Senin, 16 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / / Sampel Beras Bermasalah Diambil

Sampel Beras Bermasalah Diambil

Diposting pada 11/10/2019, 14:41 WIT
TURUN LAPANGAN: Pemkab Morotai dan aparat keamanan mengambil sampel beras yang diduga palsu. Ft sofyan/malut post
TURUN LAPANGAN: Pemkab Morotai dan aparat keamanan mengambil sampel beras yang diduga palsu. Ft sofyan/malut post

BPOM Malut akan Mengujinya

Peliput : Sofyan Togubu
Editor : Bukhari Kamaruddin

DARUBA - Kasus dugaan peredaran beras palsu membuat pemerintah dan aparat terkait langsung bergerak.

Kamis (10/10) kemarin, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) Pulau Morotai bersama aparat kepolisian dan TNI mendatangi sejumlah toko di Kota Daruba yang diduga menjadi sumber beras  itu dijual. Kepala Disperindagkop Pulau Morotai, Welhelmus Sahuleka mengatakan, pihaknya bersama beberapa anggota Polisi dan Babinsa sudah turun langsung ke lapangan. Dari sampel yang diterima baik dari pihak toko maupun dari keluarga Kasim Bungan, beras Super 09 yang diduga beras palsu, sebetulnya berbahan dasar alami bukan plastik. Hanya saja kuat dugaan beras tersebut mengandung zat kimia yang berbahaya. "Kalau dibilang plastik menurut saya bukan plastik, tapi kalau mengandung zat kimia mungkin iya. Mungkin saja ini sudah mengandung bahan pengawet, atau didaur ulang beras yang sudah tidak layak konsumsi jadi, warnanya pun putih bening. Dan berdasarkan keterangan keluarga Kasim, katanya dimasak tiga hari juga tidak basi, berarti ada yang tidak beres. Karena beras alami itu satu hari saja kadang sudah basi," katanya.

Tim mendatangi dua toko yang menjual beras tersebut. "Ada dua toko yang kita datangi untuk ambil sampelnya. Tapi maaf kami belum bisa sebutkan nama tokonya, karena masih harus diuji dulu hasilnya, jangan sampai merugikan mereka (pihak toko) kalau hasilnya tidak sesuai," bebernya. Pemilik toko mengaku beras tersebut dipasok dari Surabaya. Dia menuturkan beras itu belum disita, namun pemilik toko diminta untuk tidak menjual beras tersebut sebelum hasil uji laboratorium keluar.  Dari hasil investigasi lapangan, ada sekitar 500 sak beras super 09 dijual ke lima kecamatan. “Sampelnya kita berikan ke BPOM untuk diuji,” tuturnya.

Dia menambahkan beras jenis ini kalau dimasak terlihat agak kaku tidak lengket, dan keras kalau sudah dingin. Harganya juga murah, Rp 260 ribu per karung ukuran 25 kilogram. “Tapi harus uji laboratorium dulu,” pungkasnya.

Terpisah, staf loka  Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)  Morotai Syafri mengatakan, pihaknya sudah menerima sampel beras mentah dan  sudah dimasak untuk diuji. "Kami akan tindaklanjuti,  kalau sudah ada informasi  saya sampaikan, kami bawa dulu ke Sofifi. Terkait kapan hasilnya saya tidak bisa pastikan tapi secepatnya," kata Syafri. (tr-04/onk).

Share
Berita Terkait

Warga Antusias ke TPS

18/04/2019, 12:43 WIT

Oknum PNS Cabuli 3 Siswa SMP

24/02/2018, 09:57 WIT

Pembentukan Kodim Morotai Kian Dekat

26/09/2018, 09:10 WIT

Diduga Selingkuh, Guru Dianiaya

09/02/2018, 14:08 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan