Sabtu, 21 September 2019

 Headline
MALUT POST / / 6 Warga Togutil Ditangkap

6 Warga Togutil Ditangkap

Diposting pada 27/08/2019, 14:03 WIT
GIRING: Para terduga pelaku pembunuhan warga Waci digiring ke Mapolres Haltim untuk mengikuti konferensi pers, Senin (26/8) M. KABIR/MALUT POST
GIRING: Para terduga pelaku pembunuhan warga Waci digiring ke Mapolres Haltim untuk mengikuti konferensi pers, Senin (26/8) M. KABIR/MALUT POST

Tersangka Pembunuhan Kali Waci,
Terancam Hukuman Mati

8 Orang Dinyatakan Buron

MABA – Misteri pembunuhan tiga warga Desa Waci, Kecamatan Maba Selatan, Halmahera Timur Maret lalu sedikit demi sedikit mulai terkuak. Kepolisian Haltim Senin (26/8) kemarin mengumumkan telah menangkap enam tersangka pelaku pembunuhan. Polisi mengaku masih memburu terduga pelaku lain yang jumlah totalnya mencapai belasan orang.

Keenam tersangka yang diamankan polisi merupakan orang suku terasing Tobelo Dalam yang sudah lama dirumahkan pemerintah setempat. Orang Tobelo Dalam kerap disebut dengan sebutan orang Togutil.

Para terduga pelaku bermukim di dua dusun di Kecamatan Wasile Timur. Namun polisi mengaku belum bisa membocorkan dusun tempat tinggal keenam orang itu lantaran pelaku lainnya masih dalam pencarian. Informasi yang dihimpun //Malut Post//, jarak antara tempat tinggal para tersangka pelaku pembunuhan di Wasile Timur dengan para korban di Waci mencapai 73,3 kilometer.

Dalam konferensi pers kemarin, Kapolres Haltim AKBP Driyano Andri Ibrahim mengungkapkan, enam tersangka tersebut masing-masing berinisial HL, HB, AG, RT, ST, dan TH. Usia mereka rata-rata di atas 40 tahun.

Menurut Driyano, penangkapan keenam terduga pelaku dilakukan personel polisi yang tergabung dalam Tim Wato-Wato. Penangkapan itu sendiri terjadi berkat laporan Halim Difa (53), warga Waci yang juga korban selamat dalam tragedi pembunuhan di hutan Kali Waci Maret lalu. “Informasi disampaikan saksi korban selamat Halim Difa kepada tim penyidik Polres Haltim pada 17 Agustus kemarin,” ungkapnya di Mapolres Haltim.

Sabtu (17/8) lalu, kutip Kapolres, Halim bersama sesama petani, Mutalib Ramli, warga Desa Sangaji, pulang dari kebun. Sesampainya di hutan dekat Kali Sangaji, keduanya berpapasan dengan HL. Halim tampaknya masih ingat betul pelaku yang diduga melakukan pembunuhan terhadap tiga warga yang salah satunya adalah putra Halim sendiri.

Setelah melihat HL, Halim lantas melaporkan keberadaan tersangka ke penyidik Polres. "Alhamdulillah atas informasi itu penyidik kita langsung menuju Desa Sangaji dan paginya berhasil amankan pelaku HL di rumah salah satu warga Desa Sangaji sehingga langsung digiring untuk dimintai keterangan di Polres Haltim," ungkap Driyano.

Dari mulut HL, sambung Kapolres, terungkaplah identitas pelaku lain. Tim Wato-Wato pun bergerak cepat menangkap lima tersangka lainnya. Penangkapan memakan waktu hampir sepekan. “Jadi pelaku bertambah setelah adanya keterangan dari pelaku HL," ucapnya.

Selain mengamankan para pelaku, polisi juga menyita barang bukti berupa tombak, celurit, parang, anak panah, kayu, batu, serta pakaian tersangka di kediaman para terduga pelaku. Pakaian korban dari tempat kejadian perkara juga diamankan. "Alat bukti yang ada ini dibenarkan tersangka maupun korban telah digunakan saat pembunuhan di hutan Kali Waci sekitar pukul 17.00 WIT hingga malam hari," terang Driyano.

Polisi menyatakan, para pelaku sudah mengakui perbuatan mereka. Berdasarkan pengakuan tersebut dan barang bukti yang diamankan, polisi menyimpulkan bahwa pembunuhan terhadap tiga warga Waci adalah pembunuhan berencana. Pasalnya, para korban sudah diincar sejak memasuki hutan Kali Waci untuk berburu. "Sehingga kami kenakan Pasal 340, Pasal 338 dan Pasal 351 ayat (1) junto 55 ayat (1) KUHPidana tentang pembunuhan berencana dengan sengaja menghilangkan nyawa orang dan turut serta melakukan tindak pidana maka diancam hukum penjara mati, seumur hidup dan hukum penjara minimal 20 tahun. Kami juga memiliki alat bukti lain yaitu visum rektum dari dokter ahli," jabar Kapolres.

Selain keenam tersangka tersebut, polisi juga menetapkan delapan orang lain dalam daftar pencarian orang (DPO). Penetapan ini tak lepas dari keterangan para tersangka yang sudah diamankan, bahwa pelaku yang ikut melakukan pembunuhan berjumlah setidaknya 14 orang. “Jadi skenario Pembunuhan Warga Waci ini terdiri dari dua kelompok, namun belum dapat kami sampaikan desa atau tempat tinggalnya karena demi kepentingan lebih lanjut. Karena saat ini kami sudah turunkan anggota untuk mengamati keberadaan para DPO itu," terang Driyano.

Kapolres mengungkapkan, motif sementara pembunuhan sadis tersebut adalah persaingan wilayah perburuan sebagai tempat mencari makan di hutan. Kepolisian juga membeberkan peran masing-masing tersangka dalam aksi pembantaian tersebut.

ST bertugas menebang pohon yang kemudian dijadikan jebakan untuk para korban. Lalu AG bertugas memotong pohon dan mencincang tubuh para korban usai pembunuhan dilakukan. Sementara HB kebagian tugas memotong dan menajamkan pohon untuk membunuh korban. HB juga mendapat tugas lain yakni memanah kelompok warga Waci yang diketahui akan mengikuti jalur hutan tersebut.

Sedangkan terduga pelaku HL, RT, dan ST bertugas memotong kayu, melakukan pelemparan terhadap korban dengan batu dan kayu, serta memotong tubuh korban di TKP.

Selain menangkap terduga pelaku, polisi juga sempat mengamankan KR, seorang warga Desa Tewil, Maba, Minggu (25/8) kemarin. Namun KR sejauh ini masih berstatus sebagai saksi. Usai dimintai keterangan, ia dipulangkan ke rumahnya. “Tapi meski demikian, saksi KR ini diminta wajib lapor kepada polisi," tukas Kapolres Driyano.

Kapolres mengimbau seluruh warga Haltim agar ikut menjaga situasi keamanan di daerahnya masing-masing. Dia juga meminta warga mempercayakan penanganan kasus tersebut kepada polisi. “Serta minta dukungan dalam menuntaskan kasus ini tanpa membuat gejolak yang dapat mengganggu kamtibmas. Karena tim kami juga sudah berikan edukasi kepada masyarakat melalui petugas Bhabinkamtibmas,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, pembunuhan sadis yang menimpa warga Waci terjadi pada 29 Maret lalu. Saat itu, Halim Difa bersama sang putra Yusuf Halim (34) dan tiga warga Waci lainnya, yakni Karim Abdurrahman (56), Habibu Salatun (62) dan Harun Muharam (36) masuk hutan untuk mencari pala hutan. Mereka ke hutan sejak Selasa (26/3).

Lantaran pala yang dicari belum waktunya dipanen, rombongan petani ini memutuskan sekalian berburu rusa. Mereka memutuskan keluar hutan pada Jumat (29/3) dengan hasil buruan seekor rusa.
Namun sesampainya di Kali Waci, kelima orang ini diserang setidaknya 12 orang tak dikenal (OTK). Penyerangan dilakukan dengan panah, parang dan tombak. Yusuf, Karim dan Habibu terluka dan tewas di TKP. Sedangkan Halim mengalami luka di kaki namun nyawanya terselamatkan oleh gelap malam yang datang. Harun, satu-satunya yang tak terluka, berhasil meloloskan diri ke kamp perusahaan kayu dan meminta pertolongan.

Selain melakukan pembunuhan, para pelaku juga mencincang-cincang mayat tiga warga esok harinya. Pembantaian ini menyita perhatian publik lantaran bukan pertama kalinya terjadi di hutan Kali Waci.

Dimana pembunuhan pertama kali tercatat pada 1987 ketika salah satu warga Waci bernama Kasiruta (61) ditemukan tewas di hutan sekitar Kali Waci. Lalu pada September 2013 sepasang suami istri yakni Arbae (57) dan Adanan Ruba (55) dibantai dengan panah dan tombak. Peristiwa kelam itu kembali terjadi pada Juni 2014 ketika Masud Watoa (40) dan putranya Marlan Watoa (9) terbunuh di hutan yang sama.(ado/kai)

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan