Rabu, 11 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / / Tolak Uang Logam, Guru MAN Nyaris Polisikan Pedagang

Tolak Uang Logam, Guru MAN Nyaris Polisikan Pedagang

Diposting pada 03/10/2019, 13:48 WIT


SANANA - Sosialiasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) Maluku Utara di Istana Daerah (Isda), Kamis (2/10) mengungkap sejumlah fakta di Sula.

Peserta yang hadir dalam kegiatan bertajuk kebangsentralan dan ciri-ciri keaslian uang rupiah dan elektronifikasi itu menceritakan sejumlah pengalaman terutama praktek penolakan uang logam yang marak di Sula. Kondisi ini berlangsung masif hampir di semua sektor.

Salah satu teler Bank BPD Malut misalnya, mengaku pernah mendapati hal itu dari nasabahnya. Dia bilang, pernah ada nasabah yang menolak kembalian uang jenis logam yang ia berikan. "Jadi bagaimana itu apakah kita salah pak, "ujarnya dalam sesi tanya jawab.

Senada, salah satu pedagang di Kota Sanana juga pernah mengalaminya. Saat itu dia pernah mengembalikan uang pecahan seribu logam kepada pembeli, namun di tolak. "Jadi terpaksa uangnya saya kirim lagi ke Makassar, "paparnya.

Asriyani Buton memiliki pengalaman pahit soal uang logam. Dia berulang kali mengalami itu di pedagang berbeda di Sula. Dia menceritakan, pernah membeli barang dengan pecahan uang logam senilai 20 ribu di salah satu warung yang ada di Sula, namun saat membayar pedagang langsung menolak uang pecahan logam yang disodorkan. "Katanya, maaf ibu kami tidak menerima uang logam, "kata Asriyani meniru percakapannya dengan pedagang tersebut.

Dikatakannya, saat mendengar itu dia langsung geram. Sebab, lanjut Asriyani sejauh ini dirinya tidak pernah tahu jika uang logam tidak lagi digunakan sebagai alat pembayaran. Penolakan yang sama juga ia terima dari pedagang di pasar Basanohi, Sanana. "Saya sempat emosi dan hampir saja lapor pedagang itu ke Polisi, "katanya.

Dia mengungkapkan, sikap pedagang di Kota Sanana justru berbeda dengan pedagang desa di Buton yang tetap melayani transaksi jual beli menggunakan uang logam. "Saat saya pulang kampung itu ternyata di kampung terima belanja dengan uang itu, "katanya.
Perilaku pedagang terhadap  Asriyani sebenarnya juga dialami sebagian besar masyarakat.

Terkait itu, menurut Sulaiman, ada sanksi bagi yang tidak menerima uang logam sebagai pembayaran yang sah. Hal itu diatur dalam UU nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang. Dimana, uang logam masih tetap dipakai sebagai alat pembayaran yang sah. "Ada ancaman hukuman pidananya 1 tahun penjara, "ujarnya.

Dia bilang, di Ternate misalnya, banyak pengusaha maupun pedagang tokoh di Ternate yang mengantri untuk mendapatkan uang pecahan logam sebagai transaksi. Dia mencotohkan,  tokoh dua sekawan di Ternate misalnya melalui salah satu bank mengajukan permintaan penukaran uang logam hingga ratusan juta. "Ini wajib di Terima dan tidak bisa tolak, apalagi pengembalian pakai permen itu tidak bisa makanya kita minta masyarakat turut bantu BI untuk sosialisasi ini juga, "pungkasnya. (ikh)

Share
Berita Terkait

Tiga Pejabat Dicopot

22/02/2018, 11:59 WIT

Prabowo-Sandi Unggul di Lapas Sanana

18/04/2019, 12:56 WIT

Ayah Hamili Anak Kandung

28/11/2018, 12:32 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan