Selasa, 17 September 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Edukasi Adalah Seni, Harus Digarap dengan Kreasi

Edukasi Adalah Seni, Harus Digarap dengan Kreasi

Diposting pada 05/09/2019, 14:40 WIT
PEDULI PENDIDIKAN: Sashabila Widya Lufi talia Mus (berkerudung) bersama para pengisi acara Futured Talk 2019 yang diselenggarakan Sabtu (31/8) malam kemarin
PEDULI PENDIDIKAN: Sashabila Widya Lufi talia Mus (berkerudung) bersama para pengisi acara Futured Talk 2019 yang diselenggarakan Sabtu (31/8) malam kemarin

Sashabila Widya Lufi talia Mus dan Upaya Mengembangkan Pendidikan Ala Milenial

Pengalamannya bersekolah di luar negeri membuat Sashabila Widya Lufitalia Mus punya wawasan luas. Terutama bagaimana ia memandang baiknya pendidikan dikembangkan. Sebagai anak muda, juga sebagai mahasiswa, Salsabila punya pandangan sendiri soal pendidikan ideal.

MT Bambang Cahyadi, Ternate

MALAM itu (31/8), lantai 3 Paddock Café and Resto dipenuhi anak muda. Mereka serius mantengin talk show terkait isu pendidikan, lingkungan dan kesehatan yang diisi Direktur LSM Rorano Asgar Saleh dan Ketua KNPI Kota Ternate Sahroni Hirto. Tema kegiatan boleh serius, namun kemasannya yang milenial membuat anak-anak muda ini betah. Apalagi ada musikus Sombanusa dan Shae yang punya nama asli Sheryl Gething.

Futured talk tersebut digagas Sashabila Widya Lufitalia Mus. Nama dara yang akrab disapa Sasha ini mungkin belum begitu familiar di telinga warga Maluku Utara. Namun dari marganya, semua orang pasti tahu siapa Sasha.

Yup, dia adalah putri sulung politikus kawakan yang juga mantan Bupati Kepulauan Sula, Ahmad Hidayat Mus (AHM) dan Nurrokhmah. Sasha memang lebih banyak menghabiskan waktu di luar Malut, lantaran pendidikannya ditempuh di luar. Namun kepeduliannya pada daerah ini ia buktikan lewat program pendidikan nonformal penuh kreasi. Salah satunya ya futured talk itu.

Saat diwawancarai usai kegiatan, Sasha mengaku ia hingga kini masih terus berproses dalam banyak hal. Satu hal yang ia sadari, ilmu dan pengetahuan tak hanya didapat dari bangku pendidikan formal. “Jadi apa yang kita lakukan malam ini adalah membuka ruang belajar untuk banyak orang,” tutur mahasiswi The University of Manchester, Inggris ini.
Lewat future education, pendidikan tak hanya didapat di ruang kelas saja.

Semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru. “Makanya dalam melakukan edukasi dalam pendidikan kita butuh kreativitas dan seni, misalkan seperti musik, puisi, cerpen, itu juga bagian dari ruang pendidikan yang memang jarang kita temukan di dalam ruang belajar formal,” kata Sasha yang kuliah di jurusan Urban Planning and Regional Development ini.
Mengapa pendidikan formal maupun nonformal begitu penting di mata Sasha? Pesan kedua orangtuanya lah yang selalu ia ingat. “Bahwa sekolah itu bukan untuk menjadi abdi negara, tapi untuk jadi abdi masyarakat. Berguna bagi banyak orang,” ujar dara kelahiran Cilacap ini.

Sasha juga percaya, untuk melakukan sesuatu yang besar tak harus memiliki jabatan dulu. Sebab semesta akan mengiringi orang-orang yang telah menetapkan niat. “Kalau kita percaya pada kekuatan alam semesta, bahwa hati kita sudah berada di suatu tempat yang kita sukai, itulah yang harus kita perjuangkan,” paparnya.

Salah satu langkah konkrit yang dilakukan Sasha adalah mendirikan Warna Taliabu. Saat ini baru langkah awal, namun ia sudah bertekad sekembalinya dari Inggris nanti sekolah alternatif itu akan lebih serius digarap. “Jadi lebih ke pendidikan yang mengedukasi dengan seni. Seni tidak hanya terbatas pada lukis, sastra, musik sebagainya, tapi mindset kita tentang pendidikan itu sendiri adalah seni,” katanya.

Sejak usia 13 tahun, Sasha sudah menempuh pendidikan di luar negeri. Ia pernah merasakan sistem pendidikan di Singapura, Australia, hingga Inggris. Sasha mengaku bersyukur orangtuanya diberi rezeki untuk memberinya akses pendidikan terbaik. Karena itu, ia ingin menyebarkan apa yang ia dapatkan pada orang lain. “Ke depan juga ingin bikin perpustakaan, tapi yang inklusif dan sesuai dengan jiwa anak muda. Supaya generasi milenial makin betah di perpustakaan,” imbuhnya.
Selama berada di Malut, Sasha tak pernah menempatkan dirinya sebagai putri AHM. Ia berbaur dengan siapa saja, belajar dari siapa saja.

Kesukaannya belajar ini untuk mendorong produktivitas kaum perempuan juga. “Perempuan Maluku Utara, apalagi perempuan milenial sekarang ini, memang sudah harus keluar dari sistem ‘perbudakan’. Kita bisa bangkit, kita bisa belajar bisnis, mendapat edukasi yang pasti secara berkepanjangan. Perempuan adalah titik dari segalanya, karena itu harus diprioritaskan,” tandasnya.(mg-06/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan