Selasa, 17 September 2019

 Headline
MALUT POST / MAJANG POLIS / Mukhtar: ICCF tak Sentuh Masyarakat Bawah

Mukhtar: ICCF tak Sentuh Masyarakat Bawah

Diposting pada 07/09/2019, 12:04 WIT
Mukhtar Adam
Mukhtar Adam

TERNATE – Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2019 yang digelar di Ternate dianggap hanya kegiatan seremonial biasa. Dampak dari kegiatan ini tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat menengah ke bawah yang ada di Kota Ternate. “ Kegiatannya banyak yang terpusat di hotel jadi yang untung hanya pengusaha perhotelan bukan masyarakat bawah,” sentil Akademisi Unkhair Dr Mukhtar Adam, Jumat (6/9).  

    Menurut Mukhtar, kalaupun ada efek bagi masyarakat berpenghasilan kecil itu tidak terlalu signifikan. Ini menujukan kegagalan Pemerintah Kota Ternate dalam pembinaan UMKM yang  kreatif. Padahal momentum ini harus menjadi ajang promosi besar-besaran bagi para pelaku UMKM. Bila dilihat fakta yang ada, sambung Mukhtar, pelambatan pertumbuhan UMKM sangat terasa. Ini dikarenakan kesalahan dalam mengelola pasar UMKM. “ Efek acara ICCF hanya slogan yang tak bermakna. Orang-orang teriak kreatif tapi tidak mendorong tumbuhnya kreativitas bagi generasi muda. Semua juga teriak kolaborasi tapi buat kegiatan, peluk gunung Gamalama tidak memiliki nilai yang bisa dinarasikan kesan, sehingga kesannya hanya buat saja,” terangnya.

    Bagi Mukhtar, momentum ICCF ini harusnya bisa menjadi modal dari kolaborasi yang dilandasi nilai babari. Dengan begitu masyarakat secara sukarela melibatkan diri dengan etos babari. Semua unsur dapat dilibatkan misalnya, BUMN BUMD, instansi vertikal multistakeholder lainnya. “ Konsep kolaborasi Babari ini akan menyemangati nilai keberagaman yang dilandasi penyatuan Indonesia melalui kelompok multi etnis di kota Ternate seperti kapita cina, kapita Arab, kapita Jawa kapita Makassar. dengan berbusana adat mengelilingi pulang akan mendapatkan pesan keberagaman,” tandasnya.

    Mukhtar bilang, jika benar kegiatan “Gugu Gia Si Gololi Ternate” melibatkan 42.000 orang, lalu itu didesain, setiap orang harsu menggunakan  “tuala lipa”,  maka berapa banyak home industri yang tumbuh,  berapa banyak produksi yang akan di hasilkan oleh masyarakat untuk mendukung kegiatan yang menyemangati keberagaman itu. “ Lihat saja banyak kepala daerah  yang datang ke Ternate tidak ada simbol Ternate yang bisa dipakaikan kepada para tamu, para tamu tidak dihadiaih   kreativitas anak-anak Ternate sehingga, orang berduit itu malah tidak membelanjakan uangnya di Ternate, padahal diharapkan setiap even dapat berdampak pada kesejahteraan rakyat dari tumbuhnya pasar bagi produk KUKM. Akibatnya para tamu yg kembali tidak bisa membawa oleh-oleh dari Ternate bagasi para tamu tidak bertambah padahal para tamu memiliki uang yang cukup untuk di belanjakan,” Jabar Mukhtar.

    Pemkot lanjut Mukhtar, mmebuat kegiatan Gugu Gia si Gololi Ternate hanya terkesan memecahkan rekor MURI, akibatnya kegiatan tersebut tidak berdampak pada nilai budaya, nilai keberagaman nilai kesejahteraan bahkan hasilnya kehilangan nilai dasar dari konsep membangun kolaborasi yang semangati Babari pun tidak menjadi materi jualan dalam visi membangun kota kreatif.  (mg-06/rul)

 

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan