Jumat, 06 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Banyak Memberi, Banyak Pula yang Akan Didapat

Banyak Memberi, Banyak Pula yang Akan Didapat

Diposting pada 21/10/2019, 14:52 WIT
PEREMPUAN HEBAT: Asnia Ishak (kanan) bersama perancang busana kenamaan Indonesia Anne Avantie saat Pameran Crafina 2019 DOK PRIBADI
PEREMPUAN HEBAT: Asnia Ishak (kanan) bersama perancang busana kenamaan Indonesia Anne Avantie saat Pameran Crafina 2019 DOK PRIBADI

Perjuangan Perempuan Mandiri Asnia Ishak Mengembangkan Batik Malefo

Sejak awal, Asnia Ishak sudah menjadi pengusaha batik. Namun perpisahannya dengan mantan suaminya membuat ia harus memulai bisnis batiknya lagi dari awal. Kini, ia sukses mengenalkan Batik Malefo hingga kancah nasional.

Putri Citra Abidin, Ternate

BEBERAPA tahun silam, Asnia Ishak begitu lekat dengan Batik Tubo. Ya, merek batik khas Maluku Utara itu merupakan miliknya dan mantan suaminya. Namun suratan menggariskan cerita lain, keduanya harus berpisah. “Awalnya tahun 2009 itu masih dengan mantan suami. Nantinya pada tahun 2016, kami mulai pisah, buat sendiri,” tuturnya kepada Malut Post, Kamis (17/10).

2016 boleh dibilang tahun yang berat bagi Asnia. Perempuan asal Kelurahan Tubo, Kota Ternate Utara itu harus memulai lagi bisnis batiknya dari awal. Ia bahkan tak bisa menggunakan mereknya yang sudah terkenal sebelumnya, Batik Tubo. “Batik Tubo sudah dipakai mantan suami, jadi saya coba daftarkan hak paten pakai nama Tubo saja, karena saya asli orang Tubo,” ungkapnya.
Namun ternyata tak semudah itu. Hak paten atas nama Tubo, untuk batik, tak bisa lagi di-approve lantaran Batik Tubo sudah dipatenkan atas nama mantan suaminya.

Asnia pun harus mencari nama lain. Dibantu rekanan pihak swalayan Taranoate yang khusus menjual buah tangan khas Malut. “Atas bantuan Ibu Titin dan Ibu Wati dari Taranoate, saya cari nama yang pas biar tidak sama. Untuk beberapa alasan yang kuat kita putuskan memakai nama Malefo,” kisahnya.

Malefo dalam bahasa daerah Ternate artinya menulis. “Namun selain menulis, malefo punya arti lainnya juga yakni bisa diterjemahkan sebagai kegigihan, dimana kita berusaha sampai bisa,” terang ibu dua anak itu.

Selain itu, budaya batik tulis begitu kental dikembangkan di Tubo. Maka nama Malefo dianggap paling pas untuk mengembangkan batik yang berbasis di daerah tersebut.

Peresmian nama Malefo dilaksanakan pada Hari Batik 2 Oktober 2016 lalu. Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman yang meresmikan galeri batik Asnia. Bukan main bangganya ia saat itu.

Ketertarikan Asnia pada batik tak lepas dari perhatiannya pada kemajuan budaya daerah lain. Menurut perempuan 40 tahun ini, hampir semua daerah di Indonesia punya motif batik khas masing-masing. “Saya lihat hampir setiap daerah punya kain batik ciri khas daerahnya. Terus kenapa kita tidak punya gitu? Sementara di Ternate, Maluku Utara, kita punya ciri khas. Kenapa tidak dituangkan di dalam karya membatik gitu? Makanya dari situ, iseng-iseng bikin mulai dari gambar pala dan cengkeh sebagai komoditas asli asal Maluku Utara yang paling terkenal,” paparnya.

Ide-ide Asnia yang dituangkan dalam batik ternyata disukai banyak kalangan. Ia makin rajin mengarahkan para pengrajinnya untuk membuat motif lain. “Belakangan kita bikin batik motif lain, mulai dari pisang goroho, salawaku, burung nuri, dan kombinasi motif lain,” sambungnya.

Salah satu ide terbaru Asnia saat ini berasal dari hasil sharing-nya dengan teman sekolahnya dulu. “Sekarang ini ada dapat ide dari teman jurusan IPA, yang katanya dia dengan penelitiannya meneliti salah satu bunga asli Maluku Utara. Uniknya, bunga itu hanya ada Ternate, tapi saya lupa namanya. Kami berdua sempat cari lebih lanjut di Google ternyata dapat. Cirinya bunga berwarna ungu, in shaa Allah mau buat untuk motif baru,” katanya antusias.

Asnia sendiri punya cara tak biasa dalam menyebarluaskan batiknya. Setiap kali ada event dan Batik Malefo diminta mensponsori, ia selalu memberikan banyak kain secara cuma-cuma. “Saya yakin, makin banyak kita memberi maka makin banyak juga yang akan kita terima, dan itu sudah saya buktikan,” ucapnya.

Batik Malefo pun sudah melenggang di banyak panggung event. Mulai dari Pemilihan Jojaru-Ngongare, Pemilihan Duta GenRe, hingga Pemilihan Putra-Putri Kampus Malut.

Berkat kiprahnya, sudah berjibun penghargaan diraih Asnia bersama Batik Malefo-nya, baik di tingkat kota maupun provinsi. Ia juga mendapat kesempatan melakukan studi banding soal batik di sejumlah daerah di Indonesia. “Ini yang terbaru dan tengah saya ikuti, undangan langsung dari Pertamina Pusat, saya diminta ikut Pameran Crafina 2019 di Jakarta Convention Center, dan akan berlangsung selama seminggu,” akunya, bangga bisa mewakili Maluku Utara.

Selama pameran berlangsung, Asnia mengaku belajar banyak hal dari peserta lain. Salah satunya adalah lebih concern pada kualitas kain. “Melihat minat masyarakat sudah semakin meningkat itu artinya saya juga harus tetap mengikuti tren dan tak mau ketinggalan,” ujarnya. “Saya kebetulan satu booth dengan semua mitra binaan batik di Indonesia. Kalau dilihat kan banyak sekali yang dari Jawa nih, tetapi yang paling menonjol itu dari bahannya. Jadi saya sudah tanya-tanya perbanyak referensi, agar ke depan saya mau tingkatkan kualitas kain lalu buat dalam bentuk baju yang sudah jadi kayak dress, gaun,” ungkapnya.  

Harga kain batik Malefo yang paling dibanderol Rp 400 ribu untuk ukuran 2 meter. Sedangkan yang paling murah Rp 150 ribu. “Kalau beli lebih dari tiga dapat diskon,” kata Asnia.

Saat ini, Asnia memiliki empat orang pengrajin tetap. Ia tak menutup pintu untuk ibu-ibu lain yang hendak belajar membatik dan ikut bekerja. “Nanti ka hitungan bayarannya per kain,” tuturnya.

Sebagai seorang single parent, Asnia sudah membuktikan ia mampu berjuang secara mandiri. Dia pun berbagi saran dengan ibu rumah tangga lain di luar sana. “Sekadar masukan, daripada duduk membuang waktu percuma, lebih baik lakukan sesuatu yang baik agar bisa membantu perekonomian keluarga, terutama yang sudah berumah tangga dan belum punya pekerjaan tetap,” pungkasnya.(mg-05/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan