Rabu, 11 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / NASIONAL / Polri Kantongi 5 Akun Medsos Pemicu Kerusuhan

Polri Kantongi 5 Akun Medsos Pemicu Kerusuhan

Diposting pada 21/08/2019, 14:32 WIT
PROTES: Puluhan pelajar Papua yang sedang menempuh pendidikan di Kota Bandung menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jabar, Senin (19/8) Rachmadi Rasyad/kumparan
PROTES: Puluhan pelajar Papua yang sedang menempuh pendidikan di Kota Bandung menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jabar, Senin (19/8) Rachmadi Rasyad/kumparan

JAKARTA - Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menemukan lima akun media sosial yang diduga sebagai penyebab aksi unjuk rasa berujung kerusuhan di Papua dan Papua Barat. "Ada lima akun, ya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Selasa (20/9).
Dedi menyampaikan saat ini Dittipid Siber masih mengumpulkan data terhadap akun media sosial tersebut, baik Youtube maupun Facebook. Akun itu, kata Dedi, diduga menyebarkan narasi hingga video berkonten provokatif. "Viralkan narasi-narasi maupun video provokatif," ujarnya dilansir dari CNN Indonesia.
Selain itu, Dedi mengungkapkan Dittipid Siber juga menganalisa akun Instagram yang juga diduga menyebarkan konten provokatif.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut aksi demo yang terjadi di Papua Barat dan Papua dipicu oleh insiden yang sebelumnya terjadi di Asrama Papua di Surabaya dan Malang. Namun peristiwa itu sudah bisa diselesaikan.
Tito menduga ada oknum tertentu yang memanfaatkan kejadian di dua kota tersebut untuk memicu kerusuhan yang lebih besar lagi. Oknum tersebut kemudian menyebarkan informasi yang tak benar atau hoaks di media sosial. Di antaranya ucapan atau makian yang dialamatkan kepada mahasiswa Papua. Lalu ada informasi bahwa ada satu mahasiswa Papua yang tewas di Surabaya.
Hal itulah yang diduga menjadi penyebab warga Papua di Manokwari dan Jayapura memanas. Alhasil, kerusuhan di wilayah tersebut semakin membesar tidak bisa lagi terhindarkan. "Muncul hoaks mengenai ada kata yang kurang etis dari oknum tertentu. Ada juga gambar seolah adik-adik kita dari Papua meninggal. Ini berkembang di Manokwari kemudian terjadi mobilisasi massa," kata Tito.
Selain itu, viral video yang merekam sejumlah oknum berseragam TNI di depan Asrama Papua. Dalam video itu tampak lima orang berseragam loreng meminta orang yang berada di asrama segera keluar. Makian terdengar dalam video tersebut, namun sumber suara tidak diketahui jelas.
Video makian tersebut viral di media sosial dan memicu kemarahan warga Papua di sejumlah kota pada Senin (19/8). Aksi protes berujung kerusuhan pecah di Manokwari, Jayapura, Sorong, bahkan meluas ke Makassar. Mereka memprotes aksi rasial yang dianggap menghina warga Papua.
Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menyatakan akan menyelidiki dugaan aksi rasial berupa makian terhadap mahasiswa Papua di Kota Surabaya. Dia menyatakan pihaknya menjalin komunikasi dengan instansi terkait dalam kasus ini.
Sementara itu, pihak TNI menanggapi video viral berisi makian di depan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Kepala Penerangan Kodam V Brawijaya Letkol Arm Imam Haryadi menyesalkan ada makian yang menyebut mahasiswa Papua sebagai binatang.
Hal ini merespons video yang merekam sejumlah oknum berseragam TNI di depan Asrama Papua. Dalam video itu tampak lima orang berseragam loreng meminta orang yang berada di asrama segera keluar. Makian terdengar dalam video tersebut, namun sumber suara tidak diketahui jelas.
Imam menyatakan dalam kasus ini pihaknya bersikap netral dan tidak sependapat dengan isu rasial yang berkembang di publik. Dia menduga situasi itu juga didorong oleh emosi sesaat tanpa bermaksud menyinggung secara rasial.
Meski demikian, pihaknya menyesalkan ada makian yang kemudian dianggap sarat isu rasial. "Perlu kami sesalkan ada makian seperti itu, ada kata-kata seperti itu. Pihak yang berwenang mungkin akan menindaklanjuti, siapa yang bertindak seperti itu," kata Imam.
Imam membenarkan peristiwa tersebut memang terjadi di Surabaya. Namun, dia belum bisa memastikan apakah ada anggota TNI yang berada di tempat itu. Menurutnya, seragam loreng juga biasa digunakan oleh anggota ormas tertentu. "Perlu kami cek lagi, apakah itu betul seragam TNI. Banyak juga ormas yang mirip seragam kami," ujarnya.
Dia menegaskan apabila terbukti ada anggotanya yang melakukan pelanggaran dalam kasus ini, maka pihaknya akan memberikan sanksi tegas. "Kalau anggota TNI, akan kami cek dari kesatuan mana dan pasti ditindaklanjuti prosesnya sesuai ketentuan," ujarnya.
Namun Imam menyatakan Kodam Brawijaya tidak memberikan instruksi apapun kepada anggotanya untuk turun ke Asrama Papua di Surabaya. Prajurit TNI akan turun ke lapangan dalam situasi tertentu. "Saya pikir kurang tepat [TNI di Asrama Papua]. Sebenarnya saat itu ada pihak lain, Satpol PP atau kepolisian," katanya.
Dia mengatakan pihak TNI telah berkoordinasi dengan kepolisian. Menurutnya, koordinasi di lapangan dilakukan antara Kodim dan Polres setempat.(cnn/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan