Kamis, 17 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Kampung Saudagar yang Punya Banyak Nilai Historis

Kampung Saudagar yang Punya Banyak Nilai Historis

Diposting pada 04/10/2019, 15:33 WIT
INDONESIA KAYA: Salah satu sudut Kampung Laweyan yang kaya akan nuansa batik ENSIKLOPEDIAINDONESIA
INDONESIA KAYA: Salah satu sudut Kampung Laweyan yang kaya akan nuansa batik ENSIKLOPEDIAINDONESIA

Melongok Batik, Yuk ke Kampung Laweyan dan Kauman di Solo

Solo sering disebut sebagai Kota Batik. Ini tidak terlepas kota ini memiliki sejarah panjang soal batik. Bukti ini bisa dilihat dengan keberadaan Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman. Dua kampung ini telah mendeklarasikan diri menjadi sebuah kampung wisata berbasis pendekatan budaya batik yang mereka lestarikan secara turun-temurun sampai saat ini.

MENYUSURI Kampung Batik Laweyan, maka akan disuguhi pemandangan kampung dengan bangunan kuno. Wisatawan akan kagum saat menyusuri gang-gang perkampungan sarat sejarah tersebut. Di sana bangunan tua bergaya arsitektur Eropa tampak selaras dengan sejumlah hunian masyarakat Jawa berkonsep hunian Jawa dengan bentuk limasan.

Di balik bangunan tua tersebut, tersembunyi sejumlah galeri-galeri batik maupun tempat produksinya. Maklum, mayoritas warga di kampung ini memang berprofesi sebagai pedagang batik atau perajin batik khas daerah tersebut. Maka jangan heran kalau kampung ini identik dengan istilah “saudagar” yang juga tersemat dalam penamaan kampung tersebut. “Penyebutan kata Laweyan ini berasal dari banyak versi. Tapi kalau ditelusuri munculnya istilah itu dipakai untuk menyebut kelompok masyarakat tertentu yang memiliki harta kekayaan. Wong Nglawiyan artinya orang berlebih, luwih-luwih,” jelas Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan Alphafebela Priyatmono saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di kediamannya, Selasa (1/10).

Eksistensi Kampung Laweyan yang berluwih-luwih itu telah muncul sejak berabad-abad sebelumnya. Laweyan telah menjelma sebagai pusat ekonomi masyarakat sejak era Kerajaan Pajang. Kala itu kawasan yang telah menjadi perkampungan ini merupakan sebuah pasar utama kerajaan yang dipimpin Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) pada akhir abad ke-13.

Bentuk eksistensi pasar yang masih dipercaya masyarakat itu pun diabadikan dalam monumen berbentuk tugu berwarna hitam di salah satu simpang jalan di perkampungan tersebut. “Banyak situs-situs sejarah di sini. Ada Tugu Laweyan ditengarai sebagai bekas pasar masa Kerajaan Pajang. Ada juga Bandar Kabanaran pada era Kerajaan Pajang menjadi urat nadi perdagangan yang menyambung hingga Bandar Nusupan di sisi selatan Desa Sala,” paparnya.

Posisinya di pusat perekonomian dan jalur transportasi utama itu menempatkan Laweyan menjadi lokasi paling strategis untuk menggerakkan sendi-sendi perekonomian setempat. Oleh sebab itu, selang berabad-abad kemudian Laweyan tetap eksis sampai saat ini menjadi sentra industri batik di Kota Solo. “Nama Laweyan itu juga dapat diartikan berbeda selain arti tempat orang kaya. Dulu di sini adalah pusat produksi benang (lawe) karena dulunya kawasan ini banyak ditumbuhi pohon kapas berkualitas baik,” bebernya.

Waktu itu Laweyan berubah jadi sentra industri pemintalan benang kemudian berubah menjadi industri produksi kain tenun. Seiring perkembangan waktu mulai ada kegiatan membatik yang terus lestari sampai sekarang.

Lalu kapan batik mulai berkembang? Alpha mengatakan, sejak zaman Kerajaan Pajang sudah ada kegiatan membatik di Laweyan. Sebab, batik sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya pada abad 7-9.

Alasan inilah yang membuat segala aspek yang ada di kampung itu memiliki nilai jual dari sisi historis. Inilah yang diupayakan masyarakat sekitar, mengingat para pengusaha batik di kampung ini sangat beragam dan hidup selaras dengan warga lain yang sama sekali tidak memiliki latar belakang industri batik. Karena itu, wacana untuk membuat kampung wisata berlatar belakang industri batik menjadi pilihan paling baik untuk semua masyarakat. “Di sini masyarakat beragam, memang mayoritas pedagang atau pengusaha batik, namun ada juga yang masyarakat biasa. Semua dirangkul agar sama-sama bisa ikut maju. Dari sana industri wisata, kuliner, edukasi, dan penginapan mulai bermunculan melengkapi industri batik tinggalan nenek moyang ini,” kata Alpha.

Karena dilatarbelakangi sebagai lokasi dan permukiman para saudagar, di kampung ini muncul kearifan lokal yang tidak akan ditemui di lokasi lainnya. Untuk menegaskan posisinya sebagai golongan elite di masyarakat yang memegang peran penting di bidang ekonomi, berbagai penyebutan atau penyematan gelar muncul di kawasan tersebut. “Jadi orang-orang di sini itu dipanggil dengan sebutan Mas Nganten, Mbok Mase, Gus, dan Mas. Sayang penuturnya sudah sedikit. Paling hanya beberapa orang yang sudah benar-benar sepuh,” sambung Alpha.

Penyebutan Mas Nganten diberikan untuk memanggil seorang pria dewasa. Sementara Mbok Mase untuk menyebut seorang perempuan dewasa. Penyebutan ini mirip dengan pemberian nama gelar yang sering dilakukan pada golongan kerajaan seperti Raden Mas dan Gusti Ayu. “Para saudagar kaya ini memiliki penyebutan tersendiri untuk gelar kebangsawanan mereka. Mungkin untuk meningkatkan derajat sosial kala itu. Bahkan anak-anak pun ada sebutannya. Seperti penyebutan Gus untuk bocah laki-laki dan Mas untuk bocah perempuan,” tutup Alpha.(jpc/kai)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan