Sabtu, 21 September 2019

 Headline
MALUT POST / / Terdakwa Penistaan Agama Diputus Bebas

Terdakwa Penistaan Agama Diputus Bebas

Diposting pada 04/09/2019, 14:17 WIT
SIDANG: Gresia Yakob Desana alias Greis selaku ketua YBSN, usai mengikuti sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Tobelo Senin (2/9) kemarin.
SIDANG: Gresia Yakob Desana alias Greis selaku ketua YBSN, usai mengikuti sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Tobelo Senin (2/9) kemarin.

Jaksa Ajukan Banding

Editor : Fitrah A Kadir
Peliput : Ramlan Harun

TOBELO –Terdakwa kasus penistaan agama yang terjadi di kabupaten pulau Morotai,  Gresia Yakob Desana alias Greis selaku ketua YBSN, diputuskan bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tobelo. Putusan PN ini diperkuat melalui amar putusan yang dibacakan dalam   
sidang lanjutan pekara dengan nomor:57/Pid.B/2019/PN.Tobelo, Senin (2/9) kemarin. Greisa akhirnya divonis bebas saat mengikuti jalannya sidang pembacaan amar putusan yang dipimpin langsung hakim ketua, Martha Maitimu didampingi hakim anggota Daimon D. Siahaya dan Rachmat Hi. La Hasan. Sementara jaksa penuntut Kejari Pulau Morotai yang hadir dalam persidangan kemarin yakni Muhammad Dasim diikuti kuasa hukum terdakwa, Hendry Indraguna dan 4 orang rekannya. Dalam amar putusan PN Tobelo nomor:57/Pid.B/2019/PN.Tob, majelis hakim menyatakan, dari fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan sebelumnya, baik pemeriksaan saksi-saksi, saksi ahli, keterangan terdakwa dan barang bukti berupa bendera merah putih, trompet, roti cripsi dan lainnya, terbukti secara sah dan meyakinkan jika terdakwa Greis bersalah melakukan tindak pidana melanggar unsur-unsur pasal 378 KUHP, yakni penipuan, pemalsuan suatu alamat. Dimana, alamat YBSN dirubah dan tidak diberitahukan ke Kemenhumham.

Sebab, lanjut majelis hakim, alamat YBSN sesuai akta notaris berlokasi di Genville, Jakarta Barat namun dirubah dengan alamat Bolivard Jaya, blok QA III, kelapa Gading, Jakarta Utara.

"Akan tetapi para saksi ahli pidana menilai bukan suatu bentuk pemalsuan dan penipuan, sebab mereka ada pengurus, hanya saja berpindah aktivitas,"kata Majelis hakim. Dalam sidang kemarin, majelis hakim juga
menyampaikan bahwa terdakwa, terbukti melaksanakan kegiatan pada tanggal 21 februari 2019 di pantai Army Dock, desa Pandanga kecamatan Morotai Selatan. "Telah melaksanakan kegiatan sosialisasi bahaya narkoba dan seks bebas serta kegiatan karnaval merah putih,"ucapnya.

Perbuatan terdakwa, lanjut majelis, masuk unsur-unsur pasal 156a KUHP yang secara tegas menjelaskan, barang siapa dimuka umum mengeluarkan perasaan permusuhan atau kebencian yang telah melukai hati agama lain. Meski demikian menurut keterangan dari saksi ahli pidana dan tokoh agama justru  menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan bukan tindakan penistaan agama mana pun. Sehingga, dari pertimbangan tersebut, majelis hakim memutuskan bahwa terdakwa terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan, akan tetapi bukan merupakan perbuatan tindak pidana.

Selanjutnya, melepaskan terdakwa Gresia Yakob Dedana alias Greis dari segela tuntutan hukum. Kemudian, pihak majelis hakim juga memerintahkan segera membebaskan terdakwa dari tahanan setelah putusan itu dibacakan. Dalam amar putusan itu juga ikut memerintahkan agar hak-hak terdakwa, baik dalam kemampuan, kedudukan dan martabatnya serta menetapkan barang bukti berupa proposal yang terdiri dari 5 lampiran dan rekomendasi dari Dikbud pulau morotai, segera  dikembalikan kepada terdakwa.

Setelah mendengar putusan majelis hakim, jaksa penuntut Kejari Pulau Morotai yang tidak puas lantas menyatakan secara tegas adanya upaya hukum lanjutan yang nantinya ditempuh melalui banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Malut. Putusan PN Tobelo ini lantas mengundang rekasi dari berbagai kalangan, terutama Majelis Ulama Indonesia (MUI) kabupaten pulau Morotai. Seperti yang disampaikan Hi. Arsyad Haya, ketua MUI. Dalam kesmepatan kemarin, Hi. Arsyad lantas mempertanyakan putusan bebas terhadap  Gresia Yakob dari segala tuntutan hukum. "Jika bebas mereka menggunakan pasal mana sehinga tersangka bisa bebas dari jeretan hukum. Sebagai ketua MUI, saya merasa tidak puas dengan keputusan  pengadilan,"akunya. Karen itu, pihaknya meminta agar kasus penistaan agama yang dilakukan Greia dan rekan-rekan di YBSN harus disut tuntas.

“Masalah seperti ini, baik pihak kepolisian,  kejaksaan harus selesaikan dengan tuntas, sampai hari ini, kami tidak juga tidak dikabarkan sejauh mana keputusan itu. Kami akan mempertanyakan hal ini ke pihak yang berkompeten, dalam hal ini pihak kepolisian dan  kejaksaan,"janjinya. Dalam kesmepatanm ini, pihaknya juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Morotai agar bisa menjaga stabilitas keamamanan, pasca putusan bebas yang dibacakan PN Tobelo. "Saya takut gejolak bisa saja terjadi seperti kemarin jika kasus ini tidak ditangani secara benar. Sekali lagi saya tegaskan, pasal mana yang mereka gunakan sehingga bisa bebas,"pungkasnya.(cr-04/tr-04/aji)

 

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan