Minggu, 20 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / POLITIK / BNN Bakal Sasar Pekerja Tambang

BNN Bakal Sasar Pekerja Tambang

Diposting pada 17/09/2019, 14:07 WIT
DIALOG: Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba BNNP Malut H. Haeruddin Umaternate (kiri) saat memaparkan materinya di dialog yang digelar Sabua Rakyat, baru-baru ini
DIALOG: Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba BNNP Malut H. Haeruddin Umaternate (kiri) saat memaparkan materinya di dialog yang digelar Sabua Rakyat, baru-baru ini

Pastikan Daerah Penambangan Bebas dari Narkoba

SOFIFI - Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Maluku Utara (Malut) akan melakukan pengawasan dan tes urine bagi Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China yang tersebar di sejumlah perusahaan pertambangan di Malut. Ini ditegaskan Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba BNN Provinsi Malut, H. Haeruddin Umaternate saat dialog di kedai Sabua Rakyat, Jumat malam (13/9).

Dia mengatakan, BNNP Malut telah menyurati Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk kepentingan pemeriksaan narkoba di perusahaan tambang yang ada di Malut.  “Kita sampaikan ke Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten agar BNN bisa masuk ke perusahaan tambang,” ungkap Haerudin.
Keberadaan TKA di Malut, kata dia, cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Sebagian besar di antara mereka berasal dari Tiongkok yang bekerja di perusahaan pertambangan. Jumlahnya kini mencapai ribuan orang.

Berdasarkan data yang diperoleh per Agustus, jumlah TKA yang berada di Malut sebanyak 2.244 orang, dan didominasi TKA asal Tiongkok (China). Terbanyak di Kabupaten Halmahera Selatan.
Menurut Haeruddin, peredaran narkoba yang masuk di Indonesia terbanyak berasal dari China. Untuk itu kata dia, keberadaan ribuan TKA asal China di Malut menjadi perhatian BNN. Keinginan BNN untuk memastikan keberadaan mereka bebas dari narkoba. “BNN akan melakukan memeriksa urine terhadap tenaga kerja asing untuk memastikan apakah mengkonsumsi atau mengedarkan narkoba,” jelasnya.

Dia menilai sejauh ini pengawasan terhadap pekerja tambang cenderung minim, padahal disinyalir potensi penggunaan narkoba di kalangan para pekerja tersebut sangat besar, apalagi jam kerja yang berjalan sampai dengan dini hari.

“Selama ini mungkin di luar pantauan kita, tapi cukup punya potensi untuk menggunakan. Jadi, misalnya, para sopir yang memiliki waktu kerja di malam hari,” katanya.
Dipilihnya para penambang sebagai sasaran peredaran narkoba disebabkan lokasi tambang kebanyakan di daerah terpencil, baik di darat maupun di laut.

Hal itu membuat transaksi narkoba sebagian besar luput dari pengawasan. “Kita berharap ada kerjasama, baik dengan Pemda sehingga segera masuk di perusahaan tambang. Pemberantasan narkoba butuh kerjasama semua pihak termasuk Pemda,” harap Haeruddin. (cr-02/jfr)

Share
Berita Terkait

Jokowi-Ma’ruf di Atas Angin

18/04/2019, 14:36 WIT

SS DPR RI Diduga Disembunyikan

18/04/2019, 14:25 WIT

Pemprov Dapat 378 Formasi

10/09/2018, 12:49 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan