Minggu, 20 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Kalau Semua Pergi, Siapa yang Ajari Anak-Anak

Kalau Semua Pergi, Siapa yang Ajari Anak-Anak

Diposting pada 07/10/2019, 15:24 WIT
Para siswa, guru, dan masyarakat bergotong-royong membersihkan sisa-sisa pecahan kaca dan debu di SMA/SMK Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS), Wamena, Jumat (4/10). Sebanyak 33 orang dikabarkan meninggal dan ratusan bangunan hangus terbakar pasca kerusuhan 23 September 2019 HENDRA EKA/JAWA POS
Para siswa, guru, dan masyarakat bergotong-royong membersihkan sisa-sisa pecahan kaca dan debu di SMA/SMK Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS), Wamena, Jumat (4/10). Sebanyak 33 orang dikabarkan meninggal dan ratusan bangunan hangus terbakar pasca kerusuhan 23 September 2019 HENDRA EKA/JAWA POS

Mereka yang Memilih Bertahan di Wamena Pascarusuh


Demi tanggung jawab pada pekerjaan, juga agar Wamena bisa segera pulih, mereka memilih untuk bertahan. Meski tak ada murid yang datang. Meski harus berkantor di bangunan kecil karena tempat lama dibakar massa.

SAHRUL YUNIZAR, Wamena

SENIN, Selasa, Rabu, dan Kamis telah berlalu. Tapi, tak seorang murid pun yang datang ke SDN 1 Wamena.
Hanya Jaelani dan sejumlah kolega sesama guru yang tampak.
Baru di hari kelima kemarin (4/10), sejak sekolah tersebut kembali buka pasca kerusuhan, seorang siswa menampakkan diri. ”Saya tanya, kenapa tidak sekolah, jawabannya tidak tahu,” tutur Jaelani kepada Jawa Pos.Kerusuhan Senin lalu (23/9) yang merenggut 33 nyawa memang nyaris melumpuhkan Wamena.

Listrik padam, kantor-kantor tutup, sejumlah titik terbumihanguskan. Ketakutan menjalar ke penjuru kota nun di dataran tinggi Pegunungan Tengah Papua tersebut. Ribuan orang, dari dewasa sampai anak-anak, dengan beragam latar belakang, berebut meninggalkan ibu kota Kabupaten Jayawijaya tersebut.

Namun, tidak demikian Jaelani. Guru dari Madura, Jawa Timur, itu memilih bertahan. ”Kalau semua pergi, siapa yang akan melanjutkan sekolah, mengajari anak-anak?” katanya.

Bukan berarti dia tidak cemas. Dia mengizinkan istri dan anaknya menenangkan diri untuk sementara waktu ke Jayapura, ibu kota Papua. Dia sendiri juga mengungsi. Tinggal di kompleks Markas Kodim 1702/Jayawijaya.

Namun, sekuat hati dan tenaga dia tetap berusaha menjalankan kewajiban sebagai seorang guru. Meski, lima tahun sejak kedatangannya ke Wamena, statusnya masih honorer. ”Kalau ikut keluar juga bagaimana? Nggak ada yang gantikan,” imbuhnya.

Dunia pendidikan termasuk yang paling berat terkena dampak kerusuhan. Maklum, pemicu pertama kerusuhan, konon, berasal dari insiden rasisme di lingkungan sekolah. Meski pemerintah sudah menyebut kabar itu hoaks.

Untuk itulah, Kamis lalu (3/10) Bupati Jayawijaya John Richard Banua mengumpulkan para guru tersisa di gedung DPRD setempat. Dicapai kesepakatan, Senin (7/10) sekolah-sekolah harus mulai beraktivitas lagi.

Sekolah tempat Jaelani mengajar malah sudah memulai aktivitas Senin lalu (30/9). Meski ya itu tadi, baru di hari kelima ada murid yang datang. Itu pun cuma seorang.

Seperti Jaelani, Sutejo, wakil kepala sekolah bidang kurikulum SMK Yapis Wamena, juga memilih bertahan. Meski hanya tersisa 8 dari 50-an guru, dia sudah siap kembali membuka sekolah Senin lusa.

Kemarin guru dari Jombang, Jawa Timur, itu masih sibuk membersihkan ruang-ruang kelas. Dia dibantu sejumlah warga sekitar sekolah. Kaca-kaca di hampir semua kelas sekolah dua lantai itu memang jadi korban lemparan batu. Bahkan nyaris terbakar. ”Mendadak sekali sekolah kami dilempari,” kenang dia tentang hari kelam Senin lalu itu.

Dari total 940 siswa di SMK Yapis, setengahnya merupakan pelajar asli Jayawijaya. Sebagian lain merupakan pendatang. Sutejo yang sehari-hari mengampu mata pelajaran akuntansi tidak tahu pasti berapa banyak siswa yang sudah meninggalkan Wamena.

Sebab, hanya sepuluh siswa yang dia tahu meminta izin agar bisa dititipkan di sekolah lain di luar Wamena. ”Senin (lusa, Red) mungkin bisa ketahuan,” imbuhnya.

Bupati John Richard Banua sudah secara terbuka meminta agar tidak semua orang meninggalkan Wamena. Supaya roda kehidupan terus berjalan. John bahkan sudah meminta TNI agar penerbangan Hercules hanya diperuntukkan ibu hamil, anak-anak, orang tua, serta warga yang sakit dan perlu dirujuk.

Namun, tanpa diminta pun, masih ada orang-orang yang dengan kemauan sendiri memilih bertahan. Orang-orang seperti Jaelani, Sutejo, dan banyak lainnya. Termasuk Mofu Robert.

Kemarin siang Robert yang sehari-hari bertugas sebagai manajer Unit Pelaksanaan Pelayanan Pelanggan PLN Wamena tampak sibuk menyiapkan tim. Dia hendak mengantar perwakilan PLN dari Jayapura untuk melihat dua pembangkit listrik di Wamena.

Robert mengakui, dirinya bersama timnya harus tetap bekerja seperti biasa walau kantor mereka sudah hangus dibakar massa. Dia kini menempati bangunan kecil di Jalan Yos Sudarso, Wamena, sebagai kantor sementara.

Di sana pula setiap hari dia menyusun rencana kerja. ”Kami perbaiki jaringan-jaringan rusak,” tuturnya.

Begitu kerusuhan meletus, nyaris seluruh Wamena padam. Banyak jaringan PLN yang rusak gara-gara amuk massa. Akibatnya, Wamena gelap gulita.

Kini sebagian besar kerusakan sudah diperbaiki. Dia mengklaim, tinggal 10 persen kerusakan yang tersisa. Di daerah pusat kericuhan seperti Hom-Hom dan Wouma, anak buahnya juga sudah bekerja. ”Tinggal beberapa daerah saja butuh perbaikan,” katanya.

Dia mengaku bisa tetap tenang bekerja karena seluruh keluarga pegawai PLN Wamena telah dibawa keluar dari Wamena. ”Dua hari setelah kerusuhan,” imbuhnya.

PLN mencarter pesawat untuk menerbangkan keluarga pegawai PLN serta para pegawai perempuan. Sementara semua pegawai pria kembali ke Wamena.

Yang bertugas menjaga pembangkit, 24 jam tetap berjaga. Yang bertanggung jawab memperbaiki jaringan harus bersedia bolak-balik untuk keluar masuk daerah-daerah pusat kerusuhan, sesepi dan serawan apa pun area-area tersebut.

Robert menyebutkan, tanggung jawab terhadap masyarakat menjadi latar belakang paling kuat yang membuat dirinya bersama tim tetap bekerja. Tentu saja mereka tidak sembarangan bergerak.
Sejak kerusuhan pecah, timnya selalu dikawal personel TNI dan Polri. Apalagi saat mereka masuk ke daerah-daerah pusat kerusuhan. Pengawalan wajib menempel. ”Kami harus terus melayani masyarakat,” katanya.

Jaelani dan koleganya, para guru, juga bertekad tetap membuka sekolah. Ada atau tidak ada murid. Kalau ada yang datang, pasti diajak belajar seperti biasa. ”Tidak peduli hanya satu atau dua siswa,” katanya.

Kalaupun tetap tidak ada yang datang, mereka akan menunggu. Setidaknya sampai akhir bulan ini. Setelah itu? ”Saya belum tahu,” ucap dia.

Adapun Sutejo yakin bahwa Wamena segera pulih. Salah satunya harus dimulai dari sekolah.
Meski dia juga tidak tahu apakah akan ada murid SMK Yapis yang datang di hari pertama Senin lusa. Juga Selasa keesokan harinya. Dan Rabu esoknya juga. ”Kalau sedikit yang datang, kami buat agenda apa saja. Yang penting, anak-anak ada aktivitas di sekolah,” ujarnya.(jpc/kai)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan