Sabtu, 07 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / MAJANG POLIS / Laki Bini Kelola Rp 62 M

Laki Bini Kelola Rp 62 M

Diposting pada 11/09/2019, 13:50 WIT
DENGAR DAKWAAN: Terdakwa Fitri Puspita Hapsari alias Upik (28) saat mendengarkan dakwaan JPU dalam persidangan kasus investasi bodong, Selasa (10/9) AKSAL MUIN/MALUT POST
DENGAR DAKWAAN: Terdakwa Fitri Puspita Hapsari alias Upik (28) saat mendengarkan dakwaan JPU dalam persidangan kasus investasi bodong, Selasa (10/9) AKSAL MUIN/MALUT POST

Investasi Bodong, Fitri Didakwa Langgar UU Perbankan

TERNATE – Direktur PT Karapoto Financial Technology Fitri Puspita Hapsari alias Upik (28) akhirnya disidangkan sebagai pesakitan untuk pertama kalinya, Selasa (10/9). Sidang perdana Fitri sebagai terdakwa kemarin beragendakan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dalam dakwaan terungkap, nilai investasi yang disetorkan nasabah kepada Fitri dan suaminya Ardiansyah terbilang fantastis.

Dalam dakwaannya, JPU mengungkapkan sejak tahun 2016 Fitri dan Ardiansyah memulai kegiatan investasi uang di lingkungan keluarga mereka. Saat itu keduanya mengajak Nurrizkiah Juliyanty alias Anti, Sutanty Sidayat alias Tanti, Asrulsani, dan Muhammad Janwar.

Tiap orang yang berinvestasi mendapat profit sebesar 50 persen dari jumlah uang yang diinvestasikan dalam jangka waktu 44 hari.
Pada awal 2017, Fitri dan Ardiansyah, yang saat ini telah ditetapkan sebagai buronan polisi, mengembangkan investasi tersebut hingga ke luar lingkungan keluarga. Pasangan suami istri (pasutri) ini pun merekrut orang-orang yang bertugas mencari nasabah yang bersedia melakukan investasi. Mereka ini disebut leader.

Anti, Tanti, Asrulsani dan Janwar tetap menjadi leader. Sedangkan leader baru adalah Ruslan Sidayat, Hairunisa Koja, Rosmala Katang, Ekawati Andi Mahmud, Sulastri H. Abdul Latif, Megawati Amra, dan Suriadi. Janwar fokus mencari nasabah di Kepulauan Sula, Suriadi di Halmahera Utara, sedangkan sisanya di Ternate. Masing-masing leader mendapat jatah profit 10 persen dari tiap investasi yang ditanam nasabah.

Selain leader, Fitri dan Ardi juga merekrut Junior Djoko Satrio alias Joko yang tak lain adalah ayah kandung Fitri. Joko yang saat ini juga telah berstatus terdakwa bertugas menerima uang nasabah dari para leader lalu meneruskannya pada Fitri dan Ardi. Para nasabah dijanjikan bunga sebesar 50 persen dari dana yang diinvestasikan dalam jangka waktu 44 hari.

Praktik penghimpunan dana yang awalnya lewat bendera PT Arta Puspa Jaya lalu beralih ke PT Karapoto ini berlangsung hingga 2018. Dalam jangka waktu itu, ribuan warga Maluku Utara ikut menginvestasikan uangnya dalam perusahaan tersebut. Total dana yang dikelola Fitri dan Ardiansyah mencapai Rp 62,5 miliar. Itu pun belum semua data investasi leader tercatat.

JPU menjabarkan dalam dakwaannya, leader Ruslan Sidayat menerima dana investasi dari 80 nasabah senilai Rp 3,8 miliar. Anti menerima dana dari 78 orang nasabah sebesar Rp 16,7 miliar (Rp 16.703.450.150). Termasuk didalamnya dana dari Saksi Asrin Gailea sebesar Rp 302 juta.

Sementara itu, leader Asrulsani menerima Rp 8 miliar dari 100 nasabah. Ekawati menerima Rp 11 miliar, Tanti menerima Rp 20 miliar dari 200 nasabah, serta Janwar menerima Rp 3 miliar dari 300 orang nasabah. Total dana yang dikelola ini adalah Rp 62.503.450.150.

Uang puluhan miliar tersebut, sambung JPU, dikelola bersama Fitri dan Ardi. Namun pada Mei 2018 perputaran uang mulai tersendat. Pasutri ini pun kesulitan membayar dan mengembalikan uang nasabah.

JPU berkesimpulan, kegiatan penghimpunan dana masyarakat oleh Fitri dan Ardi, yang lantas disimpan dalam bentuk simpanan dengan keuntungan tertentu, merupakan kegiatan perbankan. “Dimana dalam hal melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat atau nasabah tersebut haruslah mendapat izin usaha dari pimpinan Bank Indonesia atau dari Otoritas Jasa Keuangan. Akan tetapi, kegiatan yang dilakukan oleh Terdakwa tanpa izin usaha dari pimpinan Bank Indonesia,” ungkap JPU Iwan Caunang.

Alhasil, Fitri didakwa melakukan perbuatan melanggar hukum yakni menghimpun dana tanpa izin usaha dari pihak berwenang. Ia diancam pidana melanggar Pasal 46 ayat (1) junto Pasal 16 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 10 Tahun 1998 junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 junto KUHP Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Kredit Macet
Pada hari yang sama kemarin, ayah Fitri, Junior Djoko Satrio alias Joko juga disidangkan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Saksi yang dihadirkan JPU adalah Hasrul, leader sekaligus tenaga administrasi perusahaan.

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Nova Laura Sasube itu, Hasrul mengungkapkan, pada 2016 ia ditugaskan meng-input data leader investasi Arta Puspa. “Mencatat uang masuk dan uang keluar sesuai dengan catatan yang diberikan saudara Terdakwa kepada saya untuk di-//input// ke komputer,” ucapnya.

Menurut Hasrul, uang yang disetorkan nasabah kepada leader kemudian diteruskan pada Joko. Joko juga mencairkan profit nasabah berdasarkan perintah Fitri dan Ardiansyah. “Catatan-catatan itu Terdakwa Joko telah mencatat, maka tugas Joko memberikan catatan tersebut untuk saksi yang meng-input di komputer,” jelasnya.

Setahu Hasrul, perusahaan yang mempekerjakannya awalnya sudah punya izin. Ini diketahuinya dari Fitri. Namun belakangan izin tersebut dicabut meski di sisi lain kegiatan menghimpun dana tetap berjalan.

Berdasarkan hasil kerjanya dan bonus 10 persen yang diberikan perusahaan dari tiap investasi, Hasrul membeli sebuah mobil Toyota secara kredit. Tiap bulan ia harus menyetor Rp 11 juta ke dealer. Namun kredit itu kemudian macet seiring persoalan yang terjadi di perusahaan. Pihak dealer pun menyita mobilnya. “Sedangkan untuk tugas input data tiap bulan saya dibayar Rp 1,5 juta,” tutur Hasrul.

Hasrul juga mengaku tahu tentang tiga unit mobil yang dibeli Fitri dan Joko. Selama bekerja pada kurun waktu 2016 sampai 2017, Hasrul memperkirakan bonus yang ia terima sudah mencapai Rp 400 juta.

Usai mendengarkan keterangan saksi, Hakim pun memutuskan melanjutkan persidangan Selasa (17/9) pekan depan.(mg-07/kai)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan