Rabu, 29 Januari 2020

 Headline
MALUT POST / / Beras Lokal Halbar Diproduksi

Beras Lokal Halbar Diproduksi

Diposting pada 06/12/2019, 14:30 WIT
PRODUKSI: Beras lokal Halmahera Barat yang sudah diproduksi. Beras ini sudah dipasarkan di sejumlah desa di Halbar, dan rencananya kedepan akan merambah pasar keluar Halbar.
PRODUKSI: Beras lokal Halmahera Barat yang sudah diproduksi. Beras ini sudah dipasarkan di sejumlah desa di Halbar, dan rencananya kedepan akan merambah pasar keluar Halbar.

JAILOLO – Target Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Barat menjadikan Halbar lumbung pangan nasional di tahun 2020 bakal terwujud. Ini karena selain perluasan areal sawah baru untuk petani, kini produksi beras lokal juga sudah mulai dilakukan dan siap merambah pasar.

    Pemilik Usaha Dagang (UD) Himalaya Lexi Kin kepada wartawan mengatakan, produksi beras lokal Halbar  saat ini sudah mulai dipasarkan di Desa Hoku-Hoku Kie, Taboso, Lolori dan Gamtala. Produksi petani yang menjanjikan ini, sangat sayang jika tidak dikelola secara profesional. Karena itu, dirinya mengambil langkah pemasaran dengan menjual beras kemasan modern serta diberi merek.”Dalam sekali panen beras yang dipasarkan melalui UD Himalaya ini bisa mencapai 30 hingga 40 ton. Beras ini saya beli untuk selanjutnya dipasarkan, karena petani membutuhkan pasar untuk menjualnya. Jadi saya berinisiatif membeli hasil panen dengan mengemas secara modern dan diberi merk,”ungkapnya.

    Lexi mengaku, dari hasil kemasan yang dilakukan siap merambah daerah lain, selain Jailolo. Jika produksi sudah terpenuhi dan ada kelebihan, maka target kedepan beras tersebut dipasarkan ke Kota Ternate dan daerah lain.”Saya berencana mendistribusikan beras Halbar keluar daerah. Seperti Kota Ternate. Tetapi sementara ini kita masih penuhi dulu permintaan di Halbar,”ucapnya. Meski hasil produski padi sudah dikemas secara modern, namun diakui masih menemukan kendala, karena sawah dikelola menggunakan sistem tanam, pembibitan, penggilingan hingga pengemasan sudah baik, tetapi sistem penjemuran masih memanfaatkan alam.”Ini yang menjadi kendala. Karena jika musim hujan tiba dan padi yang telah dipanen dibiarkan selama 5 hari maka akan membusuk,”ungkapnya.

    Karena itu, pemkab diminta memperbaiki sistem irigasi yang ada dibeberapa lokasi, karena irigasi sering tersumbat, sehingga air yang masuk di daerah persawahan membutuhkan waktu yang cukup lama.”Air tersumbat jalur, karena pohon-pohon yang tidak ditebang sehingga kalau air tidak bisa keluar melalui jaringan irigasi akan muncul hama keong. Jadi kalau mau hasilnya bagus harus ada sarana pengeringan yang baik,”ujarnya. (din/met)

Share
Berita Terkait

Jokowi Menang Telak di Desa Danny

18/04/2019, 13:04 WIT

Danyonif RK 732/Banau Berganti

07/12/2018, 12:50 WIT

Beras Lokal Halbar Diproduksi

06/12/2019, 14:30 WIT

Sehari, Empat Tewas di Jalan

12/03/2018, 12:37 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan