Kamis, 12 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / MAJANG POLIS / Pemkot Lamban Bergerak

Pemkot Lamban Bergerak

Diposting pada 18/11/2019, 15:29 WIT
MENGUNGSI: Warga Pulau Batang Dua memilih tidur di luar pasca diguncang gempa 7,1 SR Jumat (15/11) dini hari kemarin hingga kini. Warga trauma dengan banyaknya gempa susulan dan sempat dikeluarkannya peringatan dini tsunami RELAWAN GPM MAYAU FOR MALUT POST
MENGUNGSI: Warga Pulau Batang Dua memilih tidur di luar pasca diguncang gempa 7,1 SR Jumat (15/11) dini hari kemarin hingga kini. Warga trauma dengan banyaknya gempa susulan dan sempat dikeluarkannya peringatan dini tsunami RELAWAN GPM MAYAU FOR MALUT POST

TERNATE – Gempa bumi 7,1 Skala Richter (SR) yang mengguncang Maluku Utara Jumat (15/11) dini hari kemarin mengakibatkan ratusan warga Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, dicekam trauma. Ratusan gempa susulan yang terjadi hingga kemarin (17/11) menambah ketakutan warga. Mereka pun masih memilih bermalam di pengungsian. Ironisnya, hingga kini bantuan dari Pemerintah Kota Ternate belum juga diturunkan ke wilayah terdampak itu.

Koordinator Relawan Gereja Protestan Maluku (GPM) Mayau, Alprens Poene yang dihubungi Malut Post lewat sambungan telepon mengungkapkan, warga yang mengungsi saat ini mencapai 317 orang. Mereka menempati dua titik, yakni di bangunan SMA Negeri 11 Kota Ternate dan Gunung Radio.

hingga kini warga masih mengungsi pada malam hari. “Pengungsinya bertambah dari dua malam sebelumnya. Ini karena adanya Gempa susulan pada Sabtu sekitar pukul 08.30 WIT dengan kekuatan 5,0 SR sehingga masyarakat memilih mengamankan diri lantaran menganggap gempa biasanya terjadi malam hari," ungkapnya, Minggu kemarin.

Kecamatan Pulau Batang Dua yang terletak di Laut Maluku terdiri atas dua pulau utama, yakni Mayau (7.840 hektare, BPS) dan Tifure (2.260 hektare). Batang Dua adalah lokasi yang paling dekat dengan titik gempa 7,1 SR. Ibukota kecamatannya Kelurahan Mayau. Enam kelurahan di sana, yakni Mayau, Tifure, Lelewei, Pante Sagu, Bido dan Perum Bersatu, terletak di pesisir.

Pada siang hari, warga memberanikan diri beraktivitas seperti biasa pasca gempa. Mereka harus bekerja mencari nafkah. Ada yang berkebun, ada yang melaut. “Tapi malam hari masyarakat takut dan harus mengungsi tidur di lokasi terbuka. Di SMA 11 ada 82 Kepala Keluarga atau 248 jiwa. Ada 22 lansia, 4 ibu hamil 31 bayi dan balita, juga disabilitas 1 orang,” tutur Alprens sembari bilang di titik pengungsian itu diisi gabungan warga Mayau dan Perum Bersatu.

Sementara di Gunung Radio yang mengungsi sebanyak 69 orang atau 29 KK. 2 diantaranya merupakan lansia, 3 ibu hamil dan 4 bayi dan balita. “Tiga malam masyarakat tidur dengan apa adanya di lokasi terbuka tanpa ada terpal hanya beralaskan tikar seadanya. Bantuan pun tidak ada. Baru hari ini (kemarin, red) kami terima bantuan terpal dan tikar dari Sinode (GPM Bitung, red)," terang Alprens.

Camat Batang Dua Philipus Pattipeylohi membenarkan ada warganya yang mengungsi. Namun dia bilang kondisi mereka baik-baik saja dan hanya mengungsi pada malam hari. Philipus sendiri mengaku tak hafal jumlah para pengungsi. “Totalnya kurang lebih 200-an," katanya.

Total jumlah penduduk Batang Dua sebanyak 3.175 jiwa. Berbeda dengan penuturan Alprens yang ikut mengungsi bersama warga, Philipus bilang jumlah pengungsi makin menurun. “Tapi mereka butuh selimut dan terpal. Malam ini (tadi malam, red) juga ada doa bersama di Mayau pasca gempa,” akunya.

Ironisnya, hingga kini Pemerintah Kota Ternate melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) belum juga bergerak ke Batang Dua. Alhasil, bantuan logistik dari Pemkot belum ada satu pun yang sampai ke wilayah terdampak.

BPBD Ternate baru berencana mengirim bantuan hari ini menggunakan kapal cepat. Kepala BPBD Ternate Hasyim Yusuf mengatakan, bantuan yang akan diantar berupa tikar, makanan siap saji dan selimut.

Menurut Hasyim, anggaran penanganan bencana yang tersedia di kas daerah saat ini Rp 1 miliar dari total alokasi 2019 sebesar Rp 4 miliar. Karena itu, dia memastikan bantuan untuk warga terdampak tetap ada. “Kalau kami perkirakan kerusakan hanya (bernilai) ratusan juta, karena itu bantuannya hanya sebatas stimulan," tutur dia.

Hasyim menegaskan, penanganan bencana memiliki Standar Operasional dan Prosedur (SOP) sendiri. Karena itu warga dimintanya untuk tak panik. “Normalnya bantuan itu bisa tiga atau empat hari baru tersalurkan. Bukan berarti pemerintah tidak kerja. Kami bekerja untuk penanganan awal melalui kelurahan dan kecamatan. Mereka (warga, red) juga tidak mengungsi, tapi mengamankan diri pada malam hari," tukasnya.

Wali Kota Burhan Abdurahman menyatakan hal yang sama. Meski bantuan belum tersalurkan, Pemkot, kata Burhan, tetap memantau kondisi warga melalui lurah, camat, dan BPBD. “In shaa Allah besok (hari ini, red) bantuan pemerintah disalurkan," terangnya.

Burhan mengaku menerima laporan kerusakan bangunan hanya kategori ringan saja. Hanya saja pada hari pertama gempa ada peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang membuat panik warga. “Untuk kerusakan akan dibantu tapi akan didata langsung meskipun sudah ada data dari lurah dan kecamatan," jabarnya.

Wali kota dua periode ini juga mengimbau warga agar tak panik. Serta tak terpengaruh isu dari mulur ke mulur. “Ikuti apa yang menjadi instruksi BMKG. Sebab BMKG sendiri sudah online 1x24 jam, jangan sampai musibahnya tidak berdampak tapi karena panik terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," pungkas Burhan.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi I DPRD Ternate Zainul Rahman mendesak Pemkot segera bergerak dan hadir di Batang Dua. Politikus Partai Demokrat ini menyatakan, persoalan di Batang Dua bukan soal berat atau ringannya kerusakan. “Kita melihat bukan pada persoalan tingkat kerusakan sedang atau ringan lalu menganggap itu hal biasa, jangan seperti itu. Mewakili anggota DPRD Dapil Pulau Ternate kami mendesak Wali Kota agar segera/action. Jangan terlalu lama menunggu informasi, akan tetapi action di lapangan,” ujarnya.(udy/mg-06/kai)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan