Rabu, 29 Januari 2020

 Headline
MALUT POST / MAJANG POLIS / ABK Ternate Tewas di Kapal Ikan Asing

ABK Ternate Tewas di Kapal Ikan Asing

Diposting pada 04/12/2019, 14:17 WIT
KEHILANGAN: Salma M. Arif dan Ramli Naser menunjukkan foto putra sulung mereka dalam konferensi pers, Selasa (3/12). Arifqih dikabarkan meninggal di atas kapal pencari ikan berbendera China PUTRI CITRA ABIDIN/MALUT POST
KEHILANGAN: Salma M. Arif dan Ramli Naser menunjukkan foto putra sulung mereka dalam konferensi pers, Selasa (3/12). Arifqih dikabarkan meninggal di atas kapal pencari ikan berbendera China PUTRI CITRA ABIDIN/MALUT POST

TERNATE – Wajah Salma M. Arif dan Ramli Naser tampak lesu. Pasangan suami istri asal Kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate ini baru saja kehilangan putra sulung mereka, Arifqih Maulana Ramli (19). Arifqih yang bekerja di kapal pencari ikan berbendera China dilaporkan meninggal di atas kapal di perairan Afrika.

Saat menggelar konferensi pers di rumah kerabat mereka di Kelurahan Sangaji, Kota Ternate Utara, Selasa (3/12), kesedihan Salma dan Ramli tak dapat disembunyikan. Sesekali keduanya menatap foto semasa hidup Arifqih yang sengaja dibawa dari rumah.

Salma menuturkan, Arifqih direkrut agen pengiriman tenaga kerja ke luar negeri PT Lakemba Perkasa Bahari lewat Rismon Latif, salah satu warga sekampung mereka pada Agustus 2018. Arifqih hendak dipekerjakan di kapal ikan berbendera China, Zhang Yuan Yu 22. “Kapal itu berpusat di Mauritius, Afrika Timur,” tutur Salma.

Sepanjang November 2018 hingga Maret 2019, Arifqih mengikuti training di Tegal, Jawa Tengah, di kantor cabang PT Lakemba. Pada 26 Maret 2019 pemuda tamatan Madrasah Aliyah itu bersama 9 temannya diberangkatkan ke Afrika melalui rute Jakarta-Kualalumpur-Dubai-Mauritius. "Tanggal 28 Maret mereka tiba di Mauritius. Besoknya Arifqih menghubungi ibunya,” kenang Ramli.

Saat menghubungi ibunya melalui sambungan telepon, Arifqih bilang mereka akan mulai berlayar pada 6 April 2019. Menurutnya dalam pelayaran itu tak ada sinyal telepon. "Bulan Agustus dia menelepon lagi mengabarkan bahwa sudah kembali berlayar. Dia sempat videocall dengan kami. Selama sepekan lebih (kami) saling telepon tanya kabar," ungkap Salma.

Selama berkomunikasi, Salma sempat menanyakan kondisi kesehatan sulung dari tiga bersaudara itu. Arifqih mengaku tidak sakit alias dalam kondisi sehat-sehat saja. “Dia bercerita soal orang-orang di kapal yang ramah. Saya tanya lagi soal (adakah) kekerasan (di kapal), dia bilang tidak. Alhamdulillah kapal yang diikutinya orangnya ramah-ramah semua,” cerita Salma.

Kapal penangkap tuna milik Dalian Changhai Ocean Fisheries Co., Ltd itu kembali berlayar mencari ikan pada 2 September lalu. Menurut Arifqih, mereka berlayar ke Somalia. Sayang, itu terakhir kalinya keluarga berkomunikasi dengan pemuda kelahiran 22 Maret 2000 tersebut.

Senin (2/12) kemarin sekira pukul 14.00 Waktu Indonesia Timur, perwakilan PT Lakemba Perkasa Bahari menghubungi Salma. Penelepon yang mengaku bernama Yus mengabarkan bahwa Arifqih telah meninggal dunia. Menurut dia, ketika kapal dalam perjalanan menuju dermaga Mauritius, Arifqih tiba-tiba sesak napas. Ia diberi pertolongan seadanya namun nyawanya tak tertolong. "Saya sempat tanya pastikan apa betul sudah terkonfirmasi anak kami meninggal? Jawabnya sudah," kata Salma.
Keluarga pun menuntut jenazah Arifqih dipulangkan ke kampung halamannya. Disertai penjelasan tentang penyebab kematiannya. Perusahaan juga diminta tak lepas tangan terhadap masalah tersebut. "Mereka bilang sementara diproses pemulangannya," ucap Salma.

Masih di Kapal// sub
Malut Post mencoba menghubungi kantor PT Lakemba yang berpusat di Bekasi. Warsito, Staf yang memberikan keterangan lewat sambungan telepon mengungkapkan pihak perusahaan mendapat kabar kematian Arifqih dari pemilik kapal Senin (2/12) kemarin. “Korban meninggal pada Minggu (1/12) dini hari waktu setempat,” ungkapnya.

Saat ini, kapal Zhang Yuan Yu 22 tengah berada di Samudera Hindia, tepatnya di Seychelles. Kapal tersebut dijadwalkan sandar di dermaga Mauritius hari ini. “Korban dikabarkan meninggal lantaran sakit. Waktu kerja itu korban mengalami sesak napas,  keluar keringat dingin, serta  badan lemas. Setelah itu dibawa ABK asal Indonesia lainnya ke kamar untuk istirahat,” jelas Warsito.

Warsito mengakui perlengkapan medis di kapal tersebut hanya alakadarnya saja. Sebab kapal tersebut adalah kapal penangkap ikan. “Soal tim medis, memang tidak ada, soalnya kita kan kapal ikan. Palingan dari kapten, atau obat-obatan ringan berupa minyak gosok,” akunya.

Saat ini jenazah Arifqih diketahui masih berada di atas kapal. Warsito bilang, begitu kapal sandar di dermaga jenazah akan diperiksa otoritas setempat. Selanjutnya dibawa ke rumah sakit untuk autopsi. “Kami juga butuh dokumen-dokumen itu untuk mengurusi klaim asuransi nanti,” kata dia.
Proses pemulangan jenazah Arifqih, sambung Warsito, bisa memakan waktu sekira seminggu. Bisa lebih, namun bisa juga kurang dari itu. Dia menjamin perusahaan tidak akan lepas tangan dan tetap mengawal kepulangan jenazah hingga ke kampung halaman. “Dengan keluarga juga kami terus //update// perkembangan prosesnya,” ucapnya.

Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Maluku Utara juga sudah mendapat kabar kematian salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai ABK di kapal asing. Kepala Bidang Pengawasan dan Hubungan Industrial Disnakertrans Malut, Abujan Abdul Latif yang dikonfirmasi menyatakan, pihaknya akan memfasilitasi kepulangan jenazah Arifqih. “Kalaupun (jenazah) tidak sempat lagi dipulangkan, maka keluarga almarhum akan difasilitasi untuk menghadiri pemakaman anaknya. Yang jelas kita tetap fasilitasi,” kata Abujan kemarin.

Abujan juga meminta pihak keluarga membuat permintaan resmi terkait pemulangan jenazah. Permintaan itu akan menjadi dasar bagi Disnakertrans untuk berkoordinasi dengan Polda Malut. “Untuk bantu menghubungi Polda Jawa Tengah supaya kita bisa lacak agen dari kapal itu. Kita tetap perjuangkan agar jenazah bisa dipulangkan ke Ternate,” pungkasnya.

Arifqih bukan ABK asal Ternate pertama yang meninggal di atas kapal asing. Juni lalu, Saldi Zainudin yang bekerja di kapal berbendera China, Rong Yu An Yu, juga menghembuskan napas terakhir. Penyebab kematiannya dilaporkan adalah akibat sakit perut berkepanjangan.

Sama seperti Arifqih, Saldi juga berasal dari Rua. Setidaknya 30 warga Rua saat ini tengah bekerja di kapal-kapal penangkap ikan asing. Sebagian dari mereka merupakan lulusan SMK khusus bidang kelautan dan perikanan, sebagian lagi lulusan sekolah umum namun diikutkan training singkat oleh perusahaan penyalur tenaga kerja.(mg-05/cr-01/kai)

 

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan