Senin, 09 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Jadi Role Model Masjid-Masjid Lain

Jadi Role Model Masjid-Masjid Lain

Diposting pada 24/10/2019, 15:07 WIT
HIJAU SEGAR: Amanda Putri Nadzario (kiri) bersama Siti Ruqoyyah melihat tanaman hidroponik di Masjid Al Akbar Edu-Park beberapa waktu lalu FAJAR TUMANGGOR/JAWA POS
HIJAU SEGAR: Amanda Putri Nadzario (kiri) bersama Siti Ruqoyyah melihat tanaman hidroponik di Masjid Al Akbar Edu-Park beberapa waktu lalu FAJAR TUMANGGOR/JAWA POS

Masjid Al Akbar Edu-Park Gabungkan Religi, Lingkungan, dan Teknologi

Helmy M. Noor beserta pengurus menelurkan Masjid Al Akbar Edu-Park. Memanfaatkan lahan kosong di sisi utara masjid, mereka menggabungkan nuansa religi, lingkungan, hingga perkembangan digital 4.0 dalam satu tempat.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

RONA wajah Amanda Putri Nadzario sangat cerah. Didampingi temannya, Siti Ruqoyyah, mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu sejenak melepas penat di bangku taman Masjid Al Akbar Edu-Park. Cuaca panas menyengat pun tak terasa seiring dengan datangnya angin sepoi dan suara gemericik air.

Keduanya lantas melangkahkan kaki dari sudut taman ke sudut lain. ’’Salah satu unggulannya ya ini. Hidroponik,” tutur Amanda yang disambut anggukan Ruqoyyah saat melihat spot tanaman hidroponik. Mereka lamat-lamat mengamati cara penanaman tumbuhan hidroponik itu. ’’Sengetahuan saya, ya mediumnya pakai air. Gak pake tanah. Ayo kita buktikan. Tuh kan bener,” kata Amanda sembari melihat ke dalam pipa tanaman hidroponik.

Mereka kagum dengan banyaknya tanaman hidroponik ’’Kami mau petik, tapi gak dibolehin. Harus nunggu panen dulu,” ujar Amanda, lantas tertawa.

Humas Majid Al Akbar Helmy M. Noor menjelaskan, biasanya konsep masjid hanya dibuat untuk ibadah dan kegiatan religi. Jarang menyentuh edukasi lingkungan. ”Karena itu, gebrakan ini kami buat,” ungkap Helmy saat memantau taman tersebut pada Minggu (13/10).

Selain destinasi hidroponik, setidaknya ada delapan spot menarik yang layak dikunjungi. Yakni, destinasi tanaman obat keluarga (toga), urban farming (sayuran), bunga, buah, air mancur 9 warna, menara 99 meter, pusat informasi 4.0, serta ngaji milenial. ’’Tak ketinggalan, kami membuat lampion di dekat tanaman hidroponik. Tujuannya, menghargai keberagaman. Ini sebagai wujud akulturasi,” tutur pria 46 tahun itu.

Para turis yang berkunjung juga dimanjakan dengan lantunan Asmaul Husna dan Alquran sepanjang hari. Sistemnya dibuat silih berganti lewat speaker yang terpasang di tiga sudut taman. Hal itu juga bertujuan menguatkan hafalan ayat suci Alquran dengan santai sambil menikmati pemandangan. ’’Utamanya kami arahkan ke anak-anak. Para orang tua yang mendampingi bisa mengedukasi mereka,” ungkap pria asal Jambangan tersebut.

Helmy mengatakan, sejak diluncurkan pada 1 Muharam lalu, taman itu dikunjungi 500 orang setiap hari. Mereka berasal dari berbagai daerah. ’’Ada pula yang dari luar negeri seperti Taiwan dan Prancis,” ungkapnya. Banyak pengunjung dari luar negeri yang awam dengan kultur masyarakat muslim. ’’Mereka kan suka berbusana pendek. Langsung kami beri penutup. Kami edukasi bahwa peraturannya begitu,” ucap Helmy.

Di samping itu, para pengunjung yang ingin menikmati taman seluas 1.810 meter persegi tersebut harus berkelakuan sopan, keluar dari taman ketika salat tiba, serta tak boleh memetik tumbuhan sembarangan. ’’Yang tak kalah penting, tak boleh merusak dan mengotori area taman. Kami sudah membuat tong sampah juga,” ungkapnya. Hal semacam itu juga merupakan bagian kecil dari upaya menjaga taman.

Helmy menambahkan, Masjid Al Akbar Edu-Park tersebut sudah dikunjungi beberapa pejabat. Antara lain, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, serta ibunda Presiden Joko Widodo, Sudjiatmi. ’’Mereka sangat terkesan dengan konsep pembangunan taman itu. Selain estetis, taman tersebut bisa memadupadankan lingkungan, religi, bahkan ke depannya teknologi. Untuk yang terakhir masih kami rancang,” papar Helmy.

Tempatnya sudah dibuat. Berada di sisi timur taman. Nanti, ada empat komputer yang tersedia di area itu. Konsepnya, belajar dengan menggunakan teknologi. ’’Sasarannya generasi milenial. Bagaimanapun, perkembangan teknologi semakin maju. Kami merasa perlu perkembangan ke arah sana juga,” ujarnya.

Dia berharap pembuatan taman itu bisa menjadi role model bagi masjid lain di tanah air. Tempat ibadah tidak hanya menjadi ruang-ruang monoton dengan sejubel aktivitas religi. Konsep lingkungan dan perkembangan teknologi, sejauh itu positif, bisa dipadupadankan. Helmy menyebutkan, kuncinya hanya tiga. Yakni, adanya kemauan, keikhlasan, dan selalu mengedepankan kerja sama. ’’Insya Allah, selalu ada jalan,” tuturnya.(jpc/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan