Kamis, 17 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Masih seperti 48 Tahun Lalu

Masih seperti 48 Tahun Lalu

Diposting pada 04/10/2019, 13:18 WIT
PETILASAN: Kaur Umum Pemdes Tapanrejo Selamet menunjukkan kamar yang pernah digunakan Soeharto untuk tidur di Muncar kemarin BAGUS RIO/JAWA POS RADAR JEMBER
PETILASAN: Kaur Umum Pemdes Tapanrejo Selamet menunjukkan kamar yang pernah digunakan Soeharto untuk tidur di Muncar kemarin BAGUS RIO/JAWA POS RADAR JEMBER

Melihat Kamar Tidur Presiden RI ke-2 Soeharto di Kantor Desa Tapanrejo Masih seperti 48 Tahun Lalu

Kamar di rumah dinas (rumdin) pernah menjadi tempat singgah Soeharto, presiden kedua RI. Kamar di rumdin Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, itu terlihat masih asli. Hanya, Tomy Soeharto melakukan sedikit perbaikan saat mengunjungi tempat tersebut di awal 2018.

BAGUS RIO ROHMAN, Muncar

“AKU ora dong he (saya tidak paham), la kepriye to (bagaimana sih),” kata-kata Jawa ala Jogjakarta itu meluncur dari mulut beberapa warga di Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, terutama yang sudah berumur sepuh. Hingga kini, logat tersebut masih cukup kental. Maklum, warga di desa itu sebagian besar memang masih keturunan dari Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bukan hanya dari bahasa dan logat, sejumlah bangunan rumah joglo ala Jogjakarta juga masih banyak ditemui di perkampungan warga di Desa Tapanrejo. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, rumah joglo mulai ditinggalkan. Banyak warga yang membangun rumah yang mengikuti zaman dengan arsitektur modern.

Dulu kantor Desa Tapanrejo di tengah wilayah desa juga dilengkapi pendapa yang berbentuk joglo ala pendapa Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Namun, bangunan tersebut kini mulai direnovasi dan tidak berbeda dengan kantor desa lain di daerah Banyuwangi Selatan. Mungkin, karena kedekatan itulah, Soeharto yang lahir dan besar di Desa Kemusuk, Godean, Jogjakarta, pernah singgah di desa itu pada 1971. Selama kunjungan ke Desa Tapanrejo, penguasa Orde Baru tersebut pernah bermalam di rumdin kepala desa.

Rumdin kepala desa itu berada di belakang kantor desa. Kamar yang digunakan untuk tidur Soeharto yang berukuran 2,5 meter x 2,5 meter tersebut hingga kini masih terawat dengan baik. Tempat tidur, kasur, seprai, dan radio yang dipakai suami Tien Soeharto itu juga masih terawat. “Semua masih asli,” terang Kepala Dusun Krajan, Desa Tapanrejo, Wanidiyanto.

Hingga kini, tidak ada yang berani menempati kamar tersebut. Oleh pemerintah desa, kamar itu sengaja dijaga, dirawat, dan dibuat seperti museum. “Awalnya, tidak ada yang mengetahui bahwa Pak Soeharto akan datang,” jelas Wanidiyanto yang mengaku tahu saat presiden kedua RI tersebut mengunjungi desanya.

Soeharto tiba di Desa Tapanrejo pada 1971 saat malam. Ketika Soeharto datang dan menginap, di desa diadakan pentas seni. Saat presiden kedua RI itu datang, yang menjabat Kepala Desa Tapanrejo adalah Suminto, pensiunan TNI AD berpangkat letnan. “Yang menunjuk Suminto menjadi kepala desa itu ya Pak Soeharto,” cetusnya.

Kunjungan Soeharto sangat membekas di hati masyarakat. Setelah dia pulang, jalan di desa tersebut diaspal. Dam di wilayah itu juga langsung dibangun. “Untuk mengenang dan wujud rasa hormat, jalan itu kami beri nama Jalan Pelita. Sementara itu, dam dan jembatan diberi nama Soeharto,” terang Wanidiyanto.

Selama di Desa Tapanrejo, Soeharto tinggal sehari semalam. Soeharto terlihat sangat sederhana dan merakyat. Bahkan, untuk istirahat malam, dia tidur di ranjang yang sederhana. Rumah yang digunakan untuk tempat tidur itu sebelumnya merupakan tempat lumbung desa. “Setelah Pak Suminto tidak menjadi kepala desa, tidak ada yang berani menempati rumah itu,” ungkap Wanidiyanto.

Sampai kini, rumah yang digunakan untuk beristirahat Soeharto itu masih berdiri kukuh.(jpc/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan