Minggu, 15 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / MAJANG POLIS / 1.592 Orang Terpapar HIV/AIDS

1.592 Orang Terpapar HIV/AIDS

Diposting pada 02/12/2019, 14:50 WIT
Ilustrasi
Ilustrasi

TERNATE – Sejak pertama kali terdeteksi pada 2007, temuan kasus Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) tak pernah berkurang. Kementerian Kesehatan melaporkan, hingga triwulan II 2019 jumlah pengidap HIV/AIDS di Provinsi Maluku Utara mencapai 1.592 orang. Angka ini meningkat dibanding pada 2018 yang ‘hanya’ 1.416 orang.

LSM Rorano mencatat, Kabupaten Halmahera Utara masih menjadi daerah tertinggi yang mengoleksi kasus HIV/AIDS, yakni sebanyak 486 penderita. Disusul Kota Ternate 467 kasus, Halmahera Barat 112 kasus, Halmahera Timur 61 kasus, Halmahera Selatan 50 kasus, Tidore Kepulauan 47 kasus, dan Kepulauan Sula 36 kasus. Lalu Pulau Morotai 41 kasus, Halmahera Tengah 17 kasus dan Pulau Taliabu 2 kasus.

Direktur LSM Rorano Asgar Saleh bilang, ketika pertama kali membuka layanan pada 2007, Rorano menemukan 3 kasus HIV/AIDS. Saat ini ketiga pengidap tersebut sudah meninggal.

Pada 2018, prevalensi kasus di Ternate naik menjadi 426. Tahun 2019 ada tambahan 46 kasus baru.
Dari jumlah penderita HIV/AIDS di Ternate, ibu rumah tangga (IRT) masih jadi kelompok yang paling banyak terinveksi yakni sebanyak 72 orang. Diikuti wiraswasta 60 orang dan pegawai negeri sipil (PNS) sebanyak 56 orang. "Ini tiga besarnya di Ternate," terangnya.

Tahun ini dari tambahan 46 kasus, lanjut Asgar, prevalensi pengidap terbanyak ada pada usia produktif 20-40 tahun yakni sebanyak 39 orang. "Jika melihat rekam jejak virus yang butuh waktu di atas 5 tahun baru di ketahui ada dalam tubuh, maka kuat dugaan mereka yang terinfeksi ada pada periode usia yang lebih muda atau belasan tahun. Ini jelas mengkhawatirkan," ujarnya.

Belum lagi, sambungnya, tingginya IRT yang terinfeksi dan kemungkinan putus obat yang persentasenya juga besar. Karena itu Asgar menyerukan kerja bersama dalam penanganan HIV/AIDS. "Urusan HIV adalah masalah sosial kemasyarakatan sehingga semua elemen harus terlibat. Caranya dengan mulai memeriksakan status HIV secara mandiri dan kontinyu. Karena jika melihat sebaran kasus per kelompok sosial yang merata di semua kalangan, maka potensi tertular di Ternate sangat tinggi," jabarnya.

Asgar menyampaikan, jika seseorang ditemukan pada tahap AIDS barulah butuh tindakan medis dan dukungan pengobatan yang umumnya jadi kewenangan dokter atau tenaga medis.

Rehabilitasi
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate dr. Fathiyah Suma yang diwawancarai terpisah menyatakan, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4, yakni penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit. Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan menjadi kondisi serius yang disebut AIDS.

AIDS, sambung Fathiyah, adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Pada tahap ini kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya. Sampai saat ini belum ada obat untuk menangani HIV dan AIDS, akan tetapi ada obat untuk memperlambat perkembangan penyakit tersebut dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita.

HIV dan AIDS masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian yang sangat serius. Ini terlihat dari jumlah kasus AIDS yang dilaporkan setiap tahunnya meningkat secara signifikan.

Penularan HIV/AIDS dapat terjadi pada ibu hamil ke bayinya dan pada masyarakat dengan perilaku berisiko tinggi. Hal ini dikarenakan penularan dan penyebaran HIV/AIDS berhubungan dengan perilaku berisiko. Alhasil, pengendalian masalah ini harus memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku tersebut. Pekerja seks, baik langsung maupun tak langsung, LSL (lelaki seks lelaki), penjaja seks dan waria merupakan kelompok risiko tinggi penularan HIV. "Program penanggulangan infeksi menular seksual dan HIV/AIDS di Provinsi Maluku Utara telah berjalan kurang lebih selama 12 tahun. Sejak ditemukannya kasus HIV pertama tahun 2007 dan telah berkembang pesat meliputi pencegahan hingga pengobatan, perawatan dan dukungan (PDP)," terangnya.
Perkembangan program ini, kata dia, menunjukkan pula pemahaman yang lebih baik dari para penyelenggara dan pelaksana program terhadap persoalan HIV/AIDS dan IMS. Meski demikian target cakupan SPM HIV/AIDS belum bisa tercapai, lantaran masih terdapat kasus-kasus yang belum terungkap sementara penularan virus HIV terus meningkat. "Kurang disadarinya risiko penularan HIV/AIDS dan IMS oleh kelompok berisiko tinggi serta rendahnya kesadaran untuk mengetahui status HIV-nya menjadi salah satu penyebab, ditambah masih tingginya stigma dan diskriminasi oleh masyarakat terkait dengan status HIV sehingga kelompok berisiko tinggi enggan untuk melakukan pemeriksaan HIV," tambah Fathiyah.

Untuk meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan dan penemuan kasus serta meningkatkan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS pada kelompok masyarakat risiko tinggi sesuai indikator program dan standar pelayanan minimal bidang kesehatan seperti yang termaktub dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2019, Dinkes Kota Ternate telah melaksanakan kegiatan-kegiatan antara lain mobile VCT (Konseling dan Tes HIV) di tempat-tempat yang merupakan hotspot seperti salon/spa, pantai pijat, penginapan/hotel, café, dan tempat-tempat nongkrong. “Selain itu melakukan penjangkauan dan pendampingan serta melakukan kunjungan rumah pada ODHA, melakukan penguatan sistem pencatatan dan pelaporan melalui aplikasi Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) pada petugas layanan, melakukan monitoring dan evaluasi pada penyelenggara layanan secara berkala," tukas Fathiyah.

Sementara Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Orang Dengan HIV (BRSODH) Wasana Bahagia Ternate, Udan Suheli menjabarkan program yang telah dijalankan institusinya. “Kami memberikan penguatan untuk meningkatkan kepercayaan diri, diberikan pengetahuan tentang keteraturan dalam mengkonsumsi obat secara teratur dan diberikan pemeriksaan juga serta diberikan juga keterampilan sehingga mereka mampu percaya diri dan setelah itu mereka bisa membuka usaha sendiri,” jabarnya.

Sejauh ini, kendala yang dihadapi BRSODH adalah persoalan transportasi dan sosialisasi informasi. Pasalnya, wilayah kerja BRSODH Wasana Bahagia mencakup 12 provinsi, yakni Malut, Maluku, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo dan Sulawesi Barat. “Terutama untuk provinsi-provinsi terjauh ya. Tapi 8 dari 12 provinsi sudah kita jangkau dengan pelayanan sebagian besarnya,” kata Udan.

Sejak beroperasi pada 2017, BRSODH Ternate telah merehabilitasi sosial 721 orang. “Sedangkan untuk data dari Dinas Kesehatan dan secara nasional untuk Provinsi Maluku Utara yang tercatat ada 894 orang penderita HIV dan untuk AIDS itu sebanyak 698 orang. Jadi total keseluruhan itu 1.592 penderita,” pungkas Udan.(udy/mg-05/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan