Kamis, 12 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / OPINI / Mewaspadai Gejolak Perekonomian Akhir Tahun

Mewaspadai Gejolak Perekonomian Akhir Tahun

Diposting pada 03/12/2019, 13:45 WIT

Oleh : Bimo Aji Dimas Danindro, SST
Statistisi Ahli Pertama di BPS Kota Tidore Kepulauan


    Dinamika perekonomian di akhir tahun memang selalu menarik untuk dicermati. Peningkatan  permintaan pada periode libur Natal dan tahun baru lazimnya akan mendorong tingkat inflasi lebih tinggi dari biasanya. Selain peningkatan permintaan tersebut ditambah beberapa proyek pemerintah yang memasuki masa penyelesaian juga biasanya akan memicu akselerasi pertumbuhan ekonomi di akhir periode tahun berjalan. Fenomena ini juga harus mendapat perhatian Pemerintah Daerah Maluku Utara mengingat hal yang sama juga kerap terjadi di wilayah Malut.

    Ledakan peningkatan permintaan barang dan jasa pada akhir tahun akan mendorong terjadinya inflasi yang lebih masif dibandingkan periode biasa. Bank Indonesia (BI) dalam Laporan Perekonomian Maluku Utara bulan Agustus memprediksi tekanan inflasi triwulan terakhir 2019 akan mengalami sedikit kenaikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal tersebut diakibatkan peningkatan permintaan masyarakat menjelang libur sekolah, Natal, dan libur akhir tahun yang jatuh pada penghujung tahun 2019. BI memprediksi potensi kenaikan inflasi diperkirakan terjadi pada kelompok bahan makanan dan makanan jadi yang disebabkan tidak menentunya perubahan iklim dan gelombang tinggi di Maluku Utara. Selain itu, komoditas cakalang asap, tomat sayur, dan bawang putih diperkirakan menjadi kontribusi utama terhadap inflasi di Maluku Utara karena tingginya permintaan masyarakat terhadap komoditas tersebut. Secara umum, BI memprediksi inflasi pada akhir tahun 2019 diproyeksikan berada pada kisaran 2,7% – 3,1% (yoy).

    Dilihat dari sisi yang berbeda, peningkatan permintaan juga diprediksi akan mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang sempat mengalami perlambatan pada triwulan III 2019. Secara umum perekonomian Maluku Utara pada triwulan III memang tidak tumbuh sekencang periode-periode sebelumnya. Menurut Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, ekonomi di di Malut triwulan III lalu tumbuh 4,12 persen secara year-on-year (yoy). Nilai ini melambat dibandingkan 2 triwulan sebelumnya yang selalu tumbuh di atas 7 persen secara yoy. Sementara dilihat dari perbandingan antartriwulan, nilai perekonomian Maluku Utara pada triwulan III hanya tumbuh 0,92 persen dibanding triwulan II (q-to-q). Lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II yaitu 1,84 persen secara q-to-q.

    Pertumbuhan pada triwulan III dari sisi permintaan banyak didorong Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang sebagian besar dilakukan oleh industri pengolahan logam dasar (Smelter) di beberapa wilayah Halmahera. Sedangkan karena sebagian besar barang modal yang berasal dari luar negeri, hal tersebut mengakibatkan peningkatan Impor Luar Negeri yang bersifat terhadap Total Permintaan Agregat sehingga ikut menekan pertumbuhan Ekonomi.

    Dilihat dari sisi penawaran, performa Lapangan Usaha Industri Pengolahan yang pada periode sebelumnya digenjot oleh industri logam dasar mengalami kontraksi. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab penurunan pertumbuhan ekonomi di Malut secara umum. Performa perekonomian secara umum masih tertolong oleh pertumbuhan sektor perdagangan serta jasa-jasa seperti penyediaan akomodasi makan dan minum, keuangan dan asuransi serta jasa-jasa lainnya yang tumbuh sekitar 8-9 persen.

    Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan terakhir 2019 ini kembali mengalami akselerasi akibat dorongan kuat dari konsumsi Rumah Tangga yang  pada triwulan tersebut akibat hari libur sekolah, Natal, serta tahun baru. Selain itu, ekspor luar negeri juga diperkirakan mengalami akselerasi seiring kembali menggeliatnya pada LU Pertambangan dan Industri pengolahan di Maluku Utara. Meskipun akselerasi pertumbuhan ekonomi akan sedikit tertahan oleh melambatnya kinerja sektor PMTB di akhir tahun 2019 akibat telah masuknya aliran dana investasi untuk pengembangan kawasan industri nikel di triwulan II dan III 2019. Hal tersebut ditambah lagi dengan kondisi perekonomian dunia yang terus mengalami ketidakpastian global akibat pergerakan politik dan ekonomi AS-Tiongkok. Hal ini harus juga dicermati meningkat Tiongkok merupakan tujuan utama ekspor nikel dan feronikel Malut.  

    Prediksi perbaikan laju perekonomian Malut oleh BI sejalan dengan rilis Prediksi Indeks Tendensi Konsumen (ITK) yang dilakukan BPS Provinsi Maluku Utara yang menunjukan kembali meningkatnya optimisme masyarakat menjelang berakhirnya tahun 2019. ITK diprediksi membaik pada angka 103,84 pada triwulan IV setelah sempat menurun menjadi 98,08 pada triwulan III. Perbaikan optimisme masyarakat tersebut mengisyaratkan perbaikan iklim perekonomian secara umum menjelang tutup tahun.

    Pada akhirnya, potensi inflasi di penghujung tahun menuntut kebijakan yang proper dari berbagai stake holder. Potensi ledakan permintaan harus diimbangi dengan penyediaan barang dan jasa  yang memadai utamanya hasil produksi lokal sehingga ledakan tersebut dapat meningkatkan laju perekonomian dengan tetap menjaga inflasi yang terkendali.(*)
    

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan