Sabtu, 14 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Punya Kromosom XY setelah Jalani Pemeriksaan

Punya Kromosom XY setelah Jalani Pemeriksaan

Diposting pada 28/10/2019, 15:25 WIT
SUDAH JELAS: Widianti bersama ibunya, Sayunah, saat dijumpai di kediaman mereka di Sepanjang, Sidoarjo, kemarin KARTIKA SARI/JAWA POS
SUDAH JELAS: Widianti bersama ibunya, Sayunah, saat dijumpai di kediaman mereka di Sepanjang, Sidoarjo, kemarin KARTIKA SARI/JAWA POS

13 Tahun Widianti Dianggap sebagai Perempuan, Sejatinya Laki-Laki

Selama 13 tahun Widianti menjadi perempuan. Padahal, sejatinya dia laki-laki.

KARTIKA SARI, Jawa Pos

SAYUNAH tak terkira senangnya ketika bidan mengatakan bahwa anak yang baru saja dilahirkan adalah perempuan. Dia berjuang untuk melahirkan anaknya itu melalui operasi Caesar pada 15 Mei 2006. Sebab, saat usia kandungan 7 bulan 2 minggu, dia sudah merasakan mau melahirkan. Sayunah memberi nama anaknya Widianti.

Namun, rasa heran ada di benak warga Simowau, Kelurahan Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo, itu ketika melihat bagian genital bayinya. Fisiknya terlihat berbeda dengan perempuan normal. Namun, Sayunah tetap merasa yakin bahwa anaknya benar-benar perempuan karena tim medis yang membantu proses persalinan sudah mengatakan demikian.

Selama merawat anak terakhirnya itu, Sayunah memperlakukannya sebagai perempuan. Mulai membuatkan akta kelahiran sebagai perempuan, membelikan busana perempuan, hingga memberikan pendidikan moral layaknya perempuan. Dia juga memberikan mainan berupa boneka. Namun, saat berusia 4 tahun, Yanti –sapaan Widianti– mulai suka bermain sepak bola. Itu dianggap sebagai hal lumrah. ”Dengan teman-temannya di kampung, dia sering main sepak bola,” kata perempuan 52 tahun itu.

Saat masuk SD, Yanti pun didorong untuk membaur bersama teman-teman perempuan oleh ibunya. Rambutnya dibiarkan panjang, seperti teman-teman perempuan lain. Meski begitu, Yanti tetap bermain sepak bola bersama teman laki-laki.

Tetangga-tetangga merasa Yanti memiliki tingkah laku yang berbeda dengan perempuan lain. Karena itu, mereka mendorong Sayunah untuk memeriksakan anaknya itu ke dokter. Namun, Sayunah tetap yakin bahwa anak terakhirnya tersebut perempuan. Lebih dari itu, dia tak memiliki cukup uang untuk memeriksakan anaknya.

Semakin lama, Sayunah semakin risi dengan perkataan tetangganya. Di sisi lain, dia juga merasakan hal ganjil pada Yanti. Di bagian genital Yanti, tumbuh benjolan. ”Yanti juga sering kesakitan bila bagian kelaminnya itu terbentur sesuatu,” tutur Sayunah.

Hati Sayunah pun luluh. Saat Yanti sudah memasuki kelas VI SD, Sayunah memeriksakannya ke puskesmas terdekat. Selanjutnya, Yanti dirujuk ke RS Siti Khodijah Sidoarjo. Di sana Sayunah bertemu dengan dr Bambang Wicaksono SpBP-RE pada awal 2019.

Melihat adanya kelainan pada genital Yanti, dokter berusia 41 tahun itu menyarankan agar Yanti menjalani serangkaian pemeriksaan. Meliputi pemeriksaan kromosom dan psikologi di RSUD dr Soetomo. ”Saya sejak awal menduga bahwa anak tersebut sebenarnya laki-laki. Namun, untuk membuktikan kebenarannya, saya menyarankan untuk diperiksa lebih lanjut,” kata Bambang.
Benar saja, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan kurang lebih tiga bulan, Yanti terbukti memiliki kromosom XY. Itu adalah gen laki-laki. Sejak mengetahui bahwa identitasnya laki-laki, Yanti bertingkah berkebalikan seperti sebelumnya. ”Dia mulai bergaul dengan laki-laki, kalau sama perempuan menghindar. Dia juga memotong cepak rambutnya. Sampai-sampai, dia meminta dipanggil teman-temannya dengan nama Irvan,” tutur Sayunah.

Pada 6 Juli lalu, Yanti menjalani operasi kordektomi, yakni membuang jaringan ikat yang membuat penisnya tertarik ke dalam. Dilanjutkan tahap reposisi testis. Tujuannya, bentuk testisnya lebih tertarik ke depan. ”Yanti mengalami hipospadia perineal. Itulah yang menyebabkan dia dianggap sebagai perempuan,” jelas Bambang.

Operasi tersebut berjalan lancar. Butuh waktu 2,5 jam untuk melakukan tindakan itu. Bambang menjelaskan, tahapan operasi masih harus dilanjutkan. Yakni, operasi uretroplasti, pembuatan saluran kencing. Itu akan dilakukan enam bulan setelah operasi pertama. Saat ini saluran kencingnya berada di bawah penis. ”Kasus tersebut sudah termasuk telat ditangani. Sejak lahir seharusnya diidentifikasi,” papar Bambang.

Sejak lahir, setelah diketahui ada hal yang berbeda, seharusnya Yanti diperiksakan ke dokter. ”Untung anaknya tidak jadi kemayu. Kalau sudah telat seperti ini, harus mengubah kartu keluarga dan ijazah SD,” lanjut dia.

Kemarin (25/10), saat ditemui Jawa Pos, Yanti baru pulang sekolah. Dia masih mengenakan seragam sekolah. Kini dia duduk di bangku kelas VII SMP Yayasan Taman.

Bersama keponakannya, Yanti menonton televisi. Kini dia senang telah memiliki kelamin laki-laki meski belum sempurna dan masih perlu operasi lagi. Menurut Ika Wahyuni, kakak pertamanya, masih perlu empat kali operasi lagi. ”Kalau kata dokternya seperti itu,” katanya.

Menurut dia, pengurusan penggantian status kelamin tengah dilakukan. ”Sudah mengurus surat dari RT dan kelurahan. Baru mau mengurus ke kecamatan. Nanti sampai pengadilan negeri juga untuk sidang,” paparnya. Ika dan keluarganya sudah menyiapkan nama baru untuk Yanti. Yakni, Muhammad Irvan Jaya.

Sementara itu, menurut dokter spesialis kesehatan jiwa RS Siti Khodijah Sidoarjo dr Suksmi Yitnamurti SpKJ, Yanti saat ini perlu pendampingan psikolog atau psikiater. Fungsinya, meyakinkan bahwa Yanti benar-benar laki-laki. ”Perannya sebagai laki-laki pun harus ditumbuhkan,” katanya.
Menurut dia, cara bergaul Yanti yang sudah berbaur dengan teman laki-laki akan memberikan kemudahan untuk menjalankan perannya. Dengan begitu, lanjut dia, tak ada masalah yang berarti terkait psikologisnya. ”Keluarga atau teman-temannya juga harus melakukan penyesuaian terkait identitas baru Yanti. Jangan sampai mengolok-olok,” ucap Suksmi.(jpc/kai)

 

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan