Senin, 16 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Perjumpaan Sehari-hari Satukan Saudara se-Ambon Lagi

Perjumpaan Sehari-hari Satukan Saudara se-Ambon Lagi

Diposting pada 26/08/2019, 04:59 WIT
PEJUANG PERDAMAIAN: Opa Rudi Fofid (kanan) bersama wartawan Malut Post di Tidore, Rabu (24/7)
PEJUANG PERDAMAIAN: Opa Rudi Fofid (kanan) bersama wartawan Malut Post di Tidore, Rabu (24/7)

Bersua Opa Rudi Fofid, Pejuang Perdamaian Maluku Penerima Maarif Award 2016

Konflik horizontal yang melanda Maluku 20 tahun silam sempat membuat renggang hubungan masyarakat setempat. Ditambah pemberitaan media yang saat itu kerap bias, situasi justru kian memanas. Opa Rudi Fofid hadir sebagai sosok yang menyambungkan kembali tali persaudaraan itu.

Mahfud H. Husen, Tidore

NAMA lengkapnya Joseph Matheus Rudolf Fofid. Namun orang yang mengenalnya lebih suka memanggilnya Opa Rudi Fofid. Ia juga lebih suka dipanggil begitu.

Dua pekan terakhir, Opa Rudi tengah berada di Kota Tidore, Maluku Utara. Ia sedang riset untuk tulisannya tentang kampung-kampung adat di Tidore. Di rumah milik Mansyur Jamal di RT/RW 002/001 Kelurahan Tomagoba, Kecamatan Tidore, Malut Post menemuinya.

Publik mungkin mengenal Opa Rudi sebagai salah satu sastrawan dan penulis yang juga pejuang perdamaian penerima Maarif Award 2016. Namun bagi warga Maluku, kiprah pria kelahiran Langgur, 17 Agustus 1964 ini sudah membekas di hati jauh sebelum itu.

Saat pecah konflik kemanusiaan pada 19 Januari 1999 di Maluku, Opa Rudi awalnya tak menyangka hal itu akan bertahan dalam kurun waktu yang cukup lama. Dipikirnya sehari dua lagi semua sudah akan kembali normal. Namun ia salah. “Situasinya justru terbalik, suasana semakin tegang, eskalasi semakin meningkat,” kisahnya kepada Malut Post, Rabu (24/7).

Opa Rudi dan rekan-rekannya memutuskan mengadakan pertemuan pada 26 Januari. Yang hadir sekira 15 orang dari unsur muslim maupun non-muslim. Tujuan pertemuan itu: evaluasi. “Sinode GPM dan Uskup mengurus jemaatnya, Alfatah dan Posko Keadilan juga mengurus jamaah Islam,” tutur bapak empat anak ini.
Dalam pertemuan uti diputuskan dibentuklah relawan kemanusiaan. Anggotanya terdiri atas warga Islam maupun Kristen. Mereka turun di 14 titik pengungsian untuk menyalurkan bantuan bagi pengungsi. “Saat itu Batu Merah (desa di Kecamatan Sirimau, red) tidak ada yang berani melewatinya jika tanpa pengawalan,” sambung Opa Rudi.

Namun Opa Rudi dan rekan-rekan relawan bisa melewati wilayah tersebut dengan lebih dulu menyurat di raja dan para ketua-ketua pemuda. Dalam surat itu dipaparkan apa yang mereka lakukan disertai pelat nomor mobil yang digunakan relawan. Alhasil, di tengah situasi yang memanas, relawan kemanusiaan ini bisa tetap leluasa menyalurkan bantuan ke pengungsi Islam maupun Kristiani, dari pagi sampai malam. “Perjumpaan-perjumpaan ini yang harus kita lakukan dan membangun kepercayaan bahwa dalam situasi apapun masih ada harapan,” kata Rudi.

Saat itu, sambung Opa Rudi, jurnalisme sangat buruk. Terutama media-media di Jakarta yang tidak ada di lapangan dan hanya menggunakan sumber sekunder lalu memuat berita dengan bias. Rudi dan rekan-rekannya lalu mendirikan media bernama Maluku mediacenter.net. “Ini untuk menghadang berita yang sifatnya provokatif dan tidak benar,” ceritanya.

Semua idealisme jurnalis dikerahkan untuk mengakhiri perang media yang berlangsung selama satu tahun. Pada 2000, perkembangan situasi semakin membaik. Para relawan menempati sebuah rumah di antara pemukiman Kristen dan Islam. “Dengan begitu orang-orang bisa menyaksikan perempuan berjilbab maupun perempuan tidak berjilbab Kristen bisa masuk ke rumah itu. Sehingga orang bisa tahu bahwa Islam dan Kristen bisa berjumpa,” tukasnya.

Menurut Rudi, hal itu mungkin terlihat biasa saja. Namun ini tidak pernah dilakukan gubernur maupun negara dan tokoh-tokoh jika turun di suatu lokasi. Sebaliknya, mereka justru dikawal aparat bersenjata lengkap. “Hal sesederhana inilah yang kemudian membuat orang percaya dan saling melakukan perjumpaan antara Islam dan Kristen,” ujarnya.

Perjuangan Opa Rudi menyambungkan kembali tali silaturahmi warga muslim dan kristiani tak berhenti begitu saja pasca konflik usai. Pasalnya, perkampungan muslim masih terpusat di utara Kota Ambon, sebaliknya kampung-kampung nonmuslim di selatan kota. “Hal ini membuat masyarakat baik muslim dan nonmuslim saling menjaga jarak dan takut menginjakkan kaki di perkampungan muslim apabila dia non-muslim, pun sebaliknya. Setelah konflik ini selesai, kapan orang Kristen itu pergi ke kampung muslim? Apakah kita harus menunggu orang dari belahan bumi luar mengajak kita untuk ketemu?” tutur Opa Rudi.

Pria yang kini berusia 55 tahun ini lantas memutuskan datang ke kampung muslim. Kunjungannya itu disebarluaskan dari satu orang ke orang lain. “Orang-orang kemudian menganggap saya ini berani, padahal itu kan kampung muslim,” ungkapnya.

Setelah beberapa saat berada di perkampungan muslim, ia kemudian balik perkampungan nonmuslim. Banyak pertanyaan yang dilontarkan warga nonmuslim, apakah dirinya baik-baik saja selama di kampung tetangga.

Saya tegaskan tidak apa-apa, bahkan saya mengajak saudara yang nonmuslim ini untuk jalan-jalan ke perkampungan muslim. Saya ajak mereka dan tidur di sana. Setelah itu mereka pulang lalu menceritakan ke orang-orang bahwa orang muslim itu baik, diperlakukan baik, dikasih makan. Begitu pula sebaliknya. Ini dibikin terus menerus. Kapan saja, sekalipun jam 2 pagi diajak pergi, tetap saya pergi dengan membawa orang-orang yang baru,” paparnya.

Saling mempertemukan orang muslim dan non-muslim ini terus dilakukan Opa Rudi. Dalam waktu yang lama, orang-orang ini akan saling kait-mengait antara satu dengan yang lain, baik nonmuslim ataupun muslim. Semakin lama orang-orang ini tidak lagi memandang perbedaan dan akhirnya saling keluar masuk dengan sendirinya. “Dan saya anggap itu bukan karena saya, namun karena timbul kesadaran dari dalam diri masing-masing setiap orang,” ucapnya.

Sepak terjang Opa Rudi ini sampai juga ke telinga Maarif Institute selaku penyelenggara Maarif Award. Penghargaan tahunan ini memiliki sistem pengajuan nominator dilakukan oleh publik. Nama Opa Rudi diusulkan tanpa ia sendiri tahu siapa saja yang mengusulkan. “Saat itu saya sedang berada di Kampung Mamala-Morela di Leihitu, Mengikuti proses perdamaian di kedua kampung tersebut,” ungkapnya.

Opa Rudi memang sering terlibat dalam proses perdamaian antar warga berbeda keyakinan. Antarkampung yang bertikai pun jadi perhatiannya. Para raja bahkan sampai curhat ke Pangdam Pattimura bahwa Opa Rudi adalah satu-satunya orang yang bisa dengan bebas keluar masuk kampung-kampung yang berkonflik. “Mungkin pembicaraan ini kemudian didengar Maarif sehingga menjadikan saya sebagai nominatornya. Padahal saat konflik 1999 itu jika orang-orang mencari jejak saya di Google pasti tidak mendapati aktivitas apapun. Tapi tampaknya itu yang dicari Maarif, bekerja dalam sunyi tanpa publikasi,” sambungnya.

Meski begitu besar jasanya, Opa Rudi tetap merasa tak pantas menerima penghargaan itu. Sebab baginya, berbuat untuk banyak orang bukanlah sesuatu yang perlu dapat imbalan.

Lebih jauh, langkah-langkah yang diambil Opa Rudi kental dengan harapan orang-orang tidak lagi merasa takut dan cemas dalam beraktivitas. Dia bilang, jika menggunakan pendekatan agama tidak bisa, cara kreatif lain bisa dipakai, yakni dengan mengajak anak muda bergabung dengan komunitas sastra, fotografi, olahraga hingga seni. “Semua komunitas kita gabung jadi satu. LSM, pemerintah, aparat TNI/Polri berusaha kemudian didukung dengan hal sederhana ini disertai perjumpaan yang kita lakukan ini bisa meredam suasana yang tadinya tegang menjadi tenteram dan seterusnya sampai saat ini,” tandasnya.(cr-03/kai)

 

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan