Rabu, 11 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / / Sidang Terdakwa Pembunuhan Tertutup

Sidang Terdakwa Pembunuhan Tertutup

Diposting pada 09/10/2019, 14:41 WIT
SIDANG: Suasana sidang yang dijalani terdakwa Ronal.
SIDANG: Suasana sidang yang dijalani terdakwa Ronal.

Tim Hukum Korban Dikeluarkan dari Ruang Sidang

Editor : Irman Saleh

Peliput : Mahfud Hi Husen

TIDORE - Sidang lanjutan perkara tindak pidana pemerkosaan disertai pembunuhan terhadap Gamaria Wahab (18) alias Kiki Kumala dengan terdakwa M. Irwan Tutuarima alias Iwan alias Ronal digelar di Pengadilan Negeri (PN) Soasio, Selasa (8/10). Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) ini dipimpin Hakim Ketua Ennierlia Arientowaty didamping hakim anggota Kadar Noh dan Ferdinal. Sebanyak delapan saksi dihadirkan dalam sidang kemarin.

Sidang yang dimulai sekira pukul 12.00 WIT itu berlangsung tertutup untuk umum. Sebelum dimulainya sidang, Hakim Ketua Ennierlia Arientowaty mempersilakan para wartawan untuk mengambil gambar selama dua menit. Setelah pengambilan gambar, hakim ketua mempersilakan para wartawan untuk keluar dari ruang sidang. Tidak hanya wartawan yang tidak dibolehkan meliput jalannya sidang, keluarga korban, tim koalisi yang terdiri kuasa hukum maupun pendamping keluarga juga tidak dibolehkan masuk ke dalam ruang sidang. Alasan hakim ketua bahwa sidang itu tertutup lantaran dalam perkara ini merupakan perkara asusila yang tidak bisa dibuka untuk umum.
Hal ini membuat tim kuasa hukum dan pendamping keluarga korban merasa kesal dengan sikap majelis hakim yang tidak memberikan ruangan kepada mereka. Nurdewa Safar selaku tim pendamping keluarga korban menilai majelis hakim tidak perspektif. Padahal, jika saja majelis hakim perspektif, maka akan mempertimbangkan dalam aspek yang lain. "Tim koalisi ini semua orang beracara. Setidaknya dia tidak menyalahi soal aturan yang lain, tetapi juga harus dipertimbangkan, minimal dia bisa duduk dan mendengar soal proses jalannya persidangan," tuturnya, sembari mengatakan memang diserahkan sepenuhnya kepada jaksa yang melakukan proses pembelaan sejak awal sampai akhir. "Tapi paling tidak tim koalisi juga harus hadir, dan dia tahu tatacaranya. Dia tidak akan menanyakan dan sebagainya. Kita berharap tim koalisi ini masuk dan mendengar prosesnya," kesalnya.

Pihaknya berharap tim koalisi ini masuk dan mendengar prosesnya agar dalam melakukan advokasi itu tuntas. Namun apa yang diharapkan justru majelis hakim tidak perspektif. Padahal, kata Ketua LSM Daur Mala ini, ketua majelis hakim adalah seorang perempuan yang harusnya punya hati nurani tergerak dan mempersilahkan pihaknya ikut dalam persidangan itu. Menurut dia, sekalipun korban sudah meninggal, akan tetapi orang tua korban yang hadir pada sidang itu adalah seorang perempuan yang perlu didampingi untuk menguatkan secara psikologi dan mentalnya. "Karena dari awal tahapan, kami telah mendampingi untuk memperkuat mental dan psikologi orang tua korban untuk nantinya memperjuangkan kasus anaknya. Kalau nanti dia mengalami trauma, siapa yang nanti bertanggung jawab terhadap hal ini," tandasnya.

Dikatakannya, dalam kasus ini tidak hanya murni pemerkosaan dan kekerasan terhadap seksual, namun juga pembunuhan dan pencurian. Ini harusnya menjadi pertimbangan majelis hakim terhadap tim koalisi yang kemudian mengadvokasi kasus ini agar diberikan ruang terhadap satu atau dua orang untuk masuk dan mengikuti jalannya persidangan. "Ini kan semuanya dihilangkan. Ada apa sebenarnya ini," ujarnya dengan nada tanya.

Sementara tim kuasa hukum korban Kiki Kumala, Maharani Carolina, mengatakan bahwa apa yang dilakukan majelis hakim itu lantaran majelis hakim berpendapat dalam kasus ini adalah kasus asusila yakni pemerkosaan, sehingga tidak boleh menjadi konsumsi publik. Hanya saja, seharusnya kuasa hukum bisa mendampingi keluarga korban untuk menjaga psikologi. Pada sidang perdana kemarin, pihaknya sudah mencoba berbicara dengan salah satu mejelis hakim, namun menurut majelis hakim itu harus meminta pertimbangan dari hakim ketua. "Di beberapa kasus itu biasanya kuasa hukum harus mendampingi keluarga korban. Kan tidak masalah. Apalagi kami di posisi pengacara. Harusnya ini diizinkan, kalau mau bijaksana. Hanya karena memang aturan mereka seperti itu ya kita hargai," ujarnya.

Pada sidang berikutnya, lanjut Rani, pihaknya akan mencoba mengajukan permohonan agar supaya ini dibijaki majelis hakim untuk mempersilakan kuasa hukum untuk bisa hadir dalam ruang sidang. Dirinya juga menyesalkan sikap majelis hakim yang tidak mau memberikan ruang untuk pendampingan terhadap ibu korban yang menjadi saksi dalam persidangan kemarin, karena selama ini pihaknya selalu mendampingi. "Harusnya majelis hakim bijaksana lah. Karena kita kan sifatnya hanya duduk mendampingi saja. Namun entahlah aturan mereka seperti apa. Sepanjang itu kita juga tetap menghargai, karena mungkin itu aturan internal. Yang jelas kami ingin agar sidang berikut, hakim mau mempersilahkan tim pendamping untuk ikut dalam ruang sidang," harapnya.

Menurutnya, memang benar yang mewakili korban adalah jaksa. Hanya saja kuasa hukum yang mendampingi keluarga korban juga harus tahu fakta-fakta persidangan itu seperti apa, kejadiannya seperti apa. Karena selama ini tertutup. Dalam kasus ini, Rani menyebut tidak hanya pemerkosaan saja, akan tetapi ada pembunuhan disertai pemerasan. Harusnya ini menjadi pertimbangan majelis hakim, karena ada beberapa gabungan tindak pidana. Padahal dalam beberapa kasus serupa yang pernah ia tangani, hakim mempersilahkan kuasa hukum untuk mendampingi keluarga korban. "Jadi ini tinggal kebijaksanaan dari majelis hakim. Memang dalam perkara sidang asusila ini dilakukan tertutup untuk publik, namun ini juga kan ada tindak pidana lainnya yakni pembunuhan dan pencurian," terangnya.

Sementara dalam persidangan kemarin, JPU menghadirkan delapan saksi yakni Tamrin Samad Alias Tam, Acam Abubakar Alias Acam, Rifan Muhammad Alias Ipan, Sadam W. Kumala Alias Is, Watija W. Kumala Alias Ija, Risman Dahlan Alias Iman, Mujin Mujara Alias Abi, dan Suryadi Jalal Alias Yadi. Dari JPU diketuai Windra, SH, dampingi Fanty Rolobessy dan Diana. Sementara untuk terdakwa didampingi kuasa hukum yang ditunjuk majelis hakim Rahim Yasin dan dua rekannya. Sidang akan dilanjutkan Selasa (15/10) pekan masih dengan agenda pemeriksaan saksi dari JPU. (cr-03/lex)

Share
Berita Terkait

Sultan Tidore Apresiasi Rizal Ramli

05/04/2018, 12:36 WIT

Tak Terima, Yaser Marah

10/10/2018, 11:34 WIT

Tuan Rumah KKN Kebangsaan

19/02/2019, 09:25 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan