Jumat, 13 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Membaurkan Ekspatriat dan Warga Lokal dengan Bahasa Indonesia

Membaurkan Ekspatriat dan Warga Lokal dengan Bahasa Indonesia

Diposting pada 29/10/2019, 14:37 WIT
AKRAB: Yoshida
AKRAB: Yoshida "Ochie" Chandra (tengah) bersama dua muridnya di Sekolah Cinta Bahasa, Ubud, Bali Khusaini/Jawa Pos

Mengunjungi Sekolah Cinta Bahasa yang Digerakkan Yoshida “Ochie” Chandra

Dengan tekad mempersatukan, pemuda-pemudi yang berikrar pada 28 Oktober 1928 yakin memilih bahasa Indonesia sebagai lingua franca. Bahasa yang menjembatani, mengeratkan, menyetarakan. Yoshida Chandra dan Ivan Lanin memegang cita-cita yang sama.

Mariyama Dina , Denpasar

SEKILAS minimarket di Jalan Sanggingan 88, Ubud, Bali, itu tampak biasa saja. Lebih mirip sebuah rumah teduh dengan banyak tumbuhan.

Namun, begitu naik ke lantai 2, sekat-sekat di dalam ruangan menunjukkan bahwa tempat tersebut adalah kelas-kelas di sebuah sekolah. Tempat itulah ladang bagi Yoshida Chandra membumikan bahasa Indonesia. Namanya Sekolah Cinta Bahasa.

Dari balik kaca-kaca jendela, lamat-lamat terdengar percakapan antara beberapa murid dan guru yang berwajah sangat Indonesia. Murid-murid tersebut didominasi ekspatriat dan turis.

Sekolah bahasa Indonesia itu didirikan Ochie, sapaan Yoshida, pada 2011. Sudah lebih dari 500 murid yang pernah menimba ilmu di sekolah itu. Sebagian besar adalah ekspatriat. ”Ada empat tingkatan kelas di sini. Beginner (pemula), pre-intermediate (pra lanjutan), intermediate (lanjutan), hingga advance (mahir),” jelas Ochie saat disambangi wartawan Jawa Pos 15 Oktober lalu. Saat ini ada 15 tenaga pengajar di sekolah tersebut.

Lahirnya Sekolah Cinta Bahasa itu berawal dari keresahan Ochie. Sejak kepindahannya ke Bali pada 2010 untuk menjadi relawan di ajang Ubud Writers & Readers Festival, perempuan berdarah Padang tersebut merasa terlalu banyak orang yang mengajaknya berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. ”Setelah beberapa bulan kok capek juga kalau berbahasa Inggris terus setiap hari. Terus aku tanya ke teman-temanku (ekspatriat), kenapa kok mereka nggak pakai bahasa Indonesia saja?” ceritanya.

Kebanyakan alasan mereka adalah belum sempat belajar karena kesibukan pekerjaan atau urusan keluarga lainnya. Padahal, menurut Ochie, alangkah baiknya jika komunitas ekspatriat itu lebih berbaur dengan warga lokal. ”Yang ekspat sungkan karena belum bisa bahasa Indonesia. Sedangkan warga lokal merasa bahasa Inggrisnya belum bagus,” jelasnya.

Misi menjembatani kaum ekspatriat dengan warga lokal itulah yang mengantar Ochie bertekad mendirikan sekolah bahasa. Menurut dia, orang Indonesia itu mudah sekali akrab jika orang asing mau mempelajari bahasanya. ”Coba kamu ketemu turis. Terus tiba-tiba dia bilang halo apa kabar, Mbak! Itu senangnya bukan main kan? Padahal, mungkin kalimat tersebut adalah satu-satunya yang dihafal turis tadi,” sambungnya.

Jadilah, pada 2011, bersama sang suami Stephen DeMeulenaere, Ochie mendirikan Sekolah Cinta Bahasa. Ochie kemudian lebih sering menekuri KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ketika mulai getol mempelajari lebih dalam bahasa Indonesia. Apalagi, latar belakang akademisnya adalah sarjana sastra Inggris dari Universitas Andalas.

Tetapi, dalam mengajar, Ochie tidak melakukannya secara teoretis sama dengan sekolah formal. Misalnya belajar SPOK (subjek, predikat, objek, keterangan) dulu atau semacamnya. Tapi langsung ke percakapan terapan yang bisa dipraktikkan langsung begitu keluar dari kelas. ”Mulai beli sesuatu di toko, berbicara dengan stafnya, sampai percakapan yang jamak terjadi di kantor imigrasi,” terusnya.

Seiring bertambahnya pengalaman dalam mengajar, Ochie memilih menyusun silabusnya sendiri. Dia tidak ingin belajar bahasa itu menjadi beban. ”Nah, waktu penyusunannya (silabus) tentu ada trial and error-nya. Kami memetakan apa saja kebutuhan orang asing dalam mempelajari bahasa,” lanjutnya.
Yang paling susah dialami saat Ochie dan timnya harus meraba-raba materi mana yang lebih dulu diajarkan. Misalnya belajar keterangan waktu atau harga dulu ketika bertransaksi. Lalu mendahulukan panggilan atau sapaan. ”Oh, ternyata setelah dicoba, kami harus mengajarkan angka dulu, baru cara menawar. Dan susunan (silabus) itu pun masih terus kami evaluasi sampai sekarang,” kata perempuan kelahiran 16 Juni 1982 tersebut.

Mereka yang belajar di Sekolah Cinta Bahasa pun mengaku senang karena lebih mudah mempelajari bahasa Indonesia. David Hanks, salah seorang ekspatriat, bercerita bahwa bahasa Indonesia lebih mudah dipelajari ketimbang bahasa Rusia dan Jepang. ”Terkadang ada hal kecil yang seharusnya simpel, tapi jadi susah banget,” ujar David. Salah satunya adalah kata berlari yang memiliki huruf r dan l berurutan. ”Karena di tempatku kita nggak mengulang r dan l berurutan,” jelas dia, kemudian kembali berlatih mengucapkan kata tersebut berkali-kali.

Sekolah Cinta Bahasa sudah membuka satu cabang di Sanur. Ochie berharap semua ekspatriat yang bekerja dan tinggal di Indonesia wajib bisa berbahasa Indonesia. Karena itu, dia ingin bisa bekerja sama dengan badan-badan yang membina BIPA (bahasa Indonesia bagi penutur asing) dan institusi terkait di dalam dan luar negeri. ”Dari situ saya ingin pemerintah sadar bahwa tes BIPA itu penting dilakukan bagi ekspat yang ingin bekerja dan tinggal dalam waktu lama di Indonesia,” tuturnya.(jpc/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan