Sabtu, 21 September 2019

 Headline
MALUT POST / MAJANG POLIS / Sultan Tidore: Indonesia Harus Tetap Utuh

Sultan Tidore: Indonesia Harus Tetap Utuh

Diposting pada 20/08/2019, 14:50 WIT
 PROTES: Rusuh yang terjadi di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/8), buntut insiden penangkapan mahasiswa Papua di Surabaya AP Photo
PROTES: Rusuh yang terjadi di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/8), buntut insiden penangkapan mahasiswa Papua di Surabaya AP Photo

Buntut Rusuh Papua, Mendagri Minta Kada Jaga Ucapan

TERNATE – Rusuh yang terjadi di Papua membuat prihatin banyak pihak. Salah satunya adalah Sultan Tidore Husain Alting Sjah. Sultan pun mengeluarkan imbauan agar perbedaan di Indonesia tidak menjadi dasar bagi perpecahan bangsa.
Kepada Malut Post, Sultan Husain mengungkapkan, pada prinsipnya semua manusia cinta damai dan ingin hidup dalam situasi yang aman. Karena itu, dia berharap semua warga, dan terutama negara, untuk lebih memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan local wisdom di masing-masing daerah. Perbedaan ini, kata dia, sebenarnya menjadi kekayaan jika dikelola dengan cara yang baik. "Oleh karena itu, saya berharap apa yang terjadi pada hari ini mungkin semua pihak bisa menahan diri. Sehingga jangan sampai eskalasi ini lebih berlanjut. Indonesia harus tetap utuh, Indonesia harus tetap bersatu, dan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara dalam artian yang sebenar-benarnya tetap berjalan sebagaimana yang kita harapkan bersama," tuturnya, Senin (19/8).
Sultan yang baru saja terpilih sebagai anggota DPD RI ini juga mengimbau masyarakat yang ada di Pulau Jawa dan sekitarnya agar memperlakukan warga yang datang dari Papua dan Kepulauan Maluku dengan semangat persaudaraan. Ia meminta semua warga dari Indonesia Timur diperlakukan dengan manusiawi. “Sebagaimana orang-orang di Maluku Utara dan orang-orang di tanah Papua memperlakukan mereka dengan cara yang baik di tanah Papua maupun Maluku Utara. Ini adalah bentuk persaudaraan kita antara Papua dengan orang-orang yang ada di Pulau Jawa. Beginilah cara kami menerjemahkan bentuk persaudaraan, dan mudah-mudahan saudara-saudara yang di Jawa juga bisa memperlakukan dengan cara yang sama. Ini solidaritas bersama," pintanya.
Keutuhan berbangsa dan bernegara, kata dia, perlu dikedepankan. Adapun hal-hal yang mungkin menimbulkan keresahan seperti pemicu bentrok Papua bisa dicarikan solusi dengan duduk bersama. “Sehingga semuanya menjadi sejuk, dan dapat meramu dan merajut kembali tali persaudaraan ini demi keutuhan bangsa dan negara yang kita cintai ini,” kata Sultan.

Jaga Bicara
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengimbau kepada seluruh kepala daerah agar berhati-hati ketika berbicara dan menyampaikan pernyataan. Apalagi jika pernyataan yang disampaikan berkaitan dengan masyarakat Papua.
Tjahjo mengingatkan ada banyak masyarakat Papua yang tinggal dan bersekolah di kota-kota besar di Indonesia. Jangan sampai pernyataan sekecil apa pun bisa memantik emosi di masyarakat, khususnya masyarakat Papua. "Ya, kan, di beberapa kota kan banyak para pelajar mahasiswa dari Papua, ada di Yogyakarta, Makassar, Salatiga, kemudian Jakarta, saya minta termasuk diri saya untuk hati-hati dalam membuat statement," kata Tjahjo di Gedung Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Senin (19/8).
Menjaga ucapan menjadi hal penting karena pernyataan sekecil apapun bisa menimbulkan opini yang berbeda hingga menyebabkan kesalahpahaman. Bahkan, menurut Tjahjo, pernyataan yang kurang hati-hati dari kepala daerah bisa memantik emosi hingga insiden besar. Dia mencontohkan kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Papua Barat. "Ya karena statement sekecil apapun kalau emosional tanpa terkendali itu bisa menimbulkan opini yang berbeda dan bisa menimbulkan kesalahpahaman dan bisa menimbulkan seperti yang terjadi di Manokwari dan Jayapura," kata dia dilansir dari CNN Indonesia.
Rusuh di sejumlah daerah di Papua kemarin diduga dipicu oleh pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. Kerusuhan juga diduga dipicu pernyataan Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko mengancam bakal memulangkan mahasiswa asal Papua ke daerah asalnya. Ungkapan ini diutarakan Sofyan setelah demo Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia for West Papua di Malang pada Kamis (15/8) berujung ricuh.
Wali Kota Malang Sutiaji mewakili Pemerintah Kota Malang menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas bentrokan yang terjadi pada Kamis (15/8) antara sekelompok warga Kota Malang dengan mahasiswa asal Papua pada saat akan menyampaikan pendapat di Balai Kota Malang, Jawa Timur. Sutiaji mengatakan bahwa bentrokan yang terjadi antara sekelompok warga Kota Malang dengan mahasiswa asal Papua tersebut berawal dari kesalahpahaman antara kedua pihak. "Atas nama Pemerintah Kota Malang, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Kemarin itu di luar pengetahuan kami," kata Sutiaji seperti dikutip Antara di Balai Kota Malang, Senin (19/8).

Penyelidikan Terbuka
Wakil Presiden Jusuf Kalla mempertanyakan dugaan bendera merah putih yang dibuang hingga berujung insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, 16 Agustus lalu. Menurut JK, polisi harus menyelidiki lebih lanjut dan menjelaskan persoalan tersebut secara terbuka. "Dari keterangan polisi itu kan mengamankan karena mau ada serangan, tapi belum terjadi hanya ramai-ramai dikepung gitu. Tentu ada sebabnya, ada yang bicara ada yang buang bendera merah putih di selokan. Apa benar itu? Semua harus terbuka," ujar JK di kantor wakil presiden, Jakarta, Senin (19/8).
Insiden ini bermula dari ratusan massa beratribut ormas FPI dan Pemuda Pancasila yang mendatangi asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Kedatangan ormas itu dipicu beredarnya foto bendera merah putih yang disebut dibuang ke selokan oleh mahasiswa Papua.
JK tak menampik bahwa kerusuhan yang terjadi di Manokwari tak lepas dari insiden pengepungan asrama tersebut. Ia menilai, masyarakat Papua yang turun ke jalan hanya ingin mendapat kejelasan terkait persoalan tersebut. "Ya tentu kita prihatin dan menyesalkan kejadian itu. Semua akibat apa yang terjadi di Surabaya, di Malang, itu tentu perlu dijelaskan terbuka. Saya lihat masyarakat di Papua hanya ingin minta klarifikasi dan (permintaan) maaflah," katanya.
Ia menekankan pentingnya keterbukaan informasi dari aparat kepolisian, TNI, maupun pemerintah daerah setempat agar persoalan ini dapat segera diselesaikan. "Keterbukaan dan sistem informasi. Persiapan dari semua aparat polisi, dibantu TNI, dan pemda juga saling kerja sama. Mudah-mudahan ini tidak melebarlah," ucap JK.
Insiden pengepungan di depan asrama mahasiswa Surabaya itu sempat memanas ketika sejumlah personel kepolisian memaksa masuk ke asrama sambil membawa senjata pelontar gas air mata pada Sabtu (17/8) kemarin. Sebanyak 43 mahasiswa di dalamnya pun dibawa ke Mapolrestabes Surabaya untuk dimintai keterangan lebih lanjut meski akhirnya dibebaskan.
Insiden itu pun berbuntut pada situasi di Manokwari yang memanas pada Senin (19/8) pagi. Aksi juga disertai pembakaran gedung DPR dan MRP Papua Barat. Selain Manokwari, aksi juga digelar di sejumlah kota seperti Jayapura.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga mengakui kerusuhan di Manokwari dipicu insiden penyerangan dan pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, dan kejadian di Malang. "Kita sudah tahu bahwa hari ini (kemarin, red) ada kejadian di Manokwari. Ada aksi anarkis dan juga ada pemukulan massa. Ini dipicu karena kejadian di Jatim khususnya di Surabaya dan Malamg. Ini tentu kita sesalkan," kata Tito, saat ditemui RS Bhayangkara, Surabaya, Senin (19/8).
Menurut Tito, apa yang terjadi di Surabaya dan Malang sebenarnya hanya peristiwa kecil. Namun ada oknum tertentu yang memanfaatkan kejadian di dua kota tersebut untuk memicu kerusuhan yang lebih besar lagi. Oknum tersebut kemudian menyebarkan informasi yang tak benar atau hoaks di media sosial. Di antaranya ucapan atau makian yang dialamatkan kepada mahasiswa Papua. Lalu ada informasi bahwa ada satu mahasiswa Papua yang tewas di Surabaya.
Situasi Manokwari memanas, Senin (19/8) pagi, usai mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa. Aksi juga disertai pembakaran gedung DPR Papua Barat.(cr-03/cnn/kai)

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan