Kamis, 12 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / OPINI / PELAJARAN BERHARGA

PELAJARAN BERHARGA

Diposting pada 19/11/2019, 14:12 WIT

ARDIANSYAH alias Ar, Komisaris Utama PT Karapoto Financial Technology, bisa dibilang orang paling dicari di Maluku Utara tahun ini. Delapan bulan lamanya polisi menetapkan ia sebagai buronan sebelum ditangkap Sabtu (16/11) kemarin. Selama Ardiansyah ‘bertualang’ di luar sana, ribuan nasabah bertanya-tanya nasib uang mereka.

Penangkapan Ardiansyah tampaknya bakal jadi bagian dari babak akhir kasus investasi bodong Karapoto. Kami memprediksi, uang nasabah tak bakal lagi kembali. Ujung-ujungnya, Ardiansyah dan kroni-kroninya, termasuk didalamnya istri dan mertuanya, dijerumuskan ke penjara.

Kasus Karapoto yang bombastis seharusnya jadi pelajaran berharga untuk warga Maluku Utara. Investasi yang menjanjikan bunga jor-joran, hingga 50 persen, adalah di luar nalar ekonomi mana pun. Jika benar ada investasi semacam itu yang kredibel, tentu para pengusaha dengan tabungan hingga tujuh turunan bakal ikut serta didalamnya.

Terlepas dari logika ilmu ekonomi yang tak masuk akal di balik investasi mencurigakan, dalam Islam investasi berbasis bunga hukumnya adalah haram. Dimana dana investasi belum digunakan untuk bisnis apapun (atau penggunaannya tidak jelas untuk bisnis apa) tapi nasabah sudah dijanjikan keuntungan tertentu. Ini menyalahi kodrat bisnis, dimana risiko dalam bisnis adalah untung, rugi atau impas.

Mari gunakan saja logika sederhana. Hiduplah dari hasil keringat sendiri. Seberapa deras Anda berkeringat, sebesar itulah Anda patut menikmatinya. Bukan dengan ongkang-ongkang kaki dan berharap mendapat keuntungan entah dari mana.

Ada satu gambaran yang berasal dari kisah nyata nasabah Karapoto. Ujang –bukan nama sebenarnya- punya sebuah sepeda motor. Dengan kendaraan itu ia narik ojek tiap hari, bekerja semampu tenaganya, mencari nafkah untuk keluarga. Hasilnya tak berlebihan, tapi cukup untuk kehidupan sekeluarga. Bisa juga untuk ditabung sedikit-sedikit jika mereka berhemat.
Tergoda Karapoto, Ujang menjual motornya. Uangnya ditanam di perusahaan tersebut. Karapoto merugi, uang Ujang tak kembali. Ia terpaksa kredit sepeda motor baru untuk narik ojek lagi. Kali ini ngojeknya harus ngotot. Selain untuk makan keluarga, juga bayar cicilan motor tiap bulan. Untuk nabung? Masih mimpi. Sungguh, ini pelajaran berharga.(*)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan