Jumat, 06 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Belajar Bahasa Arab agar Tawar-Menawar Lancar

Belajar Bahasa Arab agar Tawar-Menawar Lancar

Diposting pada 19/11/2019, 14:39 WIT
 BERHAWA SEJUK: Pintu masuk kawasan salah satu kompleks vila di Puncak. Tidak semua wisatawan asing datang untuk berbuat mesum HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS
BERHAWA SEJUK: Pintu masuk kawasan salah satu kompleks vila di Puncak. Tidak semua wisatawan asing datang untuk berbuat mesum HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS

Wisata “Plus” di Puncak, Langganan Pria Timur Tengah

Prostitusi spesialis pelancong asal Timur Tengah (Timteng) di kawasan Puncak dibongkar Bareskrim Polri akhir bulan lalu (30/10). Empat mucikari yang menaungi lebih dari 50 perempuan dijerat. Praktik itu sempat tiarap, tapi kini lamat-lamat kumat.

TIBA di Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, bak berada di negeri orang. Nama toko dan restoran ditulis dengan huruf Arab. Wisatawan Timteng bertebaran di mana-mana.

Bule berparas Eropa hampir tidak terlihat. Sabtu malam (16/11) Jawa Pos kembali menelusuri sejumlah hotel dan penginapan yang diduga menjadi lokasi prostitusi. Salah satunya adalah sebuah vila di area mirip kawasan perumahan.

Begitu koran ini memasuki area vila itu, petugas sekuriti menghampiri. ”Nyari vila?” tanya dia. Setelah dijawab, dia lalu menghubungi seseorang melalui handphone-nya.

Tak lama kemudian muncul lelaki bersepeda motor. Tanpa ba-bi-bu, lelaki yang mengaku bernama Roy tersebut mengajak masuk untuk melihat kondisi vila. Hanya 100 meter dari pintu gerbang, terdapat pos sekuriti. ”Kalau mau masuk, ambil kartu pas dulu. Kembalikan waktu keluar,” ujarnya.
Di area depan perumahan tampak semacam pujasera. Ada kedai kopi dengan nama berbahasa Arab dan beberapa toko kelontong. Sejumlah wisatawan Timteng terlihat asyik nongkrong di kedai itu. Ada taman di tiap teras rumah.

Kompleks vila tersebut hampir mirip perumahan. Setiap bangunan memiliki desain yang mirip. Hampir di tiap pojok rumah ada sekelompok orang. ”Itu memang teman-teman seprofesi, calo vila,” terang Roy.

Tak lama kemudian tibalah koran ini di vila yang dituju. Lokasinya dekat jalan utama masuk kompleks vila. ”Ini vilanya Rp 800 ribu per malam. Dua kamar, ada dapur dan TV kabel juga,” ujarnya. Kalau tidak suka, ada pilihan lain yang harganya Rp 1,5 juta per malam.
”Apakah vila ini,” tanya Jawa Pos, ”menyediakan jasa prostitusi?”

Ditembak seperti itu, Roy tampak gugup. ”Wah, saya tidak tahu,” kilahnya. ”Mungkin di luar vila ini ada,” lanjutnya buru-buru. Roy lantas memberikan nomor teleponnya. ”Kalau sudah dapat, bisa sewa vila ke saya. Ini nomornya,” ucap Roy yang saat itu memakai jaket jins.

Setelah meninggalkan Roy, Jawa Pos berkeliling kompleks vila tersebut. Mencoba mengetahui benarkah sudah tidak ada praktik haram itu. Ada segerombolan calo vila yang jaraknya cukup jauh dari lokasi Roy. Saat ditanya soal sewa vila, salah satunya langsung bersemangat.

”Ada, bisa langsung diantar,” ujarnya. Tapi, begitu ditanya apakah bisa menyediakan ”isinya”, kode untuk mencari perempuan, lelaki tersebut berkilah. ”Wah, minggu lalu ada razia dari Mabes Polri. Kalau dulu-dulu mah bisa,” ucapnya. ”Setelah razia biasanya begitu. Saya gak bisa carikan kayak sebelumnya,” lanjut dia.

Sepertinya praktik persundalan itu sedang tiarap. Di dekat kompleks vila tersebut ada sebuah hotel yang ramai menjadi jujukan wisatawan Timteng. Hotel itu sebelumnya sering menjadi ajang esek-esek. Namun, praktik prostitusi di sana ternyata tiarap.

Beberapa kilometer dari area vila, tepatnya di dekat sebuah restoran bercorak Timteng, praktik prostitusi tersebut masih menggeliat. Begitu mobil parkir, seorang pria muda menghampiri. Dia menawarkan vila beserta ”plus-plusnya”. ”Bisa saya carikan, mau yang bagaimana?” katanya berpromosi.

Vila yang ditawarkan cukup spesial. Di sekitarnya ada kolam ikan dan pepohonan lebat. Sayup-sayup di area itu terdengar orang berkaraoke. ”Iya, itu ada karaokenya,” ujar dia.
Calo vila tersebut meminta Rp 1 juta untuk satu malam. Ada juga yang Rp 800 ribu kalau mau. ”Kalau yang penting ada awewe (perempuan, Red), bisa pakai vila yang ini,” tuturnya. Setelah vila dibayar, si calo meminta agar menunggu. Saat itu sudah pukul 22.00. Dua jam berlalu, calo vila tak kunjung muncul. Saat coba dicari, ternyata calo vila tersebut masih berada di area restoran. ”Tunggu Kang, agak lama. Ini kabarnya mau ada razia. Pada enggak mau keluar,” terangnya.

Pukul 00.00 barulah calo vila tersebut muncul. Di belakangnya ada pengendara motor yang memboncengkan dua perempuan. Lelaki pengendara motor memakai jaket hijau, sedangkan dua perempuan yang diboncengkan berdandan menor. Dua perempuan itu lantas masuk ke vila. Lelaki berjaket hijau masih menunggu.

Sebut saja dua perempuan tersebut Melati dan Lala. ”Short time atau long time? Rp 1 juta untuk short. Long time-nya Rp 3 juta,” terang Melati. Dia lantas menyebutkan aturannya. Short time tidak lebih dari satu jam. Kalau long time sekitar empat jam.

Deal untuk short time. Melati lantas meminta uangnya. Sejenak kemudian, dia keluar menemui pria berjaket hijau. Tampak Melati memberikan sebagian uangnya kepada pria tersebut.

Setelah itu Melati kembali masuk ke vila. Saat itulah dia lebih terbuka. Apalagi saat mengetahui hanya diminta menemani ngobrol. Dia mengaku berasal dari Bandung. ”Usia 20 tahun,” katanya. Dari parasnya, memang sepertinya usianya tidak jauh dari yang disebutkan.

Melati sebenarnya spesialis melayani wisatawan Timteng. Tapi tak mengapa kalau memang ada pesanan lokal. ”Tiap hari yang pesan orang Timur Tengah,” ucapnya. Tapi, karena sering ada kabar razia, seminggu ini dia sengaja mengurangi menerima order dari lelaki Timteng.

Melati sering melayani tamunya di vila yang digerebek Bareskrim akhir Oktober lalu. Dia punya banyak pengalaman saat melayani orang Timteng. ”Ada yang baik. Ada juga yang tidak baik,” ungkapnya. Pernah suatu kali dia melayani lelaki Timteng yang mabuk berat. ”Pemarah, bahkan membanting handphone-ku,” ujarnya sembari menunjukkan HP-nya.

Melati memasang tarif yang lebih mahal untuk tamu dari Timteng. Bisa sampai Rp 2 juta per malam. Untuk menyenangkan tamunya, Melati belajar bahasa Arab. Bukan dari lembaga kursus, melainkan teman-teman seprofesi. Tentu saja fokusnya pada kosakata seputar tawar-menawar.

Saat ditanya pekerjaan sebelumnya dan apakah ingin keluar dari dunia hitam itu, Melati terdiam. Dia mengaku sebelumnya bekerja di sebuah industri rumah tangga sepatu di Bandung. ”Saat itu masih punya suami,” ujarnya. Waktu itu gajinya hanya Rp 1 juta. Tapi, karena suaminya juga bekerja, semua kebutuhan tercukupi.

Kondisinya terpuruk setelah bercerai. Perempuan yang hanya berijazah SMP tersebut tidak mengungkap alasan perceraiannya. Gajinya yang hanya Rp 1 juta tidak lagi mencukupi. ”Walau belum punya anak, ternyata gak cukup,” keluhnya. Seandainya gaji yang diterima sesuai UMK, Melati yakin cukup untuk biaya hidup. ”Tapi, ya sudahlah” katanya.

Melati akhirnya berusaha mencari pekerjaan lain. Seorang temannya menawari bekerja di Cisarua. Sebagai penari untuk tamu. ”Janjinya hanya menari, tidak ada melayani begitu,” akunya.
Tapi, setelah sampai di Cisarua, semua berbeda. Melati dipaksa melayani pria-pria asal Timteng. Dia ingat betul kehidupannya yang terpuruk pada awal tahun lalu. Teman yang dia percayai menjerumuskannya ke lembah yang berlumpur dan bernoda. ”Baru dua bulan lalu saya bisa lepas dari dia. Setelah bayar Rp 3 juta,” ungkapnya.

Melati akhirnya bekerja freelance. Tetap spesialis melayani wisatawan Timteng. Menunggu jemputan dari calo vila yang berjaket hijau. ”Saya dapatnya lebih banyak,” ujarnya.

Lain lagi pengakuan Lala, 22. Dia enggan menerima tamu wisatawan Timteng. ”Sering ada yang dipukuli, enggak mau saya. Saya diam aja di kos kalau ada tamu dari Timur Tengah,” katanya. Dia memilih menerima tamu lokal atau wisatawan dari Tiongkok.

Fenomena praktik prostitusi di sana memang cukup lama meresahkan masyarakat. Namun, sebagian orang juga menggantungkan hidup pada kedatangan wisatawan asal Timteng. Koordinator Ikatan Puncak dan Sekitarnya Imam Sarkowi mengakui, memang praktik semacam itu ada. Hal tersebut merupakan sisi negatif dari keberadaan wisatawan Timteng. Tapi, bukan tidak ada sisi positifnya. ”Kedatangan wisatawan itu jelas membuat roda perekonomian berputar,” tuturnya.
Restoran, hotel, hingga tempat penukaran uang menjamur. Imam menegaskan, tidak semua wisatawan Timteng datang untuk menikmati wisata seksual. Banyak yang memang berwisata keluarga. ”Karena pegunungannya, banyak pohon, dingin. Itu tak ditemui di negerinya. Apalagi, harganya lebih murah daripada berwisata di negeri lain,” ujarnya.

***

SOLUSI kasus perdagangan orang spesialis wisatawan Timur Tengah (Timteng) tak cukup dengan pendekatan hukum. Kebijakan pemerintah daerah dan pusat dinilai belum mendukung upaya pengentasan praktik haram tersebut.

Aktivis Bogor Selatan sekaligus Koordinator Ikatan Komunitas Puncak dan Sekitarnya Imam Sarkowi menuturkan, pemerintah selama ini membuat kebijakan yang memperparah praktik perdagangan orang di Puncak. ”Misalnya, dengan penggusuran (lapak/stan, Red) di sepanjang pinggir jalan Gadog hingga Cineberem,” ujarnya. Penggusuran itu tidak disertai relokasi. Para pedagang pun kebingungan. Mereka tidak tahu harus berjualan di mana. Akibatnya, banyak yang akhirnya beralih menjadi calo vila. ”Kalau jadi calo vila, tentu harus mencarikan perempuan. Itu tuntutannya kalau bekerja begitu,” tuturnya.

Bahkan, ada beberapa ibu pedagang yang sebenarnya mantan penjaja seksual. Mereka telah tobat dan beralih menjadi pedagang. Ironisnya, mereka kini harus merasakan pahitnya penggusuran. ”Kalau mereka kembali melakukan praktik haram bagaimana,” katanya.

Menurut dia, pemerintah harus berperan untuk membantu para PSK agar terlepas dari dunia hitam. Saat ini program yang berjalan terkesan tumpang-tindih. ”Soal penggusuran itu juga katanya pemerintah pusat, tapi disebut dari pemerintah daerah juga,” terangnya.

Sebenarnya, keberadaan pedagang di pinggir jalan itu memberikan keuntungan bagi semuanya. Wisatawan menjadi tidak takut dengan kondisi jalur Puncak yang gelap gulita. ”Ada pedagang yang justru membuat lebih aman,” paparnya. Menurut dia, persoalan di Puncak memang lintas bidang. Kemacetan hanya salah satunya. ”Pelebaran jalan apakah akan mengurai kemacetan, tidak juga,” terang dia kepada Jawa Pos kemarin (17/11).

Menurut dia, persoalan utama di Puncak adalah perekonomian. Selama ini masyarakat tidak pernah mendapat pembinaan untuk meningkatkan taraf hidupnya. ”Akhirnya masyarakat mencari jalan sendiri,” ungkapnya. Dia berharap pengentasan praktik jual beli jasa seksual itu tidak dilepas dari persoalan utamanya. Yakni, masyarakat butuh perekonomian yang lebih baik. ”Jangan sekadar pelatihan,” tuturnya.

Pemerintah diharapkan mampu membuat kebijakan yang mendukung masyarakat untuk memperbaiki ekonominya. Bila hal itu terjadi, masyarakat tentu akan mendukung upaya pengentasan praktik haram tersebut. ”Ini yang utama,” tegasnya.(jpc/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan