Jumat, 13 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / OLAHRAGA / Syahjuan Doa, The Punisher From Mareku

Syahjuan Doa, The Punisher From Mareku

Diposting pada 02/10/2019, 14:07 WIT
 Ahmad Sembiring Usman, Mantan Pemain Persiter Ternate
Ahmad Sembiring Usman, Mantan Pemain Persiter Ternate

TAHUKAH anda apa sebenarnya arti dari sebuah kesetiaan itu? beberapa orang mungkin tidak tahu dan menyepelekannya. Tapi tidak dengan teman saya yang satu ini, dia seorang pemain sepakbola yang menghabiskan semua karier profesionalnya hanya di klub kebanggaan Maluku Utara, Persiter Ternate.

Dia adalah Syahjuan Doa. Pria pendiam kelahiran Mareku (Tidore) 4 November 1979 ini tercatat hanya membela satu klub. Bukan karena tidak mampu untuk menembus ke tim-tim lain, tapi buat dia uang bukan motivasi utama untuk bermain sepakbola. Namun kebanggaanlah yang membuatnya selalu bergairah. Ada beberapa klub liga indonesia datang menawarinya kontrak, tetapi dia selalu menolaknya.

Jecky biasa dia disapa. Karena aksinya mirip seperti aktor laga mandarin Jacky Chan, kecil namun kuat dan lincah. Pertama kali mengenal sepakbola dari sang ayah. Jecky kecil serius menekuni sepakbola pada usia 13 tahun. Adalah Abdul Khalik Abdullah, pelatih pertama yang melihat potensi besar dalam dirinya. Pendek untuk ukuran seorang stopper, namun fighting spirit-nya sungguh luar biasa, yang mampu menutupi segala kekurangannya. Lawan-lawan yang berpostur tinggi besarpun selalu dia buat tak berdaya.

Debut pertama kali untuk Persiter pada musim kompetisi divisi utama (sekarang liga dua) liga indonesia tahun 2003, saat Persiter berhadapan dengan PSIM Jogjakarta. Yang juga merupakan debut resmi Jecky di liga Indonesia. Masa keemasan Jecky seiring dengan masa kejayaan Persiter di liga indonesia, setelah pada tahun 2006 berhasil membawa Persiter Ternate lolos ke kancah tertinggi liga indonesia. Pada tahun 2007 Jecky dengan Persiter Ternate-nya membuat gebrakan di liga Djarum Indonesia.

Jackson F. Tiago yang merupakan pelatih Persiter Ternate pada tahun 2007 adalah pelatih favorit-nya. Coach Jecko senantiasa selalu memberikan motivasi kepadanya. “Kata jecko yang tara (tidak) bisa lupa dari ingatan ketika bersiap mo masuk lapangan, dia selalu bilang pa saya, Jecky “MATIKAN GERAK LAWANMU, SEBELUM NANTI DIA MENGUASAI PENUH BOLA! FOKUS POHA”. Cerita Jecky dengan senyum khasnya. “KELAK KAMU HARUS BISA JADI PANUTAN BUAT GENERASI PERSITER YANG AKAN DATANG”. Jecko juga sering bilang saya begitu kalo tong dudu bacarita” lanjut jecky.

Namun, ada satu kejadian yang nyaris membuat Jecky terpuruk, saat dia membuat gol ke gawang sendiri waktu lawan Persim Maros. “Waktu itu makan mai tara sadap, pokoknya samua-samua tara sadap” kenang Jecky. “Tapi saya selalu inga bahwa saya harus belajar sesuatu dari kejadian ini dan cepat bangkit. Toh saya tara bisa lari juga dari keadaan, samua so terjadi,” lanjutnya dengan semangat.

“Saya inga saya pe idola Anwar Panda selalu bilang, ketika ngana jatuh jang lama-lama dibawah. Jatuh bukan berarti ngana kalah, itu berarti ngana harus cepat bangkit dan kembali mencoba. Jangan gampang menyerah,” ujarnya sambil mengenang sang idola Anwar Panda yang selalu jadi panutan dia selama bermain sepakbola.

Karier Jecky di dunia sepakbola relatif cepat. Hanya dalam kurun waktu tahun 2003 sampai 2007. Bukan karena usia atau cedera parah yang membuat dia berhenti bermain sepakbola, tapi karena kecintaan dan kesetiaan dia kepada Persiter Ternate-lah yang memaksa dia untuk berhenti. Ya, bagi Jecky Persiter adalah segalanya, bahkan dia siap mati untuk tim yang berjuluk laskar Kie Raha tersebut. So, jangan tanyakan arti kesetiaan kepada orang yang siap mati di lapangan demi klub yang dibelanya, sebab itu bisa melukainya.

Saat ditanyai bagaimana dia melihat perkembangan Persiter sekarang? “Ahh sudahlah, bahas yang lain saja. Persiter sekarang bukan Persiter yang dulu tong bela, tara tau mau bilang apalagi. Dong yang urus Persiter sekarang tara serius, samua harap gampang” celoteh Jecky sambil geleng-geleng kepala. “Semoga kedepan ada perubahan di dalam sistem pengelolaannya, kalo tong cuma bagitu-bagitu, tara serius urus bola, jang kong bicara liga 1 indonesia, liga 2 indonesia saja akan cuma mimpi,” tutup Jecky.

Well, bagi saya Syahjuan Doa adalah ‘the punisher’. Siapapun yang mau mencoba melewatinya, harus berpikir 2 kali lagi untuk melakukannya. Sebab jika sampai anda sudah memasuki area yang dia jaga, maka dia siap menghukum anda dengan cara yang unik, yang mungkin hanya dia seorang yang mampu melakukannya. Syahjuan Doa adalah seorang legenda hidup Persiter Ternate, yang mengajarkan kepada kita apa itu kesetiaan.

\
Seperti kata pepatah bahwa Kesetiaan adalah kekayaan termulia di dalam kalbu manusia. Seperti itulah Syahjuan Doa yang memilih ‘menghilang’ dari dunia sepakbola, seiring meredupnya Persiter Ternate di kancah sepakbola nasional.(*)

 

Share
Berita Terkait

Sepak Bola Indonesia Harus Maju

18/04/2019, 10:49 WIT

Asprov Panggil 43 Pemain

13/02/2019, 13:21 WIT

Zamroni Dipanggil Perkuat PSPS Riau

07/03/2018, 13:12 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan