerus, maka publik berhak mencurigai jangan-jangan ada oknum pegawai Lapas ikut juga terlibat dalam peredaran sabu. “Untuk itu saya berharap polisi bisa mengembangkan penyidikannya ke arah sana,” sambung Konoras.
Ia menjelaskan, pemberantasan tindak pidana penyalahgunaan narkoba semestinya melibatkan seluruh elemen masyarakat seperti tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, lurah-lurah sampai ketua RT. Jangan hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum semata. “Jika tidak maka jangan heran peredaran narkoba tidak bisa teratasi,” ujarnya.
Anggaran untuk menangani kejahatan narkoba itu jumlahnya tidak sedikit, kata Konoras. Begitu juga bagi pengedar narkoba keuntungannya sangat menggiurkan sehingga. Bagi Konoras, variabel itu saling berhubungan satu sama lainnya. “Akan sangat sulit menghentikan lajunya peredaran narkoba di Maluku Utara jika tidak melibatkan semua pihak,” tuturnya.
Namun, yang menjadi pertanyaan selama ini adalah kenapa peredaran narkoba itu tetap eksis, sementara institusi kepolisian jaringannya sampai ke Polsek dan Pos Pol di pelabuhan besar maupun pelabuhan kecil. “Jika negara serius dalam memberantas pidana narkoba maka, berikan 1 ekor anjing pelacak di setiap bandara, pelabuhan-pelabuhan besar maupun kecil, maka selesai sudah narkoba di Indonesia,” pungkas advokat senior ini.(din/aby/kai)

Share
Berita Terkait

Jokowi Menang Telak di Desa Danny

18/04/2019, 13:04 WIT

Danyonif RK 732/Banau Berganti

07/12/2018, 12:50 WIT

Sehari, Empat Tewas di Jalan

12/03/2018, 12:37 WIT

Jembatan Goin - Kedi Tuntas 2020

22/07/2019, 14:17 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan