Selasa, 17 September 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Buket Bunga Beda Warna Biar tak Tertukar

Buket Bunga Beda Warna Biar tak Tertukar

Diposting pada 10/09/2019, 10:50 WIT
SERBA SYAR’I: Empat pasang guru tahfidz quran yang menikah lewat proses taaruf dengan konsep pernikahan yang begitu syar’i, Sabtu (7/9)
SERBA SYAR’I: Empat pasang guru tahfidz quran yang menikah lewat proses taaruf dengan konsep pernikahan yang begitu syar’i, Sabtu (7/9)

Ketika Empat Pasang Guru Tahfi dz Quran Menikah Barengan

Nuansa pernikahan syar’i begitu terasa di pernikahan unik tersebut. Disebut unik karena bukan hanya sepasang pengantin yang menikah, namun empat sekaligus. Mereka merupakan guru-guru tahfidz quran di Pondok Pesantren Tahfidz Hidayatullah Gambesi yang menikah lewat proses taaruf.

Putri Citra Abidin, Ternate

SATU per satu tamu undangan berdatangan ke Pondok Pesantren Tahfidz Hidayatullah yang terletak di Kelurahan Gambesi, Ternate Selatan, Kota Ternate, Sabtu (7/9). Tamu lelaki dan perempuan masuk ke tenda terpisah. Ya, meski ini jamuan acara pernikahan, tetamu beda jenis kelamin ditempatkan di tempat berbeda.
Akad nikah dan walimatul ‘ursy yang digelar pondok pesantren tersebut terbilang unik. Selain kental nuansa islaminya, jumlah pengantin juga tak hanya sepasang. Dalam pernikahan kemarin, total ada delapan orang alias empat pasang pengantin yang dinikahkan sekaligus.
Para pengantin pun bukan orang biasa. Mereka merupakan guru tahfidz quran di ponpes tersebut yang rata-rata juga penghafal Alquran. Mukhsin Safaruddin menikahi Tuti Sulistia Ningrum, Abdillah A. Samsudin menikah dengan Almar’ah Salim, Muhammad Yunus menikahi Arinni Assa’adah, dan Fikalisman Husain menikah dengan Desi Ibrahim. Undangan empat pasang pengantin pun dijadikan satu, seperti yang diterima Malut Post.
Untuk pelaminan, pengantin laki-laki dan perempuan juga dipisah. Pengantin laki-laki di masjid, yang perempuan diletakkan di saung. Pernikahan massal dengan konsep syar’i ini merupakan kali kedua digelar Ponpes Tahfidz Quran Gambesi. Pada 2010, hal serupa juga dilakukan. “Itu angkatan saya yang nikah seperti ini, dan Malut Post juga publikasikan waktu itu,” kenang Ustaz Saleh Sukur, Pimpinan Ponpes Tahfidz Hidayatullah Gambesi.
Yang tak kalah menarik adalah pakaian pengantin perempuan. Mereka mengenakan baju putih berpola sederhana namun anggun. Potongannya tak membentuk lekuk tubuh, riasan yang digunakan pun tak berlebihan. Cadar menutupi wajah keempat perempuan yang berbahagia itu.
Di tangan masing-masing pengantin perempuan terdapat sebuket bunga. Warnanya berbeda-beda; mauve, kuning, biru dan krem. Warna buket disesuaikan dengan warna baju pengantin pria. “Jadi disesuaikan, kalau yang laki-laki dengan warna baju garis mauve itu kepada wanita dengan bunga berwarna sama. Kalau tidak begitu nanti tertukar atau salah, bisa bahaya,” canda Ustaz Saleh.
Pernikahan empat pasangan ini dimulai dengan pengucapan ijab kabul di masjid pondok. “Sebenarnya satu pasang itu ijab kabulnya di rumah sesuai permintaan keluarga, yang Abdillah dengan Almar’ah. Sisanya secara berurutan ijab kabul di masjid yang disaksikan dan dengarkan oleh para tamu undangan yang hadir,” cerita Ustaz Saleh. “Setelah prosesi ijab kabul, kemudian secara berurutan mempelai laki-laki datang ke saung.”
Selain mengantar mahar, kedatangan para pengantin laki-laki ke saung adalah untuk bertemu istri mereka untuk pertama kalinya setelah dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri. “Antar mahar, sekaligus kalau orang sini bilang pembatalan air wudhu,” tutur Ustaz Saleh.
Usai prosesi akad nikah, tamu perempuan menyalami dan berfoto dengan pengantin perempuan. Begitu pula yang dilakukan tamu laki-laki. Memang begitulah konsep pernikahan syar’i, tamu laki-laki tak diberi kesempatan bertemu pengantin perempuan, juga sebaliknya. “Sedangkan foto bersama keluarga dilakukan selesai para tamu undangan semua pulang. Atau bisa fotonya nanti di rumah,” sambung Ustaz Saleh.
Ustaz Saleh yang juga menjadi ketua panitia pernikahan empat pasang muda-mudi ini mengatakan, kedelapan pengantin itu menikah lewat proses taaruf. Tak ada istilah pacaran dalam perjodohan tersebut. Sebagaimana diketahui, Islam memang melarang mendekati zina, termasuk berpacar-pacaran. “Apalagi mengingat soal nilai syiar yang ingin disampaikan kepada khalayak umum. Paling tidak nilai syiarnya, nikah itu tidak perlu pacaran, cukup kalau ada laki-laki dan perempuan yang saling suka, panggil orangtua, kalau direstui kemudian taaruf bersama orangtua setelah itu nikah,” jelasnya. “Kalau proses yang halal itu misalnya seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, cukup dia lihat, cocok ya sudah taaruf,” tambahnya.
Di tengah maraknya hubungan pacaran di kalangan anak muda, Ustaz Saleh mengatakan soal proses yang menurutnya tidak diridai oleh Allah SWT tersebut. “Kalau prosesi pacaran, ujung-ujung banyak hal yang tidak baik, mulai dari berzina, lalu hamil di luar nikah, aborsi dan lain-lain. Itu adalah proses dari sebuah hal yang tidak diridai atau haram menurut Allah,” terangnya.
Usai para pengantin tergolong masih muda. Namun mereka sudah berkomitmen untuk memperluas jalan ibadahnya melalui pernikahan yang diridai Allah. “Rata-rata umur 21-24 tahun, dan semuanya adalah guru hafidz di pondok,” aku Ustaz Saleh.
Setelah menikah, dua pasang pengantin baru ini akan ditugaskan ke Halmahera Barat dan Halmahera Tengah. “Nantinya ada perintisan pondok, mau buka lembaga tahfidz di sana, makanya nanti pindah,” kata Ustaz Saleh.
Selain keunikannya, pernikahan keempat pasang guru tahfidz quran ini mengandung pesan yang dalam. Diantaranya adalah menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan. “Pesan verbal itu kepada publik bahwa nuansa syariahnya itu jalan, bagaimana menjaga hijab antara perempuan dan laki-laki. Itu yang kita upayakan,” ungkapnya.
Ustaz Saleh juga ingin mengajak kaum lelaki untuk mengubah mindset bahwa walimatul ‘ursy itu harus mewah dan mahal. Karena itu Ponpes Tahfidz Hidayatullah berusaha membantu mereka yang sudah memiliki niat untuk menikah. “Nikah itu tidak harus mahal, bisa patungan. Masyarakat kita masih berpikir bahwa nikah itu mahal, jadi kita di sini ingin meringankan orang susah, ketika laki-laki belum ada cukup rezeki,” jelasnya. “Pernikahan ini semua difasilitasi oleh donatur. Dari mempelai hanya menanggung mahar pernikahan. Tamu undangan dari berbagai macam elemen, termasuk majelis taklim, orangtua/wali tahfidz quran Almunawwar, PAUD Tahfidz Quran Almunawwar dari WAHDA, Kedai Halal, hingga Komunitas Pola Pertolongan Allah,” paparnya.
Ustaz Saleh mengatakan, bagi masyarakat umum yang ingin menikah seperti empat pasang pengantin tersebut, Ponpes Hidayatullah membuka lebar jalan untuk mendaftarkan diri. Sebab pernikahan adalah ibadah, pihak ponpes ingin ikut turut memudahkan jalannya. Tidak hanya dari pihak pondok, kami menerima dari luar juga yang ingin mendaftar. Nanti kita carikan pasangannya kemudian minta restu dari orangtua. Kalau direstui, lanjutkan. Bahkan bisa juga untuk karyawan Malut Post yang ingin mendaftar silahkan, biar lebih ramai,” tutupnya seraya tertawa.(mg-05/kai)
 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan