Rabu, 29 Januari 2020

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Agar Semerbak Cengkeh tak Berakhir di Daun Kering

Agar Semerbak Cengkeh tak Berakhir di Daun Kering

Diposting pada 04/12/2019, 14:13 WIT
BERJIWA WIRAUSAHA: Marji Fatgehipon mengaduk daun cengkeh kering dalam tungku pembakaran untuk disuling menjadi minyak. Foto lain, Marji menunjukkan minyak hasil penyulingan daun cengkeh IKRAM SALIM/MALUT POST
BERJIWA WIRAUSAHA: Marji Fatgehipon mengaduk daun cengkeh kering dalam tungku pembakaran untuk disuling menjadi minyak. Foto lain, Marji menunjukkan minyak hasil penyulingan daun cengkeh IKRAM SALIM/MALUT POST

Marji Fatgehipon, Berawal dari Wartawan Sisipkan Waktu untuk Wirausaha

Menjadi wartawan merupakan salah satu pilihan hidup yang dijalani Marji Fatgehipon setelah wisuda dan kembali ke Kepulauan Sula. Di tengah tugasnya mencari berita dan diburu //deadline//, seorang wartawan kadang tak punya waktu lowong. Marji sebaliknya, memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk membangun usaha penyulingan minyak cengkeh.

 

 
IKRAM SALIM, Sanana

GUMPALAN asap tampak mengepul di ujung Desa Waibau, Kecamatan Sanana. Ketika mendekat, bau asap itu menyengat harum. Rupanya sumbernya berasal dari daun cengkeh dan ranting yang dibakar untuk usaha penyulingan minyak cengkeh.

Marji Fatgehipon, si pemilik usaha penyulingan minyak cengkeh, menyambut Malut Post dengan gembira. Setelah jabat tangan, tangannya tetap bergerak mengaduk daun cengkeh ke dalam tungku pembakaran.

Lelaki 31 tahun itu lantas mempersilahkan kami masuk ke dalam bangunan berdinding papan yang berhimpitan dengan alat penyulingan daun cengkeh raksasa. Satu persatu Marji menjelaskan, proses produksi penyulingan daun cengkeh sebagai usaha yang tengah ia rintis itu. Menurut Mar- panggilan Marji, komoditas cengkeh termasuk tanaman terbesar pertama di Pulau Sulabesi, terlebih di Desanya Waibau. Hal itulah yang menjadi salah satu alasannya untuk menggeluti usaha tersebut.
Terlebih sejarah Maluku Utara telah mencatatkan namanya sebagai pusat rempah-rempah yang mendunia. Dan Waibau, merupakan desa pertama di Sula yang dikenal sebagai penghasil cengkeh terbanyak di pulau seluas 532,3 kilometer persegi itu. ”Makanya saya terinspirasi kenapa tidak ada orang yang mencoba manfaatkan daun cengkeh,” kata Marji membuka percakapan.

Marji bilang, ketertarikannya mengembangkan usaha penyulingan daun cengkeh bermula saat dirinya ke Kabupaten Pulau Taliabu. Setelah gagal mencalonkan diri sebagai anggota DPRD, ia mulai berpikir untuk merintis usaha.

Taliabu menjadi salah satu daerah tujuannya untuk mencari peluang. Sebelum memilih usaha penyulingan daun cengkeh, Marji awalnya berkeinginan membuka usaha budidaya ikan. ”Awalnya saya mau usaha ikan dasar ambil di Taliabu dan jual di Sanana, karena banyak ikan dasar banyak dan murah di Taliabu,” kata lelaki kelahiran Sanana 6 November 1988 itu.

Desa Karamat, Kabupaten Taliabu, menjadi tujuannya untuk melihat usaha ikan dasar. Di tengah perjalanan suami Hartati Panigfat itu melihat salah satu bangunan milik Pemda. Itulah bangunan penyulingan minyak yang dikelola seseorang bernama Umar. Insting pengusaha membuat Marji penasaran. ”Saya berhenti dan tanya ke security jalan menuju Karamat sekaligus tanya bangunan itu,” ungkapnya.

Percakapan sekilasnya dengan security mendorong Marji untuk menggali lebih banyak informasi tentang usaha penyulingan cengkeh ketimbang ikan dasar. Apalagi cengkeh milik orangtuanya pun cukup banyak. ”Saya langsung ke rumah Pak Umar sebagaimana arahan security,” jelasnya.
Bertemu dan berdiskusi dengan Umar membuat Marji makin yakin dengan pilihan usaha penyulingan minyak cengkeh. Mereka bicara banyak soal pembuatan dan peluang produk di pasar. Marji bilang, usaha penyulingan daun cengkeh belum banyak yang tahu, terutama di Sanana. Padahal, harga jualnya di pasaran cukup menjanjikan. Hanya saja, lanjut Marji, butuh modal besar untuk memulainya. Kini usahanya dirintis bersama kenalannya saat di Taliabu. ”Harga cengkeh itu 1 kilogram mencapai Rp 110 ribu, tapi pasarannya di luar seperti Manado dan Makassar, tapi modal saya harus Rp 50 juta,” ujarnya.

Bagi Marji, modal sebesar itu membuatnya berpikir dua kali tentang risiko. Namun bermodal berani setengah nekat dia akhirnya tetap menggelutinya hingga bisa dipasarkan. Untuk membantu modalnya, Marji pernah meminta bantuan dari desa melalui Bumdes namun usahanya sia-sia. Bumdes beralasan anggaran desa untuk Bumdes sudah dialokasikan untuk usaha simpan pinjam. ”Pak Umar selain modal uang, dia juga bermodal berani dan saya juga begitu,” tuturnya.

Saat ini Marji sudah bisa memproduksi puluhan hingga ratusan liter minyak cengkeh yang siap dipasarkan. Sayangnya, minimnya perhatian Pemda membuatnya harus mencari pasar di luar dengan mengandalkan jaringan seadanya. ”Sekarang produksinya sudah cukup banyak dan saya lagi lobi pasar,” kata dia.

Usaha Marji ini turut menggairahkan perekonomian petani setempat. Pasalnya, ia juga membeli daun cengkeh kering dari mereka. Di tengah usaha yang ia geluti, Marji mengaku tetap akan kembali melanjutkan profesinya sebagai wartawan. ”Saya masih tetap meliput,” tandasnya.(ikh/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan