Rabu, 29 Januari 2020

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Datang dari Curhatan Si Penyanyi yang Juga Atlet Tinju

Datang dari Curhatan Si Penyanyi yang Juga Atlet Tinju

Diposting pada 26/08/2019, 15:28 WIT
KREATIF: (Dari kiri) Bredhicx Poitz, Sanza Soleman dan Farid Agell, sosok-sosok di balik suksesnya “Nyong Manis” ASMARANI FOR MALUT POST
KREATIF: (Dari kiri) Bredhicx Poitz, Sanza Soleman dan Farid Agell, sosok-sosok di balik suksesnya “Nyong Manis” ASMARANI FOR MALUT POST

Orang-orang di Balik Suksesnya Tembang “Nyong Manis”

Beberapa pekan belakangan, lagu “Nyong Manis” viral di Indonesia Timur. Baik melalui aplikasi Tik Tok maupun YouTube. Siapa sangka, lagu garapan musisi Ternate, Maluku Utara, ini punya pesan mendalam dibaliknya.

Putri Citra Abidin, Ternate

“Waktu itu kita haga pa dia
Senyum manis kumis tipis sapa yang punya
Hati ini rasa macam gelisah
Mau dekat tapi tako ada yang marah”

LIRIK sederhana tapi ngena, musik asyik buat joget, ditambah penggarapan video clip yang keren, tak heran tembang “Nyong Manis” jadi viral belakangan ini. Nyong sendiri adalah bahasa lokal Maluku Utara yang merupakan sebutan untuk lelaki muda yang belum menikah.

Populernya lagu yang didendangkan Sanza Sabila Soleman ini juga tak lepas dari fenomenalnya aplikasi Tik Tok. Boleh dibilang, “Nyong Manis” menemukan wadah tepat untuk promosi lagu lewat Tik Tok.

Popularitas “Nyong Manis” melebar hingga YouTube. Baru 2 pekan dirilis lewat channel Alfatih Record, sudah 1,6 juta kali clip-nya ditonton. Uniknya, rata-rata netizen mengira lagu tersebut berasal dari Nusa Tenggara Timur. Nyatanya, “Nyong Manis” pure merupakan hasil kreasi anak-anak Ternate.

Kepada Malut Post, Bredhicx Poitz si penulis lagu menceritakan, “Nyong Manis” berasal dari curhatan Sanza yang tak lain adalah ponakan Bred sendiri. “Curhat rahasia. Dapat ide tentang pantau yang paling banyak, (jadi) dia memantau seorang laki-laki,” cerita penulis lagu Asmarani Nona Tidore itu saat ditemui di Kelurahan Kasturian, Ternate Utara, Kamis (22/8). Sanza yang ada di sampingnya tersenyum malu.

Dari curhatan Sanza dan musik yang disodorkan Music Director Farid Egall, Bred hanya butuh waktu semalam membuat “Nyong Manis”. “Dikasih musik malam hari, besoknya sudah jadi. Lirik dari saya, judulnya dari Bang Farid. Musiknya asyik sekali, jadi terbawa dalam menulis lirik,” aku Bred yang punya nama asli Muhammad Rizal ini.

Bred dan Farid mengakui, warna musik “Nyong Manis” memang mirip musik-musik dari NTT. Namun liriknya tetap menggunakan bahasa lokal Maluku Utara. “Awalnya saya ajak Babang Bred, minta kolaborasi project musik modern. Dan 2 hari setelah dihubungi, langsung diserahkan musiknya kepada Bang Bred,” kata Farid, anak muda Kalumata.

Sanza menambahkan, kebanyakan netizen yang menikmati “Nyong Manis” memang mengira lagu itu berasal dari NTT. “Banyak komen, banyak dari NTT. Viral pertama di Maumere, Alor, Kupang. Ketahuan dari berbagai macam komen yang masuk via YouTube channel hingga ke akun Instagram pribadi Sanza. Mereka pada follow, pasang di story,” kisah Sanza.

Sebelum di-upload ke YouTube, “Nyong Manis” ternyata sudah lebih dulu viral. Pasalnya,teaser 30 detik yang diunggah adik Sanza langsung booming di Tik Tok. “Padahal itu pun cuma iseng upload teaser. Ternyata beberapa hari kemudian cek di Tik Tok grafiknya naik dari 2 ribu, sampai sekarang kalau tidak salah sudah 50 ribuan,” papar dara 19 tahun itu.

Menurut pengamatannya, kebanyakan pengguna Tik Tok dari kaum lelaki juga menggunakan lagu “Nyong Manis” sebagai backsound. “Mulai dari polisi, tentara, mereka kayak pede begitu jadi nyong manis kumis tipis,” terang Sanza yang juga atlit tinju Malut ini.

Dari Tik Tok, orang-orang makin penasaran dengan versi utuh “Nyong Manis”. Seminggu setelah booming di Tik Tok, video clip “Nyong Manis akhirnya resmi dirilis di YouTube. “Pada tanggal 7 agustus 2019, kita resmi upload di YouTube channel milik Babang Bred. Pas di-upload disertakan juga promonya yang di Tik Tok,” ujar Sanza.

Jika proses kreatif penulisan lagu terbilang mudah, beda lagi dengan proses rekamannya. Pasalnya, peralatan yang mereka gunakan tergolong sederhana. Sanza harus take recording beberapa kali. “Take-nya dari jam 3 sampai selesai jam 9,” imbuhnya. Pengambilan gambar untuk video clip pun dilakukan di Pantai Tolire dan rooftop Hotel Corner.

Sanza yang pernah ikut Pra Olimpic Association Boxing U18–20 di Thailand ini juga mengakui kedekatannya dengan sang paman. Meski begitu dia sempat terkejut mengetahui curhatannya dijadikan lagu. Ditanya siapa sosok nyong manis kumis tipis yang dia curhatkan pada Bred, Sanza lagi-lagi tersenyum malu. “Itu privasi, antara aku dan Babang Bred,” ucap putri Rusdy Soleman dan Rugaya Syarif ini.

Setelah tembus angka 1 juta viewers di YouTube, Sanza berbagi pengalaman yang tak disangka-sangkanya. “Pernah lagi makan, orang-orang pada bertanya-tanya, ini yang nyanyi ‘Nyong Manis’? Lalu pada minta foto,” kenangnya. Saat datang ke bandara untuk mengantar sang paman pun ia harus melayani permintaan foto dari orang-orang yang mengenalinya. “Dari situ jadi tahu juga kalau lagunya benar-benar viral.”

Dan ternyata, “Nyong Manis” tak hanya enak didengar dan asyik untuk goyang. Lagu ini menyimpan pesan yang tegas soal asmara. “Ada pesan yang mengisyaratkan bahwa seorang perempuan tidak perlu lah merebut punya orang. Kalau memang sang nyong sudah ada yang punya, janganlah jadi pelakor (perebut laki orang, red), biar disimpan di hati saja,” jelas Bred yang sudah berkecimpung di dunia musik sejak 2014.

Mewakili timnya, Farid mengungkapkan banyak musisi daerah yang punya potensi besar namun masih terkendala pada music producer-nya. “Rata-rata orang kalau nyanyi bisa, cuman untuk debut singel album, susah. Apalagi di Kota Ternate dengan keterbatasan music producer,” terangnya.
Keresahan itu lantas membuat Farid mengajak para musisi Maluku Utara untuk berkaca dari daerah-daerah luar. “Untuk lagu daerah seperti ‘Nyong Manis’ itu pasarnya ada, dan besar peluangnya,” katanya optimis.

Menurut dia, pada 2019 ini musik timur sedang dilirik secara universal. “Makanya sebelum buat musik lagu ‘Nyong Manis’, saya lihat dulu pasarnya untuk di Ternate, diterima atau tidak,” sambungnya.

Gencar melakukan promo untuk “Nyong Manis”, Farid terkadang merasa campur tangan pemerintah daerah belum dirasakannya. “Sejauh ini masih bergerak sendiri. Belum lagi dari alat, kalau dibilang mumpuni juga belum terlalu. Namun untuk progress tetap harus ada,” ujarnya. “Saya dan Bred juga melihat potensi penyanyi lokal di Ternate, kira-kira bisa kita kasih pasarnya juga atau tidak.

Pokoknya kita usahakan buka pasarnya lagi untuk market lagu lain selain lagu yanger wayase.”
Farid optimis, lewat “Nyong Manis” ini orang dari luar bisa mengukur kemampuan lagu daerah Malut. Dia berharap “Nyong Manis” bisa mendobrak deretan lagu-lagu dari luar daerah yang kerap dipopulerkan anak muda Malut. “Masih banyak yang perlu dibenahi, ditambah, dari alat hingga SDM-nya. Namun saya yakin ke depan kita bisa mengenalkan lagu lokal asli Maluku Utara ke daerah luar,” pungkasnya.

Label milik Farid, Alfatih Record juga getol mencari talenta-talenta Malut untuk diajak bikin musik bersama. “Kita cari talent lokal, kita kasih musiknya yang khusus lagu daerah,” pungkasnya.(mg-05/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan