Senin, 16 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Karena Babilah Yang Menyekolahkan Anak-Anak

Karena Babilah Yang Menyekolahkan Anak-Anak

Diposting pada 30/10/2019, 14:55 WIT
FESTIVAL BABI: Tak mudah membuat babi tetap berada di lintasannya  Debora Danisa/Jawa Pos
FESTIVAL BABI: Tak mudah membuat babi tetap berada di lintasannya Debora Danisa/Jawa Pos

Festival Babi Danau Toba 1.0 di Sumut


Diajaknya aku ke rumah dia
Makan daging babi dengan sayur kol
Sayur kol… sayur kol…
Makan daging babi dengan sayur kol

DEBORA DANISSA SITANGGANG, Tapanuli Utara

LAGU Sayur Kol itu melantun di tengah keramaian lapangan SD Negeri No 173365 Muara. Bedanya, lagu yang sempat viral tersebut sedikit diganti liriknya. Bukan daging anjing, melainkan daging babi. Disesuaikan dengan momen yang berlangsung dua hari di Muara, Tapanuli Utara, itu.

Muara, sebuah kecamatan kecil di tepi bagian selatan Danau Toba, menarik perhatian wisatawan dengan Festival Babi Danau Toba 1.0. Ini merupakan kali pertama festival babi diadakan di Sumatera Utara. Menjadi surganya pencinta babi. Tak cuma kuliner, tapi binatang babi itu sendiri.

Pada Jumat pagi (25/10), hari pertama festival, Jawa Pos mendatangi lokasi festival di lapangan SD. Persis di tepi Danau Toba. Belum tampak stan atau deretan pagar bambu yang menunjukkan adanya festival. Hanya panggung sederhana dari bambu dan tripleks yang didirikan di atas danau. Subuh sebelumnya turun hujan deras sehingga menghentikan aktivitas panitia menyiapkan tempat acara.

Embun masih pekat. Namun, sejumlah anak sekolah dan warga sekitar sudah turun ke danau. Tempat festival belum siap 100 persen. Tugas mereka adalah bergotong royong membantu membersihkan sekitar lapangan dan tepi danau. Terutama dari sampah plastik dan enceng gondok.
Sementara matahari mulai meninggi dan embun makin tipis, anak-anak laki-laki tanggung mulai bekerja mendirikan pagar bambu. Untuk berbagai macam perlombaan yang sudah mereka siapkan di festival.

Pada pagi yang sama, serombongan laki-laki kekar berkaus hitam datang. Sejumlah warga bertanya-tanya, apakah mereka adalah kru TV program acara mancing atau petugas keamanan? Setelah diikuti beberapa saat, ternyata mereka adalah anggota Sanggar Bapontar dari Jakarta. Khusus dipanggil ke Muara untuk… memasak. ”Ini semua chef. Kami dari Manado,” tutur Juve Mantiri, salah seorang anggota Sanggar Bapontar.

Para chef kekar itu dengan cekatan memotong sayuran, bumbu rempah, dan daging babi asli Muara yang disiapkan panitia. Ada beberapa jenis masakan yang mereka buat. Babi guling jadi menu utama. Di sampingnya, mereka membuat olahan babi tinoransak, sate babi, babi kecap, rica-rica, dan babi bumbu kuning.

Keseruan festival baru terasa setelah istirahat siang. Seluruh pagar bambu sudah terbangun. Didirikan sepanjang 10 meter dengan lebar 1,5 meter menyerupai lintasan. Di situlah digelar sejumlah lomba. Pertama, lari babi. Dua babi diletakkan di lintasan. Masing-masing mewakili peserta yang sudah mendaftar. Tidak ada peluit. Pembawa acara hanya berseru ”mulai” dan babi-babi itu pun berlari. Siapa yang paling cepat mencapai garis merah di ujung, ia pemenangnya.

Cuma dua gelombang perlombaan babi-babi itu mau berlari lurus. Sisanya, entah mereka berjalan pelan atau berlari kecil tak tentu arah. Di situlah letak serunya. Penonton bersama-sama menyoraki si babi agar mau berlari menuju garis merah.

Begitu mau berlari, ada yang sampai menabrak pagar bambu dan menerobos rongganya. Lari ke luar, ke arah sekolah maupun warung. Warga dan panitia berjibaku menangkap kembali babi-babi itu dan membawanya ke kandang.

Masih dengan lintasan yang sama, panitia beranjak ke lomba panggil babi. Kendati hampir seluruh warga Muara punya babi, ternyata banyak juga yang gagal. Peserta diminta melakukan berbagai cara untuk memanggil babi mendekat ke mereka.

”Hurce! Hurce!” Begitu seru para peserta. Dalam bahasa Batak, hurce berarti babi. Saking susahnya, ada peserta yang sampai putus asa dan akhirnya asal memanggil saja sambil mengibas-ngibaskan tangan. ”Itu bukan memanggil, itu mengusir, Tulang!” seru penonton.

Sepanjang hari pertama festival, ada lima babi yang dilibatkan. Satu babi hitam dan sisanya babi pink. Semua diamankan dalam satu kandang di tempat festival. Panitia memberikan nama-nama buat mereka. Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon, Saut, dan yang paling kecil dan berwarna hitam dinamai Benget.

Selama di kandang itu, Hamoraon dan kawan-kawan masih menarik perhatian pengunjung. Babi-babi itu diajak berselfie. Selfie yang paling menarik bakal menang. Ibu-ibu hanya berfoto bareng dari luar. Malas kena lumpur.

Salah seorang bapak bernama Tuahman Saragih dari Medan memberanikan diri. Dia membutuhkan waktu cukup lama untuk memosisikan si babi di depan kamera. ”Sampai kurang lebih 15 menit tadi,” ungkapnya. Untung, dia berhasil.

Namun, keberhasilan telak dialami Vandy Sihombing. Pemuda yang datang dengan kemeja kotak-kotak rapi itu tidak ragu masuk ke kandang dan mengajak babi-babi ber-selfie. Dengan dukungan teman-temannya yang ikut mengelus-elus si babi, Vandy berjongkok. Para babi pun menengok ke kamera. Bahkan, dia berhasil menggendong salah satunya, Si Benget, dan berfoto selfie sambil berdiri membawa babi.

Babi, diakui warga sekitar, menjadi aspek kehidupan yang sangat penting. Seperti sapi buat orang Jawa. ”Makanya kami ingin warga berbaur dan belajar menunjukkan bagaimana menghargai babi, ya dengan lomba selfie dan sebagainya,” jelas Ishak Aritonang, direktur Muara Inspirasi yang menyiapkan Festival Babi Danau Toba 1.0.

Setiap ada pesta atau acara adat Batak, babi wajib ada sebagai seserahan atau hidangan. Ishak menuturkan, dalam masyarakat di Muara maupun Batak lainnya, dikenal ungkapan ”babilah yang menyekolahkan kita”. ”Sebab, sering kali orang tua untuk bisa membuat anak-anaknya sekolah, mereka jual babi,” ungkapnya.

Melihat antusiasme warga maupun wisatawan dari luar Muara, Ishak berharap Festival Babi itu bisa diadakan setiap tahun. Ini juga menjadi semacam atraksi bagi turis sehingga meramaikan Muara sebagai salah satu tujuan wisata di sekitar Danau Toba. Meski untuk pemilihan nama itu, dia mengaku sempat muncul pro-kontra di kalangan warga Muara sendiri maupun dari luar. ”Babi selama ini diasosiasikan dengan ucapan yang buruk. Kalau memaki orang, pakai omongan ’babi kau’. Tapi, kami mencoba mengubah mindset itu bahwa babi adalah binatang yang juga harus kita sayangi, bukan merujuk pada orang,” paparnya.

Karena itu, selain dikenal dengan nama Festival Babi Danau Toba 1.0, festival tersebut sempat diperkenalkan sebagai Pig and Pork Festival Muara. Lebih ramah juga untuk turis asing yang mau datang dan penasaran.(jpc/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan