Kamis, 17 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Dandim Kelima Jadi Bupati Malang Dua Periode

Dandim Kelima Jadi Bupati Malang Dua Periode

Diposting pada 09/10/2019, 14:53 WIT
Hamid Kotambunan DOK PRIBADI Kol. Inf. H.R. Sowignyo MALANGKAB.GO.ID
Hamid Kotambunan DOK PRIBADI Kol. Inf. H.R. Sowignyo MALANGKAB.GO.ID

Regenerasi Komandan Kodim Kota Ternate di Mata Jurnalis Senior Hamid Kotambunan (2-Habis)

Selama bertugas sebagai jurnalis, Hamid Kotambunan amat lekat memperhatikan kinerja para Komandan Kodim di Kota Ternate, bahkan hingga kebiasaan personal mereka. Bersama Malut Post, Hamid yang juga penulis buku Perjuangan Rakyat Maluku Utara Membebaskan Diri dari Kolonialisme ini mengenang romantisme lama kiprah para perwira TNI membangun Ternate.

PADA tahun 1961, Mayor Sajogo menggantikan Kapten Sukamto sebagai Komandan Kodim 1501 Ternate. Hamid Kotambunan pertama kali berkenalan dengan Sajogo yang bertugas hingga 1964 itu di ruang makan KM Sapudi rute Ambon-Ternate. Kala itu hanya ada tiga orang di ruang makan kelas I; Mayor Sajogo, Hamid dan L. Rimbing, Kepala Pelni Ternate.

Sajogo memperkenalkan diri sebagai orang yang menggantikan posisi Kapten Sukamto. Awalnya Mayor Sajogo mengira Hamid seorang pegawai sipil militer. Ia baru percaya Hamid seorang warga sipil biasa setelah ditunjukkan kartu kader aktivis PNI yang sebagai pengganti KTP.
Selama bertugas di Ternate, Mayor Sajogo enggan menggunakan ruang kerja di lantai 2 yang biasanya. Ia memilih dua ruangan lantai dasar dijadikan satu sebagai ruang kerjanya. Di sore hari, biasanya Danyon 732 Banau Kapten Suleman, Wakil Kapten Tauchid dan Letda Faisal Tanjung berkunjung ke ruang kerjanya untuk ngobrol. Sering pula ia menyuruh dua anak buahnya, Lettu Subandhi dan Serma Busono untuk menjemput Hamid agar bergabung dengan mereka.
Setiap Sabtu malam, Hamid akan menemani mereka ke rumah keluarga Djit Tan untuk melantai sejak pukul 9 sampai setengah 11 malam. Suatu ketika, Hamid dan Mayor Sajogo jalan-jalan saat Ternate sudah gelap gulita –maklum, lampu dipadamkan pukul 00.00. Begitu tiba di belakang Benteng Oranje, mereka melihat dua ekor kuda ditambatkan di situ. Hamid tahu pemiliknya, Pak Abdullah.

Mayor Sajogo yang aslinya jahil lantas memberi ide agar melepas ikatan kuda-kuda tersebut. Hamid enggan karena dua kuda itu akan memakan dan merusak tanaman orang. Namun ternyata sang mayor sudah lebih dulu melepas ikatan seekor kuda. Dengan terpaksa, Hamid pun mengekor melepaskannya.

Pagi-pagi saat tengah sarapan, Kapten Effendi menghadap dan melaporkan akan memanggil si pemilik kuda. Pasalnya, tanaman milik istrinya sudah rusak tak karuan. Alih-alih mengizinkan, Mayor Sajogo justru mengirim Effendi dinas luar ke Ambon. “Masalah kuda nanti Komandan yang tangani,” kata dia.

Di era Sajogo pula, sisa-sisa pasukan Permesta di Halmahera yang dikomandoi Yongki Roberto Komontoy menyerah dengan catatan minta dikirim ke Irian. Permintaan itu dikabulkan. Mayor Sajogo mengakhiri masa jabatannya sebagai Dandim Ternate dengan naik pangkat menjadi Letkol.
Pengganti Letkol Sajogo adalah Letkol R. Suwignjo (1964-1967). Suwignjo gemar sekali melantai (berdansa; menari). Ia kerap menyelenggarakan kegiatan itu di rumah dinasnya, dengan tamu-tamu eksklusif. Hamid lantas memberinya masukan agar kegiatan itu dihentikan. Dampaknya terhadap masyarakat kurang baik, apalagi dilakukan di rumah dinas. Suwignjo menerima masukan itu.
Suatu ketika, Hamid mengajak Suwignjo berenang di Pantai Kayu Merah. Ia tampak sangat menikmati kegiatan itu. Setelahnya, keduanya melihat-lihat Benteng Kalamata. Suwignjo menunjuk satu sudut benteng dan bilang akan membangun panggung di situ. Ketika ditanya Hamid untuk apa, sambil tertawa ia menjawab karena Hamid sudah melarang melantai di rumah dinas maka panggung itu yang akan jadi pengganti lokasi melantai.

Letkol Suwignjo kemudian dipindahtugaskan ke Malang, Jawa Timur. Di sana ia mencalonkan diri sebagai bupati dan meminta rekomendasi dari DPD PNI Maluku Utara. Suwignjo berhasil terpilih sebagai Bupati Malang ke-13, menjabat selama dua periode (1969-1979).

Komandan lain yang amat diingat Hamid adalah Soleman, Komandan Batalyon 732/Banau. Hamid terakhir kali bertemu Soleman tahun 1970 di Surabaya dalam satu acara lepas sambut yang diselenggarakan warga kawanua se-Jawa dibantuk Kodam XIII/Merdeka. Namun tentu saja yang paling diingat Hamid dari semua perwira ini adalah panggilan khas untuk mereka, “dan, dan, dan” yang merupakan kependekan dari Komandan.(tr-02/kai/tamat)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan