Rabu, 11 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Ingin Jadi Tuntunan, Bukan Sekadar Tontonan

Ingin Jadi Tuntunan, Bukan Sekadar Tontonan

Diposting pada 26/10/2019, 12:34 WIT
PELAWAK CILIK: Azkal, Fadli, Ilham, dan Rendra Polapike dalam syuting salah satu lawakannya di Kebumen MUHAMMAD ALI/JAWA POS
PELAWAK CILIK: Azkal, Fadli, Ilham, dan Rendra Polapike dalam syuting salah satu lawakannya di Kebumen MUHAMMAD ALI/JAWA POS

Melihat Komunitas Bocah Pelawak Ngapak Polapike

Para bocah berbahasa Ngapak ini sekarang sudah jadi selebriti. Mereka punya 85 video di YouTube dan acara yang ditayangkan Trans7. Syuting dilakukan tanpa mengganggu hak mereka sebagai anak.

Agus Dwi Prasetyo, Kebumen

’’BAR iki sinau ora? (setelah ini belajar tidak?),’’ tanya Rendra kepada Azkal.

Dengan muka polos, Azkal menjawab, ’’Oh iya, MTK-ne enek PR. Kelalen nyong. Untung Mas Rendra ngomong (Oh iya, ada PR MTK. Lupa aku. Untung Mas Rendra mengingatkan).’’ Bergegas Azkal mengajak Fadli dan Ilham pulang ke rumah.

Namun, langkah mereka sekonyong-konyong terhenti ketika Ilham, 9, menyela, ”Tapi inyong ora enek PR (Tapi aku tidak punya PR).”

Seketika Azkal, 12; Fadli, 11; dan Rendra, 34, menatap tajam ke Ilham bersamaan. ”Sinau iku ora kudu enek PR, Ham… (Belajar itu tidak harus ada PR, Ham…),” jawab Rendra dengan wajah bersungut.

Ekspresi yang mereka munculkan mampu mengundang tawa yang melihat. Dialog itu bukan bagian dari adegan film pendek untuk tayangan televisi atau kanal YouTube Rendra Polapike. Percakapan itu spontan. Ilham memang seperti itu. Kerap menjawab sekenanya. ”Ilham itu paling polos,” kata Yan Rendra Pratiwi, nama lengkap Rendra ditemui di Dusun Loning, Desa Sadangwetan, Kecamatan Sadang, Kebumen, Jawa Tengah.

Berbeda dengan Azkal, Fadli, dan Ilham, nama Rendra barangkali kurang familier di kalangan penggemar film pendek produksi Polapike atau acara komedi situasi Bocah Ngapa(k) Ya yang tayang di Trans7. Bukan karena dia jarang tampil. Tapi lantaran dia lebih sering dipanggil Pak RT karena memang kerap kebagian peran sebagai Pak RT.

Polapike adalah kanal YouTube komedi situasi yang menyedot perhatian selama setahun terakhir. Hampir seluruh konten video yang di-posting telah ditonton ribuan bahkan jutaan kali. Jumlah pelanggannya hingga tadi malam tercatat 803 ribu akun. Nama mereka semakin ngetop setelah bermain dalam program Bocah Ngapa(k) Ya yang ditayangkan Trans7.

Selain mereka, ada anak-anak lain yang melengkapi cerita. Di antaranya, Oktavia Tyastuti (berperan sebagai Tyas/kakak Ilham) dan Yusuf Anwar (Ucup). ”Orang nyangkanya Polapike itu ada tiga (anak). Polapike itu komunitas,” cerita Rendra.

Meski menggunakan bahasa Ngapak, konten video Polapike disukai banyak orang. Tak terbatas hanya mereka yang menggunakan bahasa Ngapak.

Jika jeli melihat, dari 85 video yang diunggah di YouTube, Polapike hampir tidak pernah menampilkan adegan memunculkan telepon genggam. Bahkan, Polapike menolak tawaran iklan provider ponsel dan sejenisnya. ”Sebab, takutnya dijajah handphone,” tegasnya.

Sampai sekarang, Polapike lebih konsisten menyisipkan permainan tradisional khas anak desa. Misalnya, patil lele, petak umpet, telepon kaleng, egrang, bermain kelereng, hingga menggiring ban. ”Kami bisa main dengan permainan yang bikin sendiri,” papar pria kelahiran 1985 itu.

Polapike diinisiatori Rendra. Sebelumnya, Rendra yang sempat mengenyam karier sebagai artis figuran di Jakarta pulang kampung. Dia tak berniat balik ke ibu kota. Tak banyak yang dikerjakan di desa, pikirannya tertekan. Hingga muncullah ide mengajak anak-anak di desa untuk membikin konten YouTube yang khas pada Agustus tahun lalu.

Dalam produksinya, Polapike selalu mengedepankan hak anak. Misalnya, menghindari syuting pada jam sekolah, jam mengaji, dan jam belajar malam. Polapike juga tidak mau mengganggu kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti pemainnya seperti Pramuka. ”Terus, di jam salat, kegiatan syuting dihentikan,” kata Rendra.

Sebagai pentolan komunitas, Rendra tidak hanya mengatur jadwal, tapi juga membangun karakter anak-anak dalam fragmen cerita yang dibuat. Pembentukan karakter dilakukan dengan menyisipkan pesan moral dalam setiap kegiatan Polapike. ”Jadi, tak tempel terus. Tak perhatikan benar-benar perkembangannya,” jelasnya.

Pendekatan itu pun membuat Rendra dikenal sebagai pawang anak-anak oleh warga kampung. Pada awal-awal Polapike terbentuk, Rendra sulit mengatur ritme. Banyak anak yang minggatan (kabur) ketika pengambilan gambar. ”Ada yang suka bercanda sendiri juga,” ungkapnya.

Meminta anak-anak itu berakting bukanlah hal mudah. Apalagi, di antara mereka semua, tidak ada yang punya latar belakang seni peran. Rendra harus ekstrasabar mengajari mereka.

Dia mencontohkan Ilham. Bocah kelas III MI Ma’arif Sadangwetan itu awalnya jarang mau tersenyum ketika bertemu orang. Dia juga paling lambat dalam menghafal dialog-dialog panjang. Ilham kerap menjadi sasaran perundungan Azkal dan Fadli karena kelemotannya itu. ”Tapi, ternyata yang menjadi perhatian sekarang malah Si Ilham,” jelasnya.

Proses pembentukan karakter itu sejalan dengan harapan orang tua Azkal cs. ”Kalau kami, penginnya (Ilham) jadi anak mandiri, lebih pintar. Sejak syuting, kepercayaan dirinya meningkat. Kendel,” ungkap Tarmah, ibu Ilham.

Begitu pula orang tua Fadli. Ruwiyo, ayah Fadli, merasakan anaknya mendapat tambahan ilmu selama bergabung dalam komunitas Polapike. ”Seperti pelajaran bahasa Inggris, kalau di sekolah belum dapat, tapi kadang-kadang sudah dimasukkan (disisipkan) di syuting,” tuturnya.

Polapike bertekad terus menjaga konsistensi komunitas yang bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan. Yang tak kalah penting adalah terus menjaga ciri khas wong ndeso dalam setiap konten. ”Kalau diminta mengubah itu (ciri khas ndeso), saya sangat menolak,” tegas Rendra.(jpc/kai)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan