Minggu, 20 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / EKONOMI / Pengusaha Tidore Ekspor Fuli

Pengusaha Tidore Ekspor Fuli

Diposting pada 16/09/2019, 13:45 WIT
KUALITAS EKSPOR: Contoh fuli yang diekspor ke India
KUALITAS EKSPOR: Contoh fuli yang diekspor ke India

Kirim Lima Ton ke India

Peliput: Suryani S. Tawari
Editor: Bukhari Kamaruddin

TERNATE - Untuk pertama kalinya, Maluku Utara (Malut) melakukan ekspor fuli ke Indonesia.
Ekspor perdana dari Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, Jumat (13/9) pekan lalu, merupakan bentuk sinergitas dari pengusaha, Bea Cukai Ternate, Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate, PT Pelindo IV  serta Kantor Kesyahbandaran Dan Otoritas Pelabuhan (KSOP)  Ternate.

Kepala Kanwil Ditjen Bea Cukai Maluku  Finari Manan mengatakan,  ekspor perdana ini sebagai komitmen bersama untuk memajukan perekonomian Malut. Menurutnya selama ini Malut cenderung bergantung pada pertambangan yang sewaktu-wwaktu akan habis, karena itu perlu dilakukan pengembangan sektor lain sebagai penggerak perekonomian Malut seperti hasil bumi dan perikanan.  Beberapa tahun dilakukan ekspor, tapi  hanya dari perikanan, namun Jumat lalu dilakukan ekspor langsung dari Malut oleh CV Tugulufa Indah dari Kota Tidore Kepulauan. “Ekspor langsung ini memberikan devisa yang dapat bermanfaat bagi pembangunan Malut,” ucapnya.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil mengapresiasi kinerja semua instansi yang telah melakukan ekspor perdana fuli, karena selama ini banyak hambatan.  Barang ekspor ini sudah diperiksa dokumen dan fisik dari karantina Pertanian,  untuk memastikan keamanan komoditas terbebas dari hama. Sesuai persyaratan negara tujuan, produk selaput biji pala tersebut juga diberikan perlakuan berupa fumigasi menggunakan metil bromida dosis 48 g/m3 selama 24 jam. "Setelah kita pastikan semua aman, sehat tidak ada hama penyakit sesuai persyaratan sanitary_ dan _phytosanitary_ dari negara tujuan, barulah kita keluarkan sertifikat phytosanitary-nya sebagai jaminan dari Indonesia sehingga barang itu tidak kembali lagi ketika dikirim," tuturnya.

Berdasarkan data otomasi Balai Karantina Pertanian melalui IQFAST, ada 5 komoditas unggulan yaitu kopra, cengkih, biji pala, biji kakao dan fuli atau selaput biji pala. Karena itu perlu dilakukan sinergitas yang baik untuk dilakukan ekspor .

Plt Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate drh. Ida Bagus Hary Soma Wijaya dan Kepala Bea Cukai Ternate Musafak menuturkan, sinergitas dengan berbagai pihak akan terus dilakukan untuk dilakukan ekspor langsung dari Malut.

Gubernur Malut yang diwakili Asisten III Salmin Janidi mengatakan, tugas pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan untuk kepentingan rakyat karena rakyat merupakan modal utama untuk diberdayakan disemua sektor. Dan ekspor perdana fuli pala ini menjadi langkah awal untuk dilakukan ekspor. “tahun depan akan bersinergi dengan Bea cukai Ternate, Balai Karantina dan berbagai stake holder untuk dilakukan ekspor,” ucapnya.

Sementara akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate Mukhtar Adam mengatakan, pemerintah perlu memastikan harga dari perpindahan pasar tidak mengakibatkan petani dirugikan. “Kita butuh pemda memfasilitasi itu yang tentunya tidak hanya ekspor dari Malut, tapi harga jualnya tidak merugikan petani,” ucapnya.  Jika harga pasar dieksportir India sama atau lebih di atas, maka kebutuhan barang ekspor akan terpenuhi.

Dia menambahkan permasalahan ekspor langsung dari Malut adalah kontainer ekspor tidak ada. Pemda harus memperhatikan hal ini. Sebab jika kontainer ekspornya dari Malut, maka izin yang keluar juga dari Malut. Selama ini izin ekspor PIB dikeluarkan Bea Cukai  keluar dari Manado, Surabaya dan Makassar. Sekarang ada eksportir yang melakukan ekspor ke India, maka Pemda harus menyambut ini, sepanjang harganya tidak merugikan petani lokal.

“Pemda juga turut membantu sosialisasikannya, sehingga eksportir tidak kesulitan mendapatkan barang ekspor,” tuturnya.  Dia juga minta agar eksportir dari India juga buka diri untuk bangun jaringan distribusi ke desa-desa, karena diyakini dalam satu bulan bisa dilakukan ekspor dua kali. “Perlu duduk bersama untuk bahas persoalan ini,” pungkasnya. (tr-02/onk).

Share
Berita Terkait

Tiket Mahal, Penumpang Pesawat Turun

16/04/2019, 12:33 WIT

Ultah ke-56, Taspen Cegah Stunting

12/04/2019, 08:58 WIT

Basuki: Jangan Ambil Kerang

18/04/2019, 09:25 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan