Sabtu, 21 September 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / Gelar Dialog Tuntut RUU PKS Disahkan

Gelar Dialog Tuntut RUU PKS Disahkan

Diposting pada 06/09/2019, 13:49 WIT
DIALOG:Suasana Dialog WMT di Kampus FKIP
DIALOG:Suasana Dialog WMT di Kampus FKIP

TERNATE – Pelecehan dan Kekerasan seksual semakin marak menimpa kaum perempuan, mulai dari anak kecil hingga orang tua, dari kasus pelecehan seksual hingga pemerkosaan dan pembunuhan dengan cara tragis, namun terkadang korban justru tidak mendapatkan keadilan dengan berbagai alasan.

Hal ini diungkapkan Koordinator Women's March Women's March Ternate (WMT), Acha Jubair dalam diskusi dan konsolidasi untuk pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), Kamis (5/9). Menurutnya, ketidakadilan itu terjadi karena saat dibawa ke ranah hukum, perempuan justru yang disalahkan karena  berbagai alasan, mulai dari berpakaian mini dan berjalan sendiri, sehingga mengundang hasrat seksual pada pelaku.  Karena itu, pelaku dikenai pasal yang ancamannya ringan, bahkan terkadang diselesaikan secara kekeluargaan.  “Makanya, pelaku dan lingkungan kita tidak henti-hentinya melakukan pelecehan dan kekerasan seksual pada perempuan, karena hukum kita tidak kuat. Kekerasan seksual terhadap perempuan dianggap biasa saja padahal sangat mengganggu psikologi perempuan," paparnya.

Inilah yang menjadi inisiasi WMT berinisiatif untuk berdiskusi sekaligus membuat gerakan untuk mendesak pemerintah mengesahkan RUU-PKS itu. Karena, semua poin  di  dalamnya melindungi serta membimbing korban hingga pulih dari pukulan psikologi akibat kasus tersebut.

"Kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan sangat urgent, Malut darurat kekerasan terhadap perempuan, sudah  seharusnya ada payung hukum yang berpihak pada korban,” tambahnya seraya mengaku  kegiatan ini bukanlah yang pertama, karena  tuntutan ini telah dimulai sejak Maret lalu bertepatan dengan Hari perempuan Internasional, ini juga yang menjadi dasar lahirnya organisasi ini Women March atau Maretnya perempuan
turun ke jalan untuk menyuarakan pelecehan dan kekerasan seksual ini sampai mendesak pemerintah mengesahkan RUU PKS ini.

WMT sendiri merupakan organisasi perempuan yang terdiri dari para mahasisiwi dan perempuan yang punya kesadaran menyuarakan haknya. “Kami berharap, siapa saja punya kesadaran untuk menyuarakan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Dan sama-sama mendesak pemerintah mengesahkan RUU-PKS ini," pungkasnya. (tr-01/nty).

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan