Selasa, 17 September 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Menang Berkat Nava 9 dan Malika Resort

Menang Berkat Nava 9 dan Malika Resort

Diposting pada 07/09/2019, 12:15 WIT
INSPIRATIF: Faldo Andre Honggowidjojo di Gedung Teatro Sociale, Como, Italia FALDO ANDRE HONGGOWIDJOJO FOR JAWA POS
INSPIRATIF: Faldo Andre Honggowidjojo di Gedung Teatro Sociale, Como, Italia FALDO ANDRE HONGGOWIDJOJO FOR JAWA POS

Arsitek Faldo Andre Mendapatkan Dua Penghargaan Bergengsi Kelas Dunia

Faldo Andre Honggowidjojo kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Dia mendapatkan dua penghargaan dalam ajang A’ Design Award & Competition di Como, Italia.

SEPTIAN NUR HADI, Surabaya

GEMPITA A’ Design Award & Competition di Como, Italia, tiga bulan lalu masih diingat jelas oleh Faldo Andre Honggowidjojo. Pada malam gala dinner event tahunan yang berlangsung Jumat (28/6) itu, Faldo mendapatkan dua piala.

Pria kelahiran Surabaya tersebut menceritakan, saat memberikan sambutan, ketua dewan juri mengatakan bahwa tahun 2019 menjadi kompetisi tersulit yang pernah ada dalam sejarah desain. ”Itu bikin kami para peserta kompetisi tegang,” kata Faldo.

Menurut juri, ada puluhan ribu desain dari berbagai belahan bumi yang mengikuti kompetisi tersebut. Untuk bisa menjadi pemenang, seluruh peserta harus melewati proses penilaian yang sangat ketat. Mulai uji preliminary, nominasi, eliminasi, hingga uji kualifikasi dan keabsahan. ”Semua itu dilakukan dengan standar dunia dan tanpa memandang latar belakang para peserta,” tambah Faldo.

Tidak sedikit arsitek dari perusahaan ternama harus mundur karena tidak lolos ke babak berikutnya. Tetapi, Faldo tetap optimistis karya-karyanya bisa menjadi yang terbaik dalam penganugerahan bergengsi itu. ”Juri nggak memandang latar belakang para peserta. Apakah sebelumnya pernah juara atau tidak. Pemenang ditentukan murni dari karya yang diikutsertakan,” kata pria kelahiran 14 Juli 1990 tersebut.

Pada kompetisi itu, Faldo mengirimkan desain Vila Nava 9 dan Malika Resort. Dua desain bangunan tersebut mempunyai konsep yang berbeda. Vila Nava 9, misalnya. Bangunan tersebut terinspirasi mitologi Nordik tentang pohon raksasa, Yggdrasil, yang menghubungkan sembilan dunia.

Pembuatan desain bangunan itu membutuhkan waktu tiga bulan. Faldo membuat desain sembilan vila yang terintegrasi dengan pemandangan laut. Dia memilih Semenanjung Siung, Lombok, sebagai lokasi vila. Yang teristimewa dari desain tersebut, Faldo membikin pintu masuk dari sisi bukit dan menghubungkan setiap vila dengan jembatan. Setiap vila memiliki pemandangan yang berbeda. ”Itulah yang membedakan dengan desain bangunan lain di Indonesia,” ucap dia.

Demikian juga Malika Resort. Bhinneka Tunggal Ika menjadi konsep dalam pembuatan desain bangunan tersebut. ”Tidak hanya menampilkan suku budaya Indonesia, tapi juga suku budaya di seluruh benua. Keunikan yang terdapat pada negara-negara tersebut disajikan pada Malika Resort,” ujar lelaki 29 tahun itu. Berkat dua karyanya tersebut, Faldo mendapatkan dua penghargaan dalam kategori yang sama. ”Kategori architecture, building and structure design,” katanya.

Faldo memang langganan mendapat penghargaan. Sebelumnya, dia masuk Top 10 Desainer Terbaik Indonesia, Top 500 Desainer Arsitektur Terbaik di Dunia, Most Popular Designer in the World, dan terakhir Listed in Best Designer of the World. ”Semua penghargaan tersebut didapatkan pada tahun ini,” tambah dia.

Dengan prestasi tersebut, Faldo pun dipercaya menjadi anggota dewan internasional untuk industri kreatif di ICCI Italia. Dalam keanggotaannya tersebut, dia berperan sebagai konsultan di bagian desain arsitektur.

Faldo mengatakan, semua prestasi yang didapatkannya itu bisa dijadikan sebagai pembuktian bahwa Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata. ”Kita sudah layak bersaing dengan negara-negara maju lain,” katanya.

Setiap menjadi juara, dengan bangga Faldo akan menceritakan bahwa dirinya adalah warga Indonesia. ”Biasanya kalau ada kejuaraan desain arsitektur, yang menang selalu dari negara-negara Benua Eropa dan Amerika. Namun, tidak untuk saat ini. Indonesia bisa berdiri di atas podium kemenangan,” paparnya.

Faldo menambahkan, banyak yang mengira bahwa dirinya bukan warga Indonesia. ”Akhirnya tanpa mereka bertanya, saya selalu berkata bahwa saya berasal dari Indonesia,” terangnya.

Semua penghargaan itu, lanjut Faldo, didapat dengan kerja keras dan perjuangan. Tetapi, jiwa mendesain memang sudah ada pada dirinya. ”Suka desain sejak usia 3 tahun,” tuturnya. Pensil sudah jadi teman terbaiknya. Sudah tidak bisa lagi dipisahkan. ”Paling enggak bisa melihat selembar kertas putih tergeletak begitu saja,” katanya. Pesawat dan gedung merupakan gambar favoritnya. ”Menggambar juga nggak mengenal waktu dan tempat. Kalau sedang di jalan, seperti dalam pesawat, juga aku sempatkan untuk menggambar,” ujar lelaki yang sudah menulis tiga buku mengenai arsitektur tersebut.(jpc/kai)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan